Ekoran tuduhan yang berlaku daripada golongan-golongan yang menyesatkan suatu gerakan lain, dikeranakan gerakan lain tersebut tidak sependapat dengannya dalam masalah furu’ (cabang), saya ingin mengetangahkan satu pembahasan tentangnya dari sudut ilmiyah. Apakah benar dakwaan mereka, yang sememangnya hanya merupakan benih kepada permusuhan, tanpa adanya argumentasi syar’e dalam mengetengahkan hujah. Bahkan, mungkin ramai di antara kaum muslimin berpendapat bahawa haram bagi lawan jenis bersalaman hatta ada yg keliru apakah hukum bagi situasi ini. Di sini, saya berusaha utk menjelaskan beberapa pendapat ulama’ berkenaan bersalaman lawan jenis yg bukan mahram dan hukum tarjih serta pendapat yg lebih arjih dlm membahaskannya….
Pembahasan hukum berjabat tangan antara lawan jenis yang bukan mahram memerlukan kajian yang kritis dan mendalam sebelum menyimpulkan, kerana terdapat cukup banyak dalil-dalil syara yang digunakan untuk membahas permasalahan ini. Akibatnya para ulama yang membahas masalah ini berbeza pendapat tentang hukumnya. Ada yang mengharamkannya dan ada pula yang mengatakan bahwa hukumnya mubah (boleh).
Dalil-Dalil, Serta Argumentasi Yang Digunakan Oleh Masing-Masing Pendapat
Dalil-dalil yang dikemukakan oleh pendapat yang mengharamkannya adalah sebagai berikut:
Pertama, beberapa riwayat dari ‘Aisyah r.a. yaitu:
Telah berkata ‘Aisyah: “Tidak pernah sekali-kali Rasulullah Saw menyentuh tangan seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. Bukhari Muslim].
Telah berkata ‘Aisyah: “Tidak! Demi Allah, tidak pernah sekali-kali tangan Rasulullah Saw menyentuh tangan wanita (asing), hanya ia ambil bai’at mereka dengan perkataan.” [HR. Bukhari Muslim].
Menurut mereka Hadits-hadits di atas dan serupa dengannya merupakan dalil yang nyata bahwa Rasulullah Saw tidak berjabat tangan dengan wanita bukan mahram (asing). Kerana itu maka hukum berjabat tangan antara lawan jenis yang bukan mahram adalah haram.
Kedua, hadits-hadits yang menunjukkan larangan ‘menyentuh wanita’ serta hadits-hadits lain yang maknanya serupa. Misalnya hadits shahih yang berbunyi:
“Ditikam seseorang dari kalian dikepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. Thabrani].
Atau hadits yang berbunyi:
“Lebih baik memegang bara api yang panas dari pada menyentuh wanita yang bukan mahram.”
Ketiga, juga di dasarkan pada sabda Rasulullah Saw yakni:
“Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR. Malik, Tirmidzi dan Nasa’i].
Sedangkan pendapat yang membolehkan dasarnya adalah riwayat yang menunjukkan bahwa tangan Rasulullah Saw bersentuhan (memegang) tangan wanita.
Pertama, diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyah r.a. yang berkata:
“Kami membai’at Rasulullah Saw, lalu Beliau membacakan kepadaku ‘Janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu’, dan melarang kami melakukan ‘nihayah’ (histeris menangis mayat), kerana itulah seorang wanita dari kami menggenggam (melepaskan) tangannya (dari berjabat tangan) lalu wanita itu berkata: ‘Seseorang (perempuan) telah membuatku bahagia dan aku ingin (terlebih dahulu) membalas jasanya’ dan ternyata Rasulullah Saw tidak berkata apa-apa. Lalu wanita itu pergi kemudian kembali lagi.” [HR. Bukhari].
Hadits ini menunjukkan bahwasanya kaum wanita telah berbai’at dengan berjabat tangan. Kata ‘qa ba dha’ dalam hadits ini memiliki arti menggenggam/melepaskan tangan. Seperti disebutkan di dalam kamus yang berarti menggenggam sesuatu, atau melepaskan (tanganya dari memegang sesuatu). (Lihat A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir, hal. 1167). Hadits ini jelas-jelas secara manthuq (tersurat) artinya ‘menarik kembali tangannya’ menunjukkan bahwa para wanita telah berbai’at dengan berjabat tangan, sebab tangan salah seorang wanita itu digenggamnya/dilepaskannya setelah ia mengulurkannya hendak berbai’at. Selain itu dari segi mafhum (tersirat) juga dipahami bahwa para wanita yang lain pada saat itu tidak menarik (menggenggam) tangannya, artinya tetap melakukan bai’at dengan tangan terhadap Rasulullah Saw. Jadi hadits ini menunjukkan secara jelas –baik dari segi manthuq (tersurat) maupun mafhum (tersirat)– bahwa Rasulullah Saw telah berjabat tangan dengan wanita pada saat bai’at (Lihat Taqiyuddin An-Nabhani, Nidzham Ijtima’i Fil Islam, hal. 57 – 58, 71 – 72).
Penjelasan ini juga sekaligus membantah yang mengatakan: “Yang dimaksud dengan genggaman tangan dalam hadits tersebut adalah ‘penerimaan yang terlambat’.” Seperti yang dikemukakan golongan yang mengharamkan jabat tangan. (Lihat Muhammad Ismail, Berjabat Tangan Dengan Perempuan, hal. 34). Sebab kata ‘genggam tangan’ dalam hadits tersebut tidak memiliki erti selain ‘berjabat tangan’. Dan tidak bisa difahami/diterima dari segi bahasa kalau diartikan ‘penerimaan yang terlambat’. Kata ‘qa ba dha’ juga sering ditemukan dalam hadits-hadits lain yang artinya menggenggam dengan tangan, misalnya, diriwayatkan oleh Abu Bakar r.a. dari Ibnu Juraij yang menceritakan, Bahwa ‘Aisyah r.a. berkata: “Suatu ketika datanglah anak perempuan saudaraku seibu dari Ayah Abdullah bin Thufail dengan berhias. Ia mengunjungiku, tapi tiba-tiba Rasulullah Saw masuk seraya membuang mukanya. Maka aku katakan kepada beliau ‘Wahai Rasul, ia adalah anak perempuan saudaraku dan masih perawan(anak dara)’.” Beliau kemudian bersabda:
“Apabila seorang wanita telah sampai usia baligh maka tidak boleh ia menampakkan anggota badanya kecuali wajahnya dan selain ini –digenggamnya pergelangan tangannya sendiri– dan dibiarkannya genggaman antara telapak tangan yang satu dengan genggaman terhadap telapak tangan yang lainnya.” [HR. Ath-Thabari dari ‘Aisyah r.a.].
Hadits yang diriwayatkan oleh Ummu ‘Athiyah r.a. ini yang dijadikan dalil oleh sebahagian ulama yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram. Namun demikian kebolehan tersebut dengan syarat tidak disertai syahwat. Kalau ada syahwat maka hukumnya haram.
Kedua, diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. yang berkata:
“Seorang wanita mengisyaratkan sebuah buku dari belakang tabir dengan tangannya kepada Nabi Saw. Beliau lalu memegang tangan itu seraya berkata, ‘Aku tidak tahu ini tangan seorang laki-laki atau tangan seorang wanita.’ Dari belakang tabir wanita itu menjawab. ‘Ini tangan seorang wanita’. Nabi bersabda, ‘Kalau engkau seorang wanita, mestinya kau robah warna kukumu (dengan inai).” [HR. Abu Daud].
Sikap Kita Dalam Menghadapi Perbezaan Tersebut
Dalam menghadpi perbezaan tersebut dan pendapat mana yang harus kita ikuti untuk kita amalkan, maka kita harus mengkaji terlebih dahulu pendapat manakah yang lebih kuat dalam hal ini. Untuk itu kita perlu mengkaji manakah dalil yang lebih kuat dari nash-nash yang seolah-olah bertentangan yang digunakan oleh kedua pendapat di atas. Kalau kita perhatikan hadit-hadits yang digunakan oleh kedua pendapat adalah hadits-hadits shahih yang harus diterima kebenarannya. Dalam mensikapi hadits-hadits yang dzahirnya seolah-olah bertentangan, menurut ilmu hadits dan ushul fiqh harus ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
Thariqatul jam’i, yakni menggabungkan dan mengkompromikan dalil-dalil yang ada. Apabila langkah ini tidak bisa dilakukan baru menempuh
Nasikh dan Mansukh, apabila tidak bisa dilakukan, ditempuh
Tarjih, yakni dengan cara meneliti dan membandingkan mana dalil yang lebih kuat. Dalam hal ini harus dilakukan secara cermat dan teliti serta harus memperhatikan kaidah-kaidah tarjih yang telah digariskan oleh para ulama. Kalau langkah ini sulit dilakukan kerana sama-sama kuat atau masih kabur baru menempuh langkah terakhir
Tawaqquf, yaitu menghentikan kajian dalam menggali hukumnya. Namun terus berusaha sampai Allah SWT membukakan persoalan tersebut untuk diketahui. (Lihat Dr. Mahmud Thahan, Taisir Musthalah Hadits, hal. 58).
Sumber : Konsultasi Islam
Thursday, March 29, 2012
Perbahasan: Hukum Bersalaman Di Antara Lelaki & Wanita Yang Bukan Mahram (Part 2 Final)
Perbahasan: Hukum Bersalaman Di Antara Lelaki & Wanita Yang Bukan Mahram (Part 2 Final)
Posted by thinker on 23/03/2009
robot-salam
Pendapat Yang Rajih (Kuat)
Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya mubah. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Hadits yang sering digunakan oleh golongan yang berpendapat haramnya berjabat tangan dengan bukan mahram adalah hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. Sedangkan golongan yang mengatakan mubah adalah berdasarkan riwayat Ummu ‘Athiyah r.a. Untuk mentarjihnya kita perlu memperhatikan kaidah tarjih dalam ilmu hadits yang telah dijelaskan para ulama bahwa:
“Rawi yang mengetahui secara langsung kedudukannya lebih kuat dari pada Rawi yang mengetahui tidak secara langsung.”
Dari hadits-hadits diatas, maka hadits yang diriwayatkan oleh Ummu ‘Athiyah r.a. lebih kuat, sebab beliau melihat dan mengetahui secara langsung perbuatan Rasulullah Saw yang berjabat tangan dengan wanita bukan mahram pada saat berbai’at. Bahkan Ummu ‘Athiyah r.a. sendiri berjabat tangan dengan Rasulullah Saw seperti apa yang tersirat dari hadits yang diriwayatkannya. Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. isinya merupakan pendapat beliau yang menggambarkan tahap keilmuan beliau. Bahwa selama beliau (‘Aisyah r.a.) bergaul dengan Rasulullah Saw, beliau tidak pernah melihat Rasulullah Saw berjabat tangan dengan wanita bukan mahram. Jadi secara tidak langsung ‘Aisyah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah berjabat tangan dengan wanita bukan mahram.
2. Memang benar ‘Aisyah r.a. tidak pernah melihat Rasulullah Saw berjabat tangan wanita bukan mahram. Tetapi tidak bisa langsung disimpulkan bahwa Rasulullah Saw mengharamkan berjabat tangan dengan bukan mahram. Sebab apa yang dikatakan ‘Aisyah hanya menjelaskan tentang ketiadaan perbuatan Rasul –dalam hal ini berjabat tangan – yang diketahui ‘Aisyah, dan tidak menunjukkan larangan berjabat tangan dengan bukan mahram. Perlu diketahui bahwa kehidupan Rasulullah sehari-hari tidak selamanya didampingi ‘Aisyah r.a., bahkan kehidupan Rasulullah Saw bersama ‘Aisyah r.a. lebih sedikit dibandingkan dengan kehidupan Rasulullah Saw di luar rumah (berdakwah tanpa disertai ‘Aisyah r.a.). Sehingga kalau ‘Aisyah r.a. tidak pernah melihat Rasulullah Saw berjabat tangan dengan wanita bukan mahram, tidak boleh langsung disimpulkan haram berjabat tangan dengan bukan mahram. Sebab pada keadaan lain ada yang melihat dan mengetahui (Ummu ‘Athiyah r.a.) Rasulullah Saw berjabat tangan dengan wanita bukan mahram. Oleh kerana itu hadits riwayat Ummu ‘Athiyah r.a. lebih rajih (kuat) untuk dijadikan dalil dan dapat diambil serta menentukan bolehnya berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram.
3. Hadits-hadits yang menunjukkan larangan ‘menyentuh wanita’ serta hadits-hadits lain yang maknanya serupa. Misalnya hadits shahih yang berbunyi:
“Ditikam seseorang dari kalian dikepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. Thabrani].
Atau hadits yang berbunyi:
“Lebih baik memegang bara api yang panas dari pada menyentuh wanita yang bukan mahram.”
Menurut golongan yang membolehkan berjabat tangan, menjelaskan bahwa kata ‘massa’ yang artinya ‘menyentuh’ dalam hadits tersebut adalah lafadz musytarak (memiliki makna ganda) yakni bisa berarti ‘menyentuh dengan tangan’ atau ‘bersetubuh’. Selain itu pengertian ‘menyentuh’ juga sering digunakan kata ‘lamasa’ yang juga memiliki makna ganda, yakni bisa bererti ‘menyentuh dengan tangan’ atau ‘bersetubuh’. Ayat-ayat al-Qur’an dan as-Sunnah dalam menjelaskan menyentuh dengan tangan sering menggunakan kata ‘lamasa’. Hal ini bisa dilihat dalam firman Allah SWT:
“… atau kamu telah menyentuh wanita…” (Qs. an-Nisaa’ [4]: 43).
Juga firman Allah SWT:
“… atau kamu telah menyentuh wanita…” (Qs. al-Maa’idah [5]: 6).
“Dan kalau kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri…” (Qs. al-An’aam [6]: 7).
Arti kata ‘lamasa’ menurut bahasa Arab sendiri adalah ‘menyentuh dengan tangan’. Di dalam kamus Al Muhith, juz II, hal. 249, arti ‘lamasa’ adalah ‘al jassu bil yadi’ (menyentuh dengan tangan).
Dalam kedua ayat pertama, kalimatnya berbentuk umum untuk seluruh kaum wanita, yaitu bersentuhan dengan wanita membatalkan wudhu dan hal ini menunjukkan bahwa hukumnya terbatas pada batalnya wudhu kerana menyentuh wanita. (Lihat Taqiyuddin An-Nabhani, Nidzham Ijtima’i Fil Islam, hal. 58). Sedangkan dalam ayat ketiga memperjelas bahwa yang dimaksud menyentuh adalah memegang dengan tangan.
Didalam hadits-hadits pun terdapat kata ‘lamasa’ yang artinya menyentuh dengan tangan. Diriwayatkan:
Telah berkata Ibnu ‘Abbas: “Tatkala Ma’iz bin Malik datang kepada Nabi Saw (mengaku berzina), bersabdalah Rasulullah Saw: ‘Barangkali engkau hanya mencium atau menyentuh atau melihat saja?’ Jawab dia, ‘Tidak! Ya Rasulullah.’ Berkata (Ibnu ‘Abbas), ‘Maka sesudah itu beliau memerintahkan agar dia itu dirajam’.” [HSR. Al-Ismailiy]. (Lihat A. Hassan, Soal-Jawab, hal. 53 – 55).
Juga diriwayatkan:
“Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah Saw melarang jual-beli dengan cara ‘mulamasah’ dan ‘munabadzah’.” [HR. Bukhari Muslim ].
Jual beli secara ‘mulamasah’ iaitu: Jika seorang pembeli berkata, apabila engkau menyentuh kainku dan aku menyentuh kainmu, maka terjadilah jual-beli. (Lihat kitab hadits Lu’lu wal Marjan, juz II, hal. 150).
4. Kata ‘massa’ merupakan lafadz musytarak, sehingga dalam sebuah ayat dan beberapa riwayat berarti “menyentuh dengan tangan”. Yakni di dalam firman Allah SWT:
“Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (Qs. al-Waaqi’ah [56]: 78).
Juga dalam riwayat:
“Dan dari Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm dari ayahnya, dari datuknya, bahwa Nabi Saw pernah mengirim surat kepada penduduk Yaman, yang (di dalamnya): ‘Tidak boleh menyentuh Qur’an melainkan orang yang suci’.” [HR. Al-Atsram dan Daraquthni]. Hadits yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa.
Tetapi, hadits-hadits yang diggunakan sebagai dalil oleh golongan yang mengharamkan ‘menyentuh wanita’ menggunakan kata ‘massa’ yang lebih tepat diartikan ‘bersetubuh’ bukan ‘menyentuh dengan tangan’. Kata-kata ‘massa’ dengan arti ‘bersetubuh’ lebih banyak ditemukan dalam ayat-ayat al-Qur’an. Misalnya firman Allah SWT:
“Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka…” (Qs. al-Baqarah [2]: 236).
“Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu sentuh (setubuh) mereka, padahal…” (Qs. al-Baqarah [2]: 237).
Juga firman-Nya:
“Maryam berkata: ‘Bagaimana aku bisa mempunyai anak laki-laki sedangkan tidak pernah seorang manusiapun yang menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina’.” (Qs. Maryam [19]: 20).
“…kemudian kamu ceraikan mereka sebelum sentuh (setubuh) mereka…” (Qs. al-Ahzab [33]: 49).
Dan masih banyak ayat lain yang menggunakan kata ‘massa’ untuk makna ‘bersetubuh’ bukan arti menyentuh secara bahasa.
Juga di dalam beberapa hadits menunjukkan bahwa kata ‘massa’ memiliki arti ‘bersetubuh’. Rasulullah Saw bersabda:
“Apabila kemaluan menyentuh kemaluan (bersetubuh), maka wajiblah mandi.” [HR. Muslim].
5. Walaupun kata ‘massa’ dapat diartikan dengan ‘menyentuh dengan tangan’ tetapi dalam hadits-hadits yang digunakan oleh golongan yang mengharamkan jabat tangan dengan wanita bukan mahram, ini lebih tepat jika diertikan dengan ‘bersetubuh’. Sebab jika di artikan dengan ‘menyentuh dengan tangan’ maka pengertian ini bertentangan dengan hadits shahih yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyah r.a. dimana tangan Rasulullah Saw yang mulia telah menyentuh (berjabat tangan) dengan wanita yang bukan mahram. Juga riwayat lain yang menjelaskan dimana Rasulullah Saw pernah memegang tangan wanita seperti diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. yang berkata:
“Seorang wanita mengisyaratkan sebuah buku dari belakang tabir dengan tangannya kepada Nabi Saw. Beliau lalu memegang tangan itu seraya berkata, ‘Aku tidak tahu ini tangan seorang lelaki atau tangan seorang wanita.’ Dari belakang tabir wanita itu menjawab. ‘Ini tangan seorang wanita’. Nabi bersabda, ‘Kalau engkau seorang wanita, mestinya kau robah warna kukumu (dengan inai).” [HR. Abu Daud].
Selain itu Rasulullah Saw pernah berjabat tangan di dalam air, dalam benjana pada saat membai’at wanita, pernah juga Rasulullah Saw berjabat tangan dengan alas kain. Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah menyuruh Umar bin Khaththab r.a untuk mewakili beliau dalam bai’at dan bai’at ini dilakukan dengan berjabat tangan. Kalau memang berjabat tangan (menyentuh) dengan wanita diharamkan, tentunya Rasulullah Saw tidak akan melaksanakannya baik secara langsung maupun dengan perantara apapun. Juga tidak mungkin Rasulullah Saw memerintahkan Umar bin Khaththab r.a. melakukan jabat tangan (menyentuh) dengan wanita yang bukan mahram, sebab hal tersebut adalah perbuatan yang haram. Akan tetapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya.
Juga kalau memang berjabat tangan (bersentuhan) antara lawan jenis yang bukan mahram itu diharamkan, tentunya Daulah Khilafah (negara Khilafah) tidak akan membiarkan kondisi-kondisi atau keadaan yang sangat memungkinkan terjadi persentuhan. Bahkan Daulah akan memberikan sanksi/hukuman bagi yang melakukannya. Ternyata tidak ada satu riwayatpun yang menyatakan bahwa Daulah pernah melakukannya. Dan bahkan Daulah tidak pernah memisahkan antara jama’ah haji lelaki dan wanita, juga antara lelaki dan wanita di pasar walaupun kondisi tersebut akan menyebabkan terjadinya bersentuhannya lelaki dan wanita yang bukan mahram.
Jadi dapat kita simpulkan bahwa dimaksud dengan kata ‘menyentuh’ pada hadits-hadits yang digunakan oleh pendapat yang mengharamkan berjabat tangan dengan wanita bukan mahram adalah ‘bersetubuh’ bukan menyentuh secara bahasa (berjabat tangan).
6. Pendapat yang mengharamkan berjabat tangan antara lelaki dan wanita bukan mahram juga di dasarkan pada sabda Rasulullah Saw:
“Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR. Malik, Tirmidzi dan Nasa’i].
Hadits di atas serta hadits-hadits lain yang serupa sering dijadikan dalil untuk mengharamkan berjabat tangan dengan bukan mahram.
Pendapat ini adalah lemah, sebab perkataan Rasulullah Saw, “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” tidak menunjukkan larangan berjabat tangan, tetapi hanyalah mencegah dari perbuatan mubah. Hukum mubah ini di dasarkan pada hadits shahih yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyah. Kerana hukumnya mubah, maka terserah saja bagi Rasulullah Saw dan bagi kaum muslimin lainnya apakah berjabat tangan (Lihat riwayat Ummu ‘Athiyah dan Ath-Thabrai dari ‘Aisyah r.a.) atau meninggalkan berjabat tangan (seperti hadits riwayat Malik, Tirmidzi dan Nasa’i).
Khatimah
Dari tarjih kedua pendapat diatas menunjukkan bahwa pendapat yang mengharamkan berjabat tangan dengan bukan mahram adalah lemah jika dibandingkan dengan pendapat yang membolehkannya. Kerana hukumnya mubah maka dibolehkan bagi kaum muslimin untuk berjabat tangan dengan bukan mahram baik secara langsung ataupun dengan pembatas, juga dibolehkan untuk tidak berjabat tangan.
Pendapat yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram mensyaratkan harus tanpa syahwat. Kalau ada syahwat maka hukumnya haram. Kerana itu para ulama yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram mengingatkan kerana antara syahwat dan tidak itu sangat samar, maka haruslah kita berhati-hati pada saat berjabat tangan. Terutama sekali kalau yang berjabat tangan adalah lelaki dan wanita muda yang sebaya, sebab sangat mungkin menimbulkan syahwat atau menimbulkan fitnah. Kalau tidak khawatir timbul fitnah maka tidak apa-apa berjabat tangan dengan bukan mahram. Misalnya dengan orang-orang yang sudah tua atau dengan anak-anak kecil.
Golongan yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram, bukanlah kerana mereka senang berjabat tangan dengan bukan mahram. Tetapi kerana mereka tidak berani untuk mengharamkan sesuatu yang secara jelas Allah SWT telah membolehkannya lewat perbuatan RasulNya. Sebab termasuk dosa besar kalau ada orang yang berani mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah SWT atau menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. Sebab Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya orang yang mengharamkan sesuatu yang halal sama dengan orang yang menghalalkan sesuatu yang haram.” [HR. As-Sihab].
Perlu diingat bahwa sesuatu yang mubah tidak harus selalu dilakukan. Sebab kalau itu tidak berguna dan dapat menimbulkan fitnah lebih baik dihindarkan.
Bagi mereka yang mengikuti pendapat yang mengharamkan setelah sampai penjelasan yang meyakinkan, maka haramlah hukumnya bagi mereka untuk berjabat tangan dan atau menyentuh dengan tangannya siapapun yang bukan mahramnya, baik bukan mahramnya tersebut anak kecil, remaja, dewasa ataupun orang yang sudah tua sekalipun. Sebab mereka semua adalah bukan mahram, yang haram untuk berjabat tangan dan bersentuhan dengannya. Sedangkan bagi mereka yang mengikuti pendapat yang membolehkan setelah sampai penjelasan yang meyakinkan, maka mubahlah hukumnya bagi mereka. Allah SWT akan meminta pertanggung-jawaban atas perbuatannya berdasarkan pendapat yang terkuat yang telah ia ikuti. Walaupun berbeza pendapat kaum muslimin tetap bersaudara. Tidak boleh hanya kerana perbezaan pendapat yang masih dibolehkan tersebut, sesama muslim saling menfitnah dan memburuk-burukkan orang yang berbeza dengan mereka. Yang jelas kita wajib mengikuti pendapat yang terkuat tanpa dicampuri adanya perasaan suka atau tidak suka.
Wallahu a’lam.
Sumber : Konsultasi Islam
Jawapan Balasan :
16/07/2009 at 2:18 am
Assalamualaykum WarohmatULLOH,
Akhi yang dirahmati ALLOH, semoga Hidayah dan Rahmat senantiasa dilimpahkan kepada kita berdua dan umat Nabi Muhammad SalALLAHU alaihi wassallam.
ana mau tanya ttg hadits Ummu ‘Athiyah r.a. siapakah yang meriwayatkan hadits tersebut, dan bagaimana derajatnya??
lalu pendapat ulama siapa yang menyatakan bersalaman itu mubah dengan wanita yang bukan mahromnya??
bagaimana dengan perkataan imam Ahmad bin Hambal kepada istrinya, “sesungguhnya engkau adalah istri yang baik, tapi aku cemburu ketika tamuku mendengar suara sendalmu dari dalam kamar”?
Ketika imam Hasan Al Basri ditanya istrinya ketika pulang dari ceramah di Idul Adha,”Berapa banyak wanita yang engkau lihat??dan Imam pun menjawab Demi ALLOH semenjak dari rumah , sampai kembali kerumah ini yang aku lihat hanyalah kedua jempol kaki ku ini.”
dan banyak lagi atsar2 ulama terdahulu yang jika anta baca,melihat saja mereka takut apalagi menyentuh, insya ALLOH akan fahamlah kita akan hukum bersentuhan dengan wanita.
Memang kata bersentuhan didalam Fiqh dapat bermakna dua, ada yang mengartikan menyentuh biasa ada yang mengartikan berzina.
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit [403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh [404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
(Al-Maidah:6)
[404] Artinya: menyentuh. Menurut jumhur ialah: “menyentuh” sedang sebagian mufassirin ialah: “menyetubuhi”.karena ada riwayat dari sahabat yang menyatakan menyentuh disini adalah bersetubuh.
Seandainya massa yang dimaksudkan adalah berzina, mengapa Rosul SalALLAHU alaihi wassallam tidak mengatakan berzina saja tapi menyentuh?karena jelas Berzina itu adalah dosa besar.
berikut ana sampaikan artikel dari ulama terkini, semoga bermandaat.
Larangan Berjabat Tangan dengan Wanita yang Bukan Mahram
Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali
Friday, 06 February 2009
Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Lebih baik kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya,” (Hasan, HR ath-Thabrani dalam al-Kabir (174).
Diriwayatkan dari Umaimah binti Ruqaiqah r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku tidak akan menjabat tangan wanita. Sesungguhnya ucapanku untuk seratus wanita sama seperti ucapanku untuk satu orang wanita (yakni dalam membaiat mereka),” (Shahih, HR Malik [II/982], at-Tirmidzi [1597], Ibnu Majah [2874] dan Ibnu Hibban [4553]).
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru r.a, bahwasanya Rasulullah saw. tidak pernah menjabat tangan wanita ketika mengambil baiat wanita (dari para wanita),” (Shahih lighairihi, HR Ahmad [II/213]) dan al-Humaidi [368]).
Diriwayatkan dari Aisyah r.a, ia berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah saw. tidak pernah menyentuh tangan wanita ketika membaiat. Beliau membaiat mereka hanya dengan ucapan, “Aku telah membaiatmu untuk ini dan ini,” (HR Bukhari [4891]).
Kandungan Bab:
Haram hukumnya menyentuh wanita yang tidak halal bagi seorang laki-laki. Tidak diragukan lagi ancaman yang berat tersebut menunjukkan pengharamannya.
Haram hukumnya berjabat tangan dengan wanita (yang bukan mahram) karena termasuk menyentuh. Telah diriwayatkan secara shahih bahwa Rasulullah saw. tidak pernah menjabat tangan wanita dalam membaiat apalagi ketika bertemu.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. menjabat tangan wanita dengan alas tangan. Namun riwayat-riwayat tersebut adalah riwayat mursal yang tidak bisa dijadikan hujjah, apalagi riwayat tersebut bertentangan dengan hadits yang shahih dan jelas dari perkataan dan perbuatan Rasulullah.
Jumhur kaum muslimin telah jatuh dalam kemungkinan ini, khususnya setelah mereka melihat sebagian orang yang memakai sorban melakukan hal tersebut. Dan muncul pula sebagian kelompok yang mengajak kepadanya dan mewajibkan kepada pengikutnya untuk melakukannya.
Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 3/58-59.
Posted by thinker on 23/03/2009
robot-salam
Pendapat Yang Rajih (Kuat)
Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya mubah. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Hadits yang sering digunakan oleh golongan yang berpendapat haramnya berjabat tangan dengan bukan mahram adalah hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. Sedangkan golongan yang mengatakan mubah adalah berdasarkan riwayat Ummu ‘Athiyah r.a. Untuk mentarjihnya kita perlu memperhatikan kaidah tarjih dalam ilmu hadits yang telah dijelaskan para ulama bahwa:
“Rawi yang mengetahui secara langsung kedudukannya lebih kuat dari pada Rawi yang mengetahui tidak secara langsung.”
Dari hadits-hadits diatas, maka hadits yang diriwayatkan oleh Ummu ‘Athiyah r.a. lebih kuat, sebab beliau melihat dan mengetahui secara langsung perbuatan Rasulullah Saw yang berjabat tangan dengan wanita bukan mahram pada saat berbai’at. Bahkan Ummu ‘Athiyah r.a. sendiri berjabat tangan dengan Rasulullah Saw seperti apa yang tersirat dari hadits yang diriwayatkannya. Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. isinya merupakan pendapat beliau yang menggambarkan tahap keilmuan beliau. Bahwa selama beliau (‘Aisyah r.a.) bergaul dengan Rasulullah Saw, beliau tidak pernah melihat Rasulullah Saw berjabat tangan dengan wanita bukan mahram. Jadi secara tidak langsung ‘Aisyah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah berjabat tangan dengan wanita bukan mahram.
2. Memang benar ‘Aisyah r.a. tidak pernah melihat Rasulullah Saw berjabat tangan wanita bukan mahram. Tetapi tidak bisa langsung disimpulkan bahwa Rasulullah Saw mengharamkan berjabat tangan dengan bukan mahram. Sebab apa yang dikatakan ‘Aisyah hanya menjelaskan tentang ketiadaan perbuatan Rasul –dalam hal ini berjabat tangan – yang diketahui ‘Aisyah, dan tidak menunjukkan larangan berjabat tangan dengan bukan mahram. Perlu diketahui bahwa kehidupan Rasulullah sehari-hari tidak selamanya didampingi ‘Aisyah r.a., bahkan kehidupan Rasulullah Saw bersama ‘Aisyah r.a. lebih sedikit dibandingkan dengan kehidupan Rasulullah Saw di luar rumah (berdakwah tanpa disertai ‘Aisyah r.a.). Sehingga kalau ‘Aisyah r.a. tidak pernah melihat Rasulullah Saw berjabat tangan dengan wanita bukan mahram, tidak boleh langsung disimpulkan haram berjabat tangan dengan bukan mahram. Sebab pada keadaan lain ada yang melihat dan mengetahui (Ummu ‘Athiyah r.a.) Rasulullah Saw berjabat tangan dengan wanita bukan mahram. Oleh kerana itu hadits riwayat Ummu ‘Athiyah r.a. lebih rajih (kuat) untuk dijadikan dalil dan dapat diambil serta menentukan bolehnya berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram.
3. Hadits-hadits yang menunjukkan larangan ‘menyentuh wanita’ serta hadits-hadits lain yang maknanya serupa. Misalnya hadits shahih yang berbunyi:
“Ditikam seseorang dari kalian dikepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. Thabrani].
Atau hadits yang berbunyi:
“Lebih baik memegang bara api yang panas dari pada menyentuh wanita yang bukan mahram.”
Menurut golongan yang membolehkan berjabat tangan, menjelaskan bahwa kata ‘massa’ yang artinya ‘menyentuh’ dalam hadits tersebut adalah lafadz musytarak (memiliki makna ganda) yakni bisa berarti ‘menyentuh dengan tangan’ atau ‘bersetubuh’. Selain itu pengertian ‘menyentuh’ juga sering digunakan kata ‘lamasa’ yang juga memiliki makna ganda, yakni bisa bererti ‘menyentuh dengan tangan’ atau ‘bersetubuh’. Ayat-ayat al-Qur’an dan as-Sunnah dalam menjelaskan menyentuh dengan tangan sering menggunakan kata ‘lamasa’. Hal ini bisa dilihat dalam firman Allah SWT:
“… atau kamu telah menyentuh wanita…” (Qs. an-Nisaa’ [4]: 43).
Juga firman Allah SWT:
“… atau kamu telah menyentuh wanita…” (Qs. al-Maa’idah [5]: 6).
“Dan kalau kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri…” (Qs. al-An’aam [6]: 7).
Arti kata ‘lamasa’ menurut bahasa Arab sendiri adalah ‘menyentuh dengan tangan’. Di dalam kamus Al Muhith, juz II, hal. 249, arti ‘lamasa’ adalah ‘al jassu bil yadi’ (menyentuh dengan tangan).
Dalam kedua ayat pertama, kalimatnya berbentuk umum untuk seluruh kaum wanita, yaitu bersentuhan dengan wanita membatalkan wudhu dan hal ini menunjukkan bahwa hukumnya terbatas pada batalnya wudhu kerana menyentuh wanita. (Lihat Taqiyuddin An-Nabhani, Nidzham Ijtima’i Fil Islam, hal. 58). Sedangkan dalam ayat ketiga memperjelas bahwa yang dimaksud menyentuh adalah memegang dengan tangan.
Didalam hadits-hadits pun terdapat kata ‘lamasa’ yang artinya menyentuh dengan tangan. Diriwayatkan:
Telah berkata Ibnu ‘Abbas: “Tatkala Ma’iz bin Malik datang kepada Nabi Saw (mengaku berzina), bersabdalah Rasulullah Saw: ‘Barangkali engkau hanya mencium atau menyentuh atau melihat saja?’ Jawab dia, ‘Tidak! Ya Rasulullah.’ Berkata (Ibnu ‘Abbas), ‘Maka sesudah itu beliau memerintahkan agar dia itu dirajam’.” [HSR. Al-Ismailiy]. (Lihat A. Hassan, Soal-Jawab, hal. 53 – 55).
Juga diriwayatkan:
“Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah Saw melarang jual-beli dengan cara ‘mulamasah’ dan ‘munabadzah’.” [HR. Bukhari Muslim ].
Jual beli secara ‘mulamasah’ iaitu: Jika seorang pembeli berkata, apabila engkau menyentuh kainku dan aku menyentuh kainmu, maka terjadilah jual-beli. (Lihat kitab hadits Lu’lu wal Marjan, juz II, hal. 150).
4. Kata ‘massa’ merupakan lafadz musytarak, sehingga dalam sebuah ayat dan beberapa riwayat berarti “menyentuh dengan tangan”. Yakni di dalam firman Allah SWT:
“Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (Qs. al-Waaqi’ah [56]: 78).
Juga dalam riwayat:
“Dan dari Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm dari ayahnya, dari datuknya, bahwa Nabi Saw pernah mengirim surat kepada penduduk Yaman, yang (di dalamnya): ‘Tidak boleh menyentuh Qur’an melainkan orang yang suci’.” [HR. Al-Atsram dan Daraquthni]. Hadits yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa.
Tetapi, hadits-hadits yang diggunakan sebagai dalil oleh golongan yang mengharamkan ‘menyentuh wanita’ menggunakan kata ‘massa’ yang lebih tepat diartikan ‘bersetubuh’ bukan ‘menyentuh dengan tangan’. Kata-kata ‘massa’ dengan arti ‘bersetubuh’ lebih banyak ditemukan dalam ayat-ayat al-Qur’an. Misalnya firman Allah SWT:
“Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka…” (Qs. al-Baqarah [2]: 236).
“Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu sentuh (setubuh) mereka, padahal…” (Qs. al-Baqarah [2]: 237).
Juga firman-Nya:
“Maryam berkata: ‘Bagaimana aku bisa mempunyai anak laki-laki sedangkan tidak pernah seorang manusiapun yang menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina’.” (Qs. Maryam [19]: 20).
“…kemudian kamu ceraikan mereka sebelum sentuh (setubuh) mereka…” (Qs. al-Ahzab [33]: 49).
Dan masih banyak ayat lain yang menggunakan kata ‘massa’ untuk makna ‘bersetubuh’ bukan arti menyentuh secara bahasa.
Juga di dalam beberapa hadits menunjukkan bahwa kata ‘massa’ memiliki arti ‘bersetubuh’. Rasulullah Saw bersabda:
“Apabila kemaluan menyentuh kemaluan (bersetubuh), maka wajiblah mandi.” [HR. Muslim].
5. Walaupun kata ‘massa’ dapat diartikan dengan ‘menyentuh dengan tangan’ tetapi dalam hadits-hadits yang digunakan oleh golongan yang mengharamkan jabat tangan dengan wanita bukan mahram, ini lebih tepat jika diertikan dengan ‘bersetubuh’. Sebab jika di artikan dengan ‘menyentuh dengan tangan’ maka pengertian ini bertentangan dengan hadits shahih yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyah r.a. dimana tangan Rasulullah Saw yang mulia telah menyentuh (berjabat tangan) dengan wanita yang bukan mahram. Juga riwayat lain yang menjelaskan dimana Rasulullah Saw pernah memegang tangan wanita seperti diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. yang berkata:
“Seorang wanita mengisyaratkan sebuah buku dari belakang tabir dengan tangannya kepada Nabi Saw. Beliau lalu memegang tangan itu seraya berkata, ‘Aku tidak tahu ini tangan seorang lelaki atau tangan seorang wanita.’ Dari belakang tabir wanita itu menjawab. ‘Ini tangan seorang wanita’. Nabi bersabda, ‘Kalau engkau seorang wanita, mestinya kau robah warna kukumu (dengan inai).” [HR. Abu Daud].
Selain itu Rasulullah Saw pernah berjabat tangan di dalam air, dalam benjana pada saat membai’at wanita, pernah juga Rasulullah Saw berjabat tangan dengan alas kain. Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah menyuruh Umar bin Khaththab r.a untuk mewakili beliau dalam bai’at dan bai’at ini dilakukan dengan berjabat tangan. Kalau memang berjabat tangan (menyentuh) dengan wanita diharamkan, tentunya Rasulullah Saw tidak akan melaksanakannya baik secara langsung maupun dengan perantara apapun. Juga tidak mungkin Rasulullah Saw memerintahkan Umar bin Khaththab r.a. melakukan jabat tangan (menyentuh) dengan wanita yang bukan mahram, sebab hal tersebut adalah perbuatan yang haram. Akan tetapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya.
Juga kalau memang berjabat tangan (bersentuhan) antara lawan jenis yang bukan mahram itu diharamkan, tentunya Daulah Khilafah (negara Khilafah) tidak akan membiarkan kondisi-kondisi atau keadaan yang sangat memungkinkan terjadi persentuhan. Bahkan Daulah akan memberikan sanksi/hukuman bagi yang melakukannya. Ternyata tidak ada satu riwayatpun yang menyatakan bahwa Daulah pernah melakukannya. Dan bahkan Daulah tidak pernah memisahkan antara jama’ah haji lelaki dan wanita, juga antara lelaki dan wanita di pasar walaupun kondisi tersebut akan menyebabkan terjadinya bersentuhannya lelaki dan wanita yang bukan mahram.
Jadi dapat kita simpulkan bahwa dimaksud dengan kata ‘menyentuh’ pada hadits-hadits yang digunakan oleh pendapat yang mengharamkan berjabat tangan dengan wanita bukan mahram adalah ‘bersetubuh’ bukan menyentuh secara bahasa (berjabat tangan).
6. Pendapat yang mengharamkan berjabat tangan antara lelaki dan wanita bukan mahram juga di dasarkan pada sabda Rasulullah Saw:
“Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR. Malik, Tirmidzi dan Nasa’i].
Hadits di atas serta hadits-hadits lain yang serupa sering dijadikan dalil untuk mengharamkan berjabat tangan dengan bukan mahram.
Pendapat ini adalah lemah, sebab perkataan Rasulullah Saw, “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” tidak menunjukkan larangan berjabat tangan, tetapi hanyalah mencegah dari perbuatan mubah. Hukum mubah ini di dasarkan pada hadits shahih yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyah. Kerana hukumnya mubah, maka terserah saja bagi Rasulullah Saw dan bagi kaum muslimin lainnya apakah berjabat tangan (Lihat riwayat Ummu ‘Athiyah dan Ath-Thabrai dari ‘Aisyah r.a.) atau meninggalkan berjabat tangan (seperti hadits riwayat Malik, Tirmidzi dan Nasa’i).
Khatimah
Dari tarjih kedua pendapat diatas menunjukkan bahwa pendapat yang mengharamkan berjabat tangan dengan bukan mahram adalah lemah jika dibandingkan dengan pendapat yang membolehkannya. Kerana hukumnya mubah maka dibolehkan bagi kaum muslimin untuk berjabat tangan dengan bukan mahram baik secara langsung ataupun dengan pembatas, juga dibolehkan untuk tidak berjabat tangan.
Pendapat yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram mensyaratkan harus tanpa syahwat. Kalau ada syahwat maka hukumnya haram. Kerana itu para ulama yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram mengingatkan kerana antara syahwat dan tidak itu sangat samar, maka haruslah kita berhati-hati pada saat berjabat tangan. Terutama sekali kalau yang berjabat tangan adalah lelaki dan wanita muda yang sebaya, sebab sangat mungkin menimbulkan syahwat atau menimbulkan fitnah. Kalau tidak khawatir timbul fitnah maka tidak apa-apa berjabat tangan dengan bukan mahram. Misalnya dengan orang-orang yang sudah tua atau dengan anak-anak kecil.
Golongan yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram, bukanlah kerana mereka senang berjabat tangan dengan bukan mahram. Tetapi kerana mereka tidak berani untuk mengharamkan sesuatu yang secara jelas Allah SWT telah membolehkannya lewat perbuatan RasulNya. Sebab termasuk dosa besar kalau ada orang yang berani mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah SWT atau menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. Sebab Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya orang yang mengharamkan sesuatu yang halal sama dengan orang yang menghalalkan sesuatu yang haram.” [HR. As-Sihab].
Perlu diingat bahwa sesuatu yang mubah tidak harus selalu dilakukan. Sebab kalau itu tidak berguna dan dapat menimbulkan fitnah lebih baik dihindarkan.
Bagi mereka yang mengikuti pendapat yang mengharamkan setelah sampai penjelasan yang meyakinkan, maka haramlah hukumnya bagi mereka untuk berjabat tangan dan atau menyentuh dengan tangannya siapapun yang bukan mahramnya, baik bukan mahramnya tersebut anak kecil, remaja, dewasa ataupun orang yang sudah tua sekalipun. Sebab mereka semua adalah bukan mahram, yang haram untuk berjabat tangan dan bersentuhan dengannya. Sedangkan bagi mereka yang mengikuti pendapat yang membolehkan setelah sampai penjelasan yang meyakinkan, maka mubahlah hukumnya bagi mereka. Allah SWT akan meminta pertanggung-jawaban atas perbuatannya berdasarkan pendapat yang terkuat yang telah ia ikuti. Walaupun berbeza pendapat kaum muslimin tetap bersaudara. Tidak boleh hanya kerana perbezaan pendapat yang masih dibolehkan tersebut, sesama muslim saling menfitnah dan memburuk-burukkan orang yang berbeza dengan mereka. Yang jelas kita wajib mengikuti pendapat yang terkuat tanpa dicampuri adanya perasaan suka atau tidak suka.
Wallahu a’lam.
Sumber : Konsultasi Islam
Jawapan Balasan :
Abu Adam Divo Alfadani said
16/07/2009 at 2:18 am
Assalamualaykum WarohmatULLOH,
Akhi yang dirahmati ALLOH, semoga Hidayah dan Rahmat senantiasa dilimpahkan kepada kita berdua dan umat Nabi Muhammad SalALLAHU alaihi wassallam.
ana mau tanya ttg hadits Ummu ‘Athiyah r.a. siapakah yang meriwayatkan hadits tersebut, dan bagaimana derajatnya??
lalu pendapat ulama siapa yang menyatakan bersalaman itu mubah dengan wanita yang bukan mahromnya??
bagaimana dengan perkataan imam Ahmad bin Hambal kepada istrinya, “sesungguhnya engkau adalah istri yang baik, tapi aku cemburu ketika tamuku mendengar suara sendalmu dari dalam kamar”?
Ketika imam Hasan Al Basri ditanya istrinya ketika pulang dari ceramah di Idul Adha,”Berapa banyak wanita yang engkau lihat??dan Imam pun menjawab Demi ALLOH semenjak dari rumah , sampai kembali kerumah ini yang aku lihat hanyalah kedua jempol kaki ku ini.”
dan banyak lagi atsar2 ulama terdahulu yang jika anta baca,melihat saja mereka takut apalagi menyentuh, insya ALLOH akan fahamlah kita akan hukum bersentuhan dengan wanita.
Memang kata bersentuhan didalam Fiqh dapat bermakna dua, ada yang mengartikan menyentuh biasa ada yang mengartikan berzina.
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit [403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh [404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
(Al-Maidah:6)
[404] Artinya: menyentuh. Menurut jumhur ialah: “menyentuh” sedang sebagian mufassirin ialah: “menyetubuhi”.karena ada riwayat dari sahabat yang menyatakan menyentuh disini adalah bersetubuh.
Seandainya massa yang dimaksudkan adalah berzina, mengapa Rosul SalALLAHU alaihi wassallam tidak mengatakan berzina saja tapi menyentuh?karena jelas Berzina itu adalah dosa besar.
berikut ana sampaikan artikel dari ulama terkini, semoga bermandaat.
Larangan Berjabat Tangan dengan Wanita yang Bukan Mahram
Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali
Friday, 06 February 2009
Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Lebih baik kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya,” (Hasan, HR ath-Thabrani dalam al-Kabir (174).
Diriwayatkan dari Umaimah binti Ruqaiqah r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku tidak akan menjabat tangan wanita. Sesungguhnya ucapanku untuk seratus wanita sama seperti ucapanku untuk satu orang wanita (yakni dalam membaiat mereka),” (Shahih, HR Malik [II/982], at-Tirmidzi [1597], Ibnu Majah [2874] dan Ibnu Hibban [4553]).
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru r.a, bahwasanya Rasulullah saw. tidak pernah menjabat tangan wanita ketika mengambil baiat wanita (dari para wanita),” (Shahih lighairihi, HR Ahmad [II/213]) dan al-Humaidi [368]).
Diriwayatkan dari Aisyah r.a, ia berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah saw. tidak pernah menyentuh tangan wanita ketika membaiat. Beliau membaiat mereka hanya dengan ucapan, “Aku telah membaiatmu untuk ini dan ini,” (HR Bukhari [4891]).
Kandungan Bab:
Haram hukumnya menyentuh wanita yang tidak halal bagi seorang laki-laki. Tidak diragukan lagi ancaman yang berat tersebut menunjukkan pengharamannya.
Haram hukumnya berjabat tangan dengan wanita (yang bukan mahram) karena termasuk menyentuh. Telah diriwayatkan secara shahih bahwa Rasulullah saw. tidak pernah menjabat tangan wanita dalam membaiat apalagi ketika bertemu.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. menjabat tangan wanita dengan alas tangan. Namun riwayat-riwayat tersebut adalah riwayat mursal yang tidak bisa dijadikan hujjah, apalagi riwayat tersebut bertentangan dengan hadits yang shahih dan jelas dari perkataan dan perbuatan Rasulullah.
Jumhur kaum muslimin telah jatuh dalam kemungkinan ini, khususnya setelah mereka melihat sebagian orang yang memakai sorban melakukan hal tersebut. Dan muncul pula sebagian kelompok yang mengajak kepadanya dan mewajibkan kepada pengikutnya untuk melakukannya.
Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 3/58-59.
Tuesday, March 6, 2012
Pendidikan: Fahami makna, kembalikan nilai
Pendidikan: Fahami makna, kembalikan nilai
Mohammad Fazril Mohd Saleh,
Pendidikan di Malaysia tidak pernah lari daripada krisis. Pelbagai masalah menimpa; keberkesanan sistem pembelajaran dipersoalkan, sistem peperiksaan dikatakan menjadi punca tekanan, masalah keboleh-pasaran graduan universiti, rasuah pensyarah, isu PPSMI, isu PTPTN, isu kebebasan akademik, AUKU yang dikatakan mengongkong mahasiswa, isu plagiarisme dan banyak lagi. Ironinya, tidak sedikit tindakan daripada pihak berwajib untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, namun tetap tidak dapat diselesaikan, malahan saban hari semakin banyak masalah menimpa.
Yang pasti, tindakan penyelesaian masalah harus difikirkan secara mendalam. Yang seharusnya diselesaikan itu akar permasalahan, bukan gejala daripada masalah. Mungkin yang patut diselesaikan itu cuma 20% daripada punca masalah keseluruhan. Dengan 20% akar permasalahan yang selesai ini bakal menyelesaikan 80% kesan masalah yang lain seperti yang digariskan dalam Prinsip Pareto.
Justeru, bagi penulis, perkara utama yang harus diselesaikan dalam konteks pendidikan negara ialah ‘kembali memahami makna pendidikan yang sebenar’ dan ‘kembalikan semula nilai pendidikan’.
Krisis Pendidikan Negara
Fareed Zakaria dalam makalahnya bertajuk ‘The Education of a President: Harvard’s new leader is right to try to raise standards–but he needs to do it for everyone’, menyinggung akan permasalahan ini dengan meyatakan salah satu daripada tragedi pendidikan moden di Amerika ialah penukaran presiden universiti (college president) daripada intellectual kepada para birokrat. Persoalannya, apakah birokrat yang diangkat menjadi presiden universiti ini memahami falsafah pendidikan dan roh university?
Mengulas kenyataan Fareed Zakaria ini, Siddiq Fadzil tanpa berlapik lagi melampiaskan fenomena “one of the minor tragedies” yang berlaku dalam sistem pendidikan tinggi Amerika ini ke atas Institut Pengajian Tinggi (IPT) di Malaysia lewat pertanyaan, “tidakkah kita juga menyaksikan gejala semakin memudarnya wibawa kesarjanaan pimpinan IPT? Warga IPT rata-rata tidak lagi berasa bernaung di bawah naungan teduh seorang sarjana besar, sebaliknya lebih berasa berada di bawah arahan CEO sebuah syarikat. Apakah ini bukan sejenis minor tragedy juga?”
Montimer J. Adler, dalam pengalamannya sebagai seorang ahli akademik terkemuka turut melahirkan keluhan beliau terhadap ‘pendidikan’ dan ‘persekolahan’ lewat tulisan beliau berjudul Schooling Is Not Education dan menyatakan sepanjang 40 tahun pengalamannya sebagai pendidik dan ahli akademik, beliau membuat kesimpulan bahawa tiada seorang pun yang telah dan boleh dididik di sekolah atau kolej.
Naib Chanselor UTM, Profesor Dato’ Ir. Dr. Zaini Ujang (2009) dalam mengungkapkan perkembangan disiplin ilmu di universiti mengakui akan tuntutan dan pengaruh kuat pasaran semasa. Ini mengakibatkan disiplin ilmu asas seperti falsafah, teologi, sejarah, matematik, kimia, ilmu wahyu, sains kemanusiaan dan kajian bahasa tidak begitu mendapat sambutan dalam kalangan calon mahasiswa berbanding jurusan-jurusan seperti sains gunaan, multimedia dan teknologi. Sebab utama – tuntutan pasaran kerja.
Beliau menambah: “sesuai dengan kefahaman serta kefahaman itulah maka falsafah, nilai, gagasan serta peranan university juga berubah mengikut keperluan pasaran kerja, khususnya daripada perspektif ilmu moden…. Kenyataannya, ketika ini ilmu falsafah yang satu ketika dahulu menjadi ‘ilmu wajib’ sudah hilang peranan dan kepentingannya dari perspektif calon mahasiswa. Disiplin ilmu yang lebih diberi keutamaan ketika ini ialah ilmu sains dan sastera gunaan serta teknologi.”.
Walaupun tampak perkembangan dan pertumbuhan IPT di Malaysia semakin pesat, namun kepesatan pertumbuhan IPT ini sebenarnya tidak layak menjadi indikator keberdayaan universiti melahirkan graduan yang tercerah dan cerdas, yang diharapkan menjadi the enlightened group, sebaliknya kelumpuhan berlaku meranapkan idea universiti sebagai simbol wibawa keintelektualan dan pencerahan pemikiran.
Sehubungan itu, apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan ‘pendidikan’?
Makna Pendidikan dan Persoalannya
Secara umum, pendidikan bermaksud ‘suatu proses menerapkan/menyuntik sesuatu terhadap manusia’ (a process of instilling something into human being). Berdasarkan definisi ini, ‘suatu proses menerapkan/menyuntik’ (a process of instilling) merujuk kepada kaedah atau metodologi dan sistem penyaluran pendidikan (mekanisme). Manakala, ‘sesuatu’ (something) pula merujuk kepada kandungan dan bahan yang ingin dimasukkan dan manusia (human being) merupakan penerima proses dan kandungan. Maka, pendidikan mengandungi tiga unsur fundamental sepertimana yang dihuraikan tadi iaitu: (1) proses, (2) kandungan, (3) penerima. (rujuk Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam: A Framework for An Islamic Philosophy of Education, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1999)).
Persoalannya, bagaimana pendidikan sebagai proses penyaluran ilmu kepada manusia berlaku? Apa kandungan ataupun ilmu yang diajarkan? Apa tujuan pendidikan? Apa hasil yang bakal dikecapi oleh penerima kandungan melalui proses pendidikan itu? Melihat suasana institusi pendidikan dewasa ini, juga graduannya menimbulkan lebih banyak persoalan. Apakah pendidikan hanya sebagai alat untuk mendapatkan profesyen yang baik? Apakah matlamat institusi pendidikan yang sebenarnya, mendidik atau mengaut keuntungan? Realiti pendidikan hari ini mungkin telah tersasar dengan keperluan insan dan tujuan asal pendidikan. Pendidikan hari ini merupakan pendidikan yang telah di’komoditi’kan, di’komersialisasi’kan dan di’politisasi’kan.
Siddiq Fadzil (2009) dalam kritikannya terhadap pendidikan tinggi masa kini menyatakan:
“Masalah yang kita hadapi sebenarnya bukan hanya kelesuan IPT, tetapi dunia pendidikan keseluruhannya sedang ditimpa krisis. Sistem pendidikan di pelbagai rantau dunia ketika ini sedang dipersoalkan dari pelbagai sudut. Ada yang mempersoalkannya dari segi biayanya yang terlalu tinggi melewati batas jangkauan majoriti rakyat. Akibat komersialisasi yang bermotif mengaut keuntungan, rakyat harus membayar mahal sedang kualitinya belum pasti. Dengan ketiadaan biasiswa dan bantuan yang mencukupi biaya pendidikan terbeban sepenuhnya di bahu ibu-bapa. Untuk itu mereka yang kurang mampu akan terpaksa bergolok bergadai. Keadaan inilah yang meresahkan masyarakat. Di Indonesia misalnya, telah terbit buku-buku dengan judul bernada protes seperti, “Pendidikan Yang Memiskinkan” dan “Orang Miskin Dilarang Sekolah.”
Bagaimana pula dengan nasib pendidikan di negara ini? Andainya demokratisasi dan privatisasi pendidikan mahu direalisasikan oleh kerajaan, seharus kerajaan memastikan semua lapisan rakyat dapat menikmati pendidikan berkualiti dengan kos yang terjangkau. Kegagalan melaksanakan dasar ini akan mewujudkan keadaan survival of the richest, di mana pendidikan berkualiti menjadi monopoli segelintir kaum elit.
Makna dan nilai pendidikan seharusnya menjadi suatu yang jelas bagi pemerintah, para ahli akademik dan pentadbir institusi pendidikan. Kegagalan memahami nilai pendidikan akan menjerumuskan masyarakat terpelajar ke dalam kancah kekeliruan yang akhirnya membuahkan tindakan-tindakan tanpa moral; para birokrat yang korup, penyelewengan dan salah gunakuasa, jenayah kolar putih dan sebagainya. Makna pendidikan perlu difahami dan nilai pendidikan wajar dikembalikan!
Rujukan:
1. Siddiq Fadzil, Pendidikan al-Hikmah dan Misi Pencerahan, (Kajang: Akademi Kajian Ketamadunan, Kolej Dar al-Hikmah, 2009)
2. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, (KL: ISTAC, 2001)
3. Fareed Zakaria, The Education of a President: Harvard’s new leader is right to try to raise standards–but he needs to do it for everyone. (Lawrence Summers) (Brief Article),http://www.encyclopedia.com/doc/1G1-81469874.html
4. Montimer J. Adler, “Schooling Is Not Education”, http://www.cooperativeindividualism.org/adler-mortimer_schooling-is-not-education.html
5. Zaini Ujang, Universiti, Kreativiti, Inovasi, (Johor: Penerbit UTM, 2009)
6. Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam: A Framework for An Islamic Philosophy of Education, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1999)
Mohammad Fazril Mohd Saleh,
Pendidikan di Malaysia tidak pernah lari daripada krisis. Pelbagai masalah menimpa; keberkesanan sistem pembelajaran dipersoalkan, sistem peperiksaan dikatakan menjadi punca tekanan, masalah keboleh-pasaran graduan universiti, rasuah pensyarah, isu PPSMI, isu PTPTN, isu kebebasan akademik, AUKU yang dikatakan mengongkong mahasiswa, isu plagiarisme dan banyak lagi. Ironinya, tidak sedikit tindakan daripada pihak berwajib untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, namun tetap tidak dapat diselesaikan, malahan saban hari semakin banyak masalah menimpa.
Yang pasti, tindakan penyelesaian masalah harus difikirkan secara mendalam. Yang seharusnya diselesaikan itu akar permasalahan, bukan gejala daripada masalah. Mungkin yang patut diselesaikan itu cuma 20% daripada punca masalah keseluruhan. Dengan 20% akar permasalahan yang selesai ini bakal menyelesaikan 80% kesan masalah yang lain seperti yang digariskan dalam Prinsip Pareto.
Justeru, bagi penulis, perkara utama yang harus diselesaikan dalam konteks pendidikan negara ialah ‘kembali memahami makna pendidikan yang sebenar’ dan ‘kembalikan semula nilai pendidikan’.
Krisis Pendidikan Negara
Fareed Zakaria dalam makalahnya bertajuk ‘The Education of a President: Harvard’s new leader is right to try to raise standards–but he needs to do it for everyone’, menyinggung akan permasalahan ini dengan meyatakan salah satu daripada tragedi pendidikan moden di Amerika ialah penukaran presiden universiti (college president) daripada intellectual kepada para birokrat. Persoalannya, apakah birokrat yang diangkat menjadi presiden universiti ini memahami falsafah pendidikan dan roh university?
Mengulas kenyataan Fareed Zakaria ini, Siddiq Fadzil tanpa berlapik lagi melampiaskan fenomena “one of the minor tragedies” yang berlaku dalam sistem pendidikan tinggi Amerika ini ke atas Institut Pengajian Tinggi (IPT) di Malaysia lewat pertanyaan, “tidakkah kita juga menyaksikan gejala semakin memudarnya wibawa kesarjanaan pimpinan IPT? Warga IPT rata-rata tidak lagi berasa bernaung di bawah naungan teduh seorang sarjana besar, sebaliknya lebih berasa berada di bawah arahan CEO sebuah syarikat. Apakah ini bukan sejenis minor tragedy juga?”
Montimer J. Adler, dalam pengalamannya sebagai seorang ahli akademik terkemuka turut melahirkan keluhan beliau terhadap ‘pendidikan’ dan ‘persekolahan’ lewat tulisan beliau berjudul Schooling Is Not Education dan menyatakan sepanjang 40 tahun pengalamannya sebagai pendidik dan ahli akademik, beliau membuat kesimpulan bahawa tiada seorang pun yang telah dan boleh dididik di sekolah atau kolej.
Naib Chanselor UTM, Profesor Dato’ Ir. Dr. Zaini Ujang (2009) dalam mengungkapkan perkembangan disiplin ilmu di universiti mengakui akan tuntutan dan pengaruh kuat pasaran semasa. Ini mengakibatkan disiplin ilmu asas seperti falsafah, teologi, sejarah, matematik, kimia, ilmu wahyu, sains kemanusiaan dan kajian bahasa tidak begitu mendapat sambutan dalam kalangan calon mahasiswa berbanding jurusan-jurusan seperti sains gunaan, multimedia dan teknologi. Sebab utama – tuntutan pasaran kerja.
Beliau menambah: “sesuai dengan kefahaman serta kefahaman itulah maka falsafah, nilai, gagasan serta peranan university juga berubah mengikut keperluan pasaran kerja, khususnya daripada perspektif ilmu moden…. Kenyataannya, ketika ini ilmu falsafah yang satu ketika dahulu menjadi ‘ilmu wajib’ sudah hilang peranan dan kepentingannya dari perspektif calon mahasiswa. Disiplin ilmu yang lebih diberi keutamaan ketika ini ialah ilmu sains dan sastera gunaan serta teknologi.”.
Walaupun tampak perkembangan dan pertumbuhan IPT di Malaysia semakin pesat, namun kepesatan pertumbuhan IPT ini sebenarnya tidak layak menjadi indikator keberdayaan universiti melahirkan graduan yang tercerah dan cerdas, yang diharapkan menjadi the enlightened group, sebaliknya kelumpuhan berlaku meranapkan idea universiti sebagai simbol wibawa keintelektualan dan pencerahan pemikiran.
Sehubungan itu, apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan ‘pendidikan’?
Makna Pendidikan dan Persoalannya
Secara umum, pendidikan bermaksud ‘suatu proses menerapkan/menyuntik sesuatu terhadap manusia’ (a process of instilling something into human being). Berdasarkan definisi ini, ‘suatu proses menerapkan/menyuntik’ (a process of instilling) merujuk kepada kaedah atau metodologi dan sistem penyaluran pendidikan (mekanisme). Manakala, ‘sesuatu’ (something) pula merujuk kepada kandungan dan bahan yang ingin dimasukkan dan manusia (human being) merupakan penerima proses dan kandungan. Maka, pendidikan mengandungi tiga unsur fundamental sepertimana yang dihuraikan tadi iaitu: (1) proses, (2) kandungan, (3) penerima. (rujuk Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam: A Framework for An Islamic Philosophy of Education, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1999)).
Persoalannya, bagaimana pendidikan sebagai proses penyaluran ilmu kepada manusia berlaku? Apa kandungan ataupun ilmu yang diajarkan? Apa tujuan pendidikan? Apa hasil yang bakal dikecapi oleh penerima kandungan melalui proses pendidikan itu? Melihat suasana institusi pendidikan dewasa ini, juga graduannya menimbulkan lebih banyak persoalan. Apakah pendidikan hanya sebagai alat untuk mendapatkan profesyen yang baik? Apakah matlamat institusi pendidikan yang sebenarnya, mendidik atau mengaut keuntungan? Realiti pendidikan hari ini mungkin telah tersasar dengan keperluan insan dan tujuan asal pendidikan. Pendidikan hari ini merupakan pendidikan yang telah di’komoditi’kan, di’komersialisasi’kan dan di’politisasi’kan.
Siddiq Fadzil (2009) dalam kritikannya terhadap pendidikan tinggi masa kini menyatakan:
“Masalah yang kita hadapi sebenarnya bukan hanya kelesuan IPT, tetapi dunia pendidikan keseluruhannya sedang ditimpa krisis. Sistem pendidikan di pelbagai rantau dunia ketika ini sedang dipersoalkan dari pelbagai sudut. Ada yang mempersoalkannya dari segi biayanya yang terlalu tinggi melewati batas jangkauan majoriti rakyat. Akibat komersialisasi yang bermotif mengaut keuntungan, rakyat harus membayar mahal sedang kualitinya belum pasti. Dengan ketiadaan biasiswa dan bantuan yang mencukupi biaya pendidikan terbeban sepenuhnya di bahu ibu-bapa. Untuk itu mereka yang kurang mampu akan terpaksa bergolok bergadai. Keadaan inilah yang meresahkan masyarakat. Di Indonesia misalnya, telah terbit buku-buku dengan judul bernada protes seperti, “Pendidikan Yang Memiskinkan” dan “Orang Miskin Dilarang Sekolah.”
Bagaimana pula dengan nasib pendidikan di negara ini? Andainya demokratisasi dan privatisasi pendidikan mahu direalisasikan oleh kerajaan, seharus kerajaan memastikan semua lapisan rakyat dapat menikmati pendidikan berkualiti dengan kos yang terjangkau. Kegagalan melaksanakan dasar ini akan mewujudkan keadaan survival of the richest, di mana pendidikan berkualiti menjadi monopoli segelintir kaum elit.
Makna dan nilai pendidikan seharusnya menjadi suatu yang jelas bagi pemerintah, para ahli akademik dan pentadbir institusi pendidikan. Kegagalan memahami nilai pendidikan akan menjerumuskan masyarakat terpelajar ke dalam kancah kekeliruan yang akhirnya membuahkan tindakan-tindakan tanpa moral; para birokrat yang korup, penyelewengan dan salah gunakuasa, jenayah kolar putih dan sebagainya. Makna pendidikan perlu difahami dan nilai pendidikan wajar dikembalikan!
Rujukan:
1. Siddiq Fadzil, Pendidikan al-Hikmah dan Misi Pencerahan, (Kajang: Akademi Kajian Ketamadunan, Kolej Dar al-Hikmah, 2009)
2. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, (KL: ISTAC, 2001)
3. Fareed Zakaria, The Education of a President: Harvard’s new leader is right to try to raise standards–but he needs to do it for everyone. (Lawrence Summers) (Brief Article),http://www.encyclopedia.com/doc/1G1-81469874.html
4. Montimer J. Adler, “Schooling Is Not Education”, http://www.cooperativeindividualism.org/adler-mortimer_schooling-is-not-education.html
5. Zaini Ujang, Universiti, Kreativiti, Inovasi, (Johor: Penerbit UTM, 2009)
6. Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam: A Framework for An Islamic Philosophy of Education, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1999)
Peperiksaan suburkan minda kreatif, inovasi
Peperiksaan suburkan minda kreatif, inovasi
Oleh Dr Zaini Ujang
2010/08/06
Kerangka ujian perlu dibentuk selaras dengan keperluan sistem pendidikan moden
SELAIN menentukan pencapaian seseorang pelajar, peperiksaan perlu dirangka supaya menjadi sebahagian kaedah menggalakkan pembelajaran, penyuburan budaya ilmu dan pemantapan budaya inovasi. Banyak kajian merumuskan bahawa peperiksaan untuk tujuan penanda aras pencapaian semata-mata tidak dapat mendorong minda dan minat pelajar untuk bersifat kreatif dan inovatif. Sehubungan itu, Majlis Peperiksaan Malaysia (MPM) menganjurkan bengkel pengurusan skenario selama dua hari bermula 3 Ogos lalu untuk mendapatkan pandangan pakar dan pihak berkepentingan. Ini selari dengan inisiatif Kerajaan Malaysia untuk mengkaji semula kaedah pelaksanaan sistem penilaian pendidikan, terutama pada peringkat sekolah. Memang dimaklumi bahawa peperiksaan masih diperlukan. Namun peperiksaan tidak lagi boleh dilaksanakan secara konvensional dan berorientasi kertas soalan semata-mata. Dalam konteks pendidikan, banyak kaedah penilaian pencapaian pelajar boleh digunakan seperti pengujian secara anjal termasuk penilaian berasaskan aktiviti di sekolah dengan penekanan lebih terhadap aspek praktikal.
Peperiksaan juga perlu dirangka agar menjadi pendorong supaya pelajar sentiasa ingin belajar dan meningkatkan kefahaman ilmu secara berterusan, tidak hanya terikat kepada musim peperiksaan untuk menjawab kertas soalan. Di samping boleh memahami sesuatu kandungan dalam sesuatu disiplin ilmu, peperiksaan juga perlu dirangka bagi meningkatkan integriti. Bukankah salah satu etika dalam peperiksaan ialah menjawab secara jelas berasaskan kefahaman, tidak meniru apatah lagi menipu.
Jika difahami dengan setepatnya dan dirangka sebaiknya, peperiksaan dapat menyuburkan minda kreatif dan inovatif. Menerusi kaedah penilaian berterusan sepanjang tahun sebagai contoh, maka seluruh aktiviti pelajar dalam dan luar bilik darjah boleh diolah supaya proses pembelajaran dapat dijalankan secara lebih bersahaja, holistik dan menyeronokkan.
Kita perlu adil terhadap semua pelajar kerana setiap individu mempunyai keupayaan dan keistimewaan tersendiri. Kadangkala bakat besar dalam sesuatu bidang hanya menyerlah jika bakat itu disuburkan menerusi aktiviti pembelajaran berterusan, bukan di atas kertas peperiksaan yang perlu dijawab dalam tempuh dua atau tiga jam. Itulah rasionalnya maka seluruh aktiviti pembelajaran perlu dirangka supaya penilaian dapat dilaksanakan secara lebih holistik, adil dan seimbang.
Di sinilah perlunya kita memahami sifat dan tabii manusia dalam konteks penilaian proses pembelajaran. Selain perlu disesuaikan dengan pelbagai tuntutan zaman seperti permintaan pasaran kerja, kemahiran baru dan trend semasa dari segi penggunaan teknologi, kita juga perlu kembali kepada hakikat keinsanan manusia adalah sebaik-baik kejadian oleh Allah Yang Maha Pencipta.
Justeru, fakulti keinsanan meliputi fizikal, intelektual, emosi, spiritual dan bermasyarakat perlu digabungkan secara sepadu dalam semua aspek kehidupan, apatah lagi proses pembelajaran untuk menyerlahkan komponen sebaik-baik kejadian itu. Tidak tepat jika proses pembelajaran, termasuk penilaian dalam pendidikan formal hanya tertumpu kepada aspek intelektual. Besar kemungkinan hasilnya ialah manusia tidak seimbang yang mengabaikan tuntutan beretika, berintegriti dan beramal salih.
Islam mengajar kita bahawa keistimewaan dan kemuliaan insan sebagai khalifah di bumi hanya boleh direalisasikan dengan ilmu pengetahuan. Justeru sejak Nabi Adam di alam syurga, baginda diajarkan nama ciptaan Allah. Dengan ilmu itulah Nabi Adam mengajar malaikat. Kemudian Allah mengarahkan malaikat sujud kepada Nabi Adam tanda kemuliaan insan dengan ilmu dan takwa. Al-Quran merakamkan peristiwa ini secara naratif (Al-Baqarah: 30-35).
Dengan ilmu maka bercambahlah hikmah, iaitu tahap lebih tinggi daripada sekadar mengetahui. Dari sudut bahasa, hikmah mempunyai sembilan pengertian iaitu keadilan, menahan marah, kenabian, lawan kepada kejahilan, kebenaran, meletakkan sesuatu pada tempatnya, perkataan yang betul, mencegah kerosakan dan mengetahui sebaik-baik perkara dengan sebaik-baik ilmu. Sebagai contoh, pengertian hikmah mengenai mengetahui sebaik-baik perkara dijelaskan dalam doa Nabi Ibrahim: “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang yang salih” (As-Syuara’: 83).
Dalam konteks semasa, kreativiti dan inovasi boleh disuburkan menerusi konsep dan aplikasi hikmah. Dalam bidang perundangan misalnya, kreativiti dan inovasi diserlahkan dalam bentuk perumusan fatwa baru. Dalam bidang sains fundamental pula, kreativiti dan inovasi membabitkan paradigma, teori, formula dan klon baru. Sementara dalam bidang sains gunaan, kejuruteraan dan perubatan pula, kreativiti dan inovasi membabitkan kaedah, prosedur, sistem, produk dan jenama baru.
Menerusi kefahaman jelas mengenai tabii keinsanan maka mudahlah kita merangka sistem penilaian bagi proses pendidikan pada pelbagai peringkat. Pada prinsipnya, ilmu dalam pelbagai perlu digarap sebaiknya, kemudian dinilai secara berterusan, holistik dan adil bagi memungkinkan seluruh dimensi pembelajaran dan fakulti keinsanan disuburkan sebaiknya sehingga terhasil hikmah dan bercambah budaya inovasi.
Demikian pertalian antara peperiksaan, proses pembelajaran, ilmu dan hikmah dalam konteks budaya inovasi. Secara konstruktif, budaya inovasi merujuk kepada kesediaan berubah, mencuba perkara baru dan cara baru dalam seluruh aspek kehidupan untuk kemakmuran, kedamaian, kesenangan, kesejahteraan dan kelestarian menerusi penyelesaian kreatif. Hasilnya ialah masyarakat yang kukuh dengan nilai ilmu dan hikmah yang memungkinkan bukan saja terbina sistem ekonomi berasaskan inovasi, malah negara maju dan tamadun besar.
Oleh Dr Zaini Ujang
2010/08/06
Kerangka ujian perlu dibentuk selaras dengan keperluan sistem pendidikan moden
SELAIN menentukan pencapaian seseorang pelajar, peperiksaan perlu dirangka supaya menjadi sebahagian kaedah menggalakkan pembelajaran, penyuburan budaya ilmu dan pemantapan budaya inovasi. Banyak kajian merumuskan bahawa peperiksaan untuk tujuan penanda aras pencapaian semata-mata tidak dapat mendorong minda dan minat pelajar untuk bersifat kreatif dan inovatif. Sehubungan itu, Majlis Peperiksaan Malaysia (MPM) menganjurkan bengkel pengurusan skenario selama dua hari bermula 3 Ogos lalu untuk mendapatkan pandangan pakar dan pihak berkepentingan. Ini selari dengan inisiatif Kerajaan Malaysia untuk mengkaji semula kaedah pelaksanaan sistem penilaian pendidikan, terutama pada peringkat sekolah. Memang dimaklumi bahawa peperiksaan masih diperlukan. Namun peperiksaan tidak lagi boleh dilaksanakan secara konvensional dan berorientasi kertas soalan semata-mata. Dalam konteks pendidikan, banyak kaedah penilaian pencapaian pelajar boleh digunakan seperti pengujian secara anjal termasuk penilaian berasaskan aktiviti di sekolah dengan penekanan lebih terhadap aspek praktikal.
Peperiksaan juga perlu dirangka agar menjadi pendorong supaya pelajar sentiasa ingin belajar dan meningkatkan kefahaman ilmu secara berterusan, tidak hanya terikat kepada musim peperiksaan untuk menjawab kertas soalan. Di samping boleh memahami sesuatu kandungan dalam sesuatu disiplin ilmu, peperiksaan juga perlu dirangka bagi meningkatkan integriti. Bukankah salah satu etika dalam peperiksaan ialah menjawab secara jelas berasaskan kefahaman, tidak meniru apatah lagi menipu.
Jika difahami dengan setepatnya dan dirangka sebaiknya, peperiksaan dapat menyuburkan minda kreatif dan inovatif. Menerusi kaedah penilaian berterusan sepanjang tahun sebagai contoh, maka seluruh aktiviti pelajar dalam dan luar bilik darjah boleh diolah supaya proses pembelajaran dapat dijalankan secara lebih bersahaja, holistik dan menyeronokkan.
Kita perlu adil terhadap semua pelajar kerana setiap individu mempunyai keupayaan dan keistimewaan tersendiri. Kadangkala bakat besar dalam sesuatu bidang hanya menyerlah jika bakat itu disuburkan menerusi aktiviti pembelajaran berterusan, bukan di atas kertas peperiksaan yang perlu dijawab dalam tempuh dua atau tiga jam. Itulah rasionalnya maka seluruh aktiviti pembelajaran perlu dirangka supaya penilaian dapat dilaksanakan secara lebih holistik, adil dan seimbang.
Di sinilah perlunya kita memahami sifat dan tabii manusia dalam konteks penilaian proses pembelajaran. Selain perlu disesuaikan dengan pelbagai tuntutan zaman seperti permintaan pasaran kerja, kemahiran baru dan trend semasa dari segi penggunaan teknologi, kita juga perlu kembali kepada hakikat keinsanan manusia adalah sebaik-baik kejadian oleh Allah Yang Maha Pencipta.
Justeru, fakulti keinsanan meliputi fizikal, intelektual, emosi, spiritual dan bermasyarakat perlu digabungkan secara sepadu dalam semua aspek kehidupan, apatah lagi proses pembelajaran untuk menyerlahkan komponen sebaik-baik kejadian itu. Tidak tepat jika proses pembelajaran, termasuk penilaian dalam pendidikan formal hanya tertumpu kepada aspek intelektual. Besar kemungkinan hasilnya ialah manusia tidak seimbang yang mengabaikan tuntutan beretika, berintegriti dan beramal salih.
Islam mengajar kita bahawa keistimewaan dan kemuliaan insan sebagai khalifah di bumi hanya boleh direalisasikan dengan ilmu pengetahuan. Justeru sejak Nabi Adam di alam syurga, baginda diajarkan nama ciptaan Allah. Dengan ilmu itulah Nabi Adam mengajar malaikat. Kemudian Allah mengarahkan malaikat sujud kepada Nabi Adam tanda kemuliaan insan dengan ilmu dan takwa. Al-Quran merakamkan peristiwa ini secara naratif (Al-Baqarah: 30-35).
Dengan ilmu maka bercambahlah hikmah, iaitu tahap lebih tinggi daripada sekadar mengetahui. Dari sudut bahasa, hikmah mempunyai sembilan pengertian iaitu keadilan, menahan marah, kenabian, lawan kepada kejahilan, kebenaran, meletakkan sesuatu pada tempatnya, perkataan yang betul, mencegah kerosakan dan mengetahui sebaik-baik perkara dengan sebaik-baik ilmu. Sebagai contoh, pengertian hikmah mengenai mengetahui sebaik-baik perkara dijelaskan dalam doa Nabi Ibrahim: “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang yang salih” (As-Syuara’: 83).
Dalam konteks semasa, kreativiti dan inovasi boleh disuburkan menerusi konsep dan aplikasi hikmah. Dalam bidang perundangan misalnya, kreativiti dan inovasi diserlahkan dalam bentuk perumusan fatwa baru. Dalam bidang sains fundamental pula, kreativiti dan inovasi membabitkan paradigma, teori, formula dan klon baru. Sementara dalam bidang sains gunaan, kejuruteraan dan perubatan pula, kreativiti dan inovasi membabitkan kaedah, prosedur, sistem, produk dan jenama baru.
Menerusi kefahaman jelas mengenai tabii keinsanan maka mudahlah kita merangka sistem penilaian bagi proses pendidikan pada pelbagai peringkat. Pada prinsipnya, ilmu dalam pelbagai perlu digarap sebaiknya, kemudian dinilai secara berterusan, holistik dan adil bagi memungkinkan seluruh dimensi pembelajaran dan fakulti keinsanan disuburkan sebaiknya sehingga terhasil hikmah dan bercambah budaya inovasi.
Demikian pertalian antara peperiksaan, proses pembelajaran, ilmu dan hikmah dalam konteks budaya inovasi. Secara konstruktif, budaya inovasi merujuk kepada kesediaan berubah, mencuba perkara baru dan cara baru dalam seluruh aspek kehidupan untuk kemakmuran, kedamaian, kesenangan, kesejahteraan dan kelestarian menerusi penyelesaian kreatif. Hasilnya ialah masyarakat yang kukuh dengan nilai ilmu dan hikmah yang memungkinkan bukan saja terbina sistem ekonomi berasaskan inovasi, malah negara maju dan tamadun besar.
Thursday, February 9, 2012
Rasulullah SAW Ketika Di Makkah – Bahagian 4
Da`wah Islam ke Luar Kota Makkah
Ta'if
Setelah semakin kuat penentangan oleh orang-orang kafir Makkah, Baginda kemudiannya pergi ke Ta’if dengan harapan untuk menyampaikan da`wah. Baginda telah ke Taif pada bulan Syawwal tahun ke-10 kenabian. Jarak Ta’if dari Makkah ialah sejauh 60 batu. Baginda pergi dan balik berjalan kaki dengan ditemani pembantunya, Zaid bin Harithah.
Setiap kali Baginda berjumpa dengan kabilah di jalan, maka Baginda akan mengajak mereka kepada Islam. Namun tidak satu pun kabilah yang menyahut ajakan Baginda. Apabila sampai di Ta’if, Baginda berjumpa dengan 3 orang bersaudara dari bani Thaqif. Ketiga-tiga mereka telah mengejek dan menghina Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam.
Baginda tinggal di Ta’if selama 10 hari. Sepanjang tempoh itu, semua orang kenamaan telah Nabi jumpa. Tetapi semua mereka telah menghina Nabi. Malah mereka menyuruh khadam-khadam mereka membaling batu kepada Nabi ketika Nabi hendak keluar dari Ta’if. Tumit Nabi terkena batu sehingga kasut Baginda dipenuhi darah. Zaid bin Harithah yang cuba melindungi Nabi, telah terkena batu di kepalanya.
Nabi telah dihambat sejauh 3 batu dari Ta’if sehinggalah Nabi masuk ke kebun `Utbah dan Shaybah yang merupakan 2 beradik anak lelaki Rabi`ah. Di kebun itu, Nabi duduk di bawah pohon kurma untuk menenangkan diri. Lalu Baginda pun berdoa kepada ALLAH:
“Ya ALLAH, kepadaMU aku mengadu lemahnya aku ini, serta kurangnya daya upayaku serta hinanya aku di kalangan manusia. Wahai Yang Maha Pengasih di antara yang mengasihani, ENGKAU adalah TUHAN orang-orang yang lemah, ENGKAU adalah TUHANku, kepada siapa ENGKAU serahkan aku ini? Adakah kepada orang jauh yang mencari kesempatan menyerangku? Atau adakah kepada musuh yang ENGKAU serahkan urusanku kepadanya? Jika ENGKAU tidak memurkaiku, maka aku tidak akan mempedulikannya, akan tetapi kesejahteraan daripada-MU adalah lebih luas untukku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-MU yang menerangi segala kegelapan serta menyebabkan urusan dunia dan akhirat ini menjadi baik, agar janganlah kemurkaan-MU menimpa kepadaku atau ENGKAU menjadi murka kepadaku. Bagi-MU keredhaan sehingga ENGKAU benar-benar meredhainya, tiada daya dan tiada upaya melainkan dengan pertolongan-MU jua.”
Walaupun Baginda sangat sedih dengan apa yang berlaku di Ta’if, namun telah berlaku beberapa peristiwa menarik sepanjang perjalanan Nabi sallAllahu `alaihi wasallam ke Makkah. Peristiwa dipeluk oleh seorang khadam yang beragama Nasrani di kebun tempat Nabi singgah, didatangi Jibril beserta malaikat penjaga bukit ketika di Qarnul Manazil dan dirombongi oleh sekumpulan jin untuk mendengar ayat-ayat al-Qur’an ketika Baginda sampai di Lembah Nakhlah, telah menaikkan semangat Baginda sallAllahu `alaihi wasallam untuk meneruskan da`wah dan merancang strategi baru.
Menawarkan Islam Kepada Kabilah Dan Individu
Pada bulan Zulkaedah tahun ke-10 kenabian, Nabi telah kembali ke Makkah untuk memperbaharui seruan Islam kepada kabilah-kabilah dan individu-individu. Seperti biasa, Makkah akan dikunjungi oleh kabilah-kabilah dari luar sempena musim haji pada bulan Zulhijjah. Sebenarnya Nabi telah berdakwah kepada banyak kabilah yang datang ke Makkah pada musim haji sejak tahun ke-4 kenabian lagi. Tetapi tidak satu kabilah pun menerima dakwah Baginda. Namun terdapat beberapa individu menerima dakwah Baginda dan masuk Islam.
Pada musim haji tahun ke-11 kenabian, Nabi telah bertemu dengan 6 orang pemuda dari Yathrib. Mereka tertarik dengan seruan Nabi kerana mereka pernah mendengar cerita tentang Nabi akhir zaman yang akan keluar dari mulut-mulut orang Yahudi di Yathrib. Mereka pulang ke Yathrib dalam keadaan masih belum masuk Islam, tetapi mereka telah membawa perkhabaran tentang Nabi akhir zaman kepada seluruh masyarakat Yathrib. Jadi, seluruh penduduk Yathrib mula maklum berkenaan Rasulullah.
Perkahwinan Rasulullah SAW Dengan `A’isyah
Pada bulan Syawwal tahun ke-11 kenabian, Nabi sallAllahu `alaihi wasallam telah berkahwin dengan `A’isyah radhiAllahu `anha.
Isra’ Mi`raj
Pada saat dakwah Nabi kelihatan seperti samar masa depan, ALLAH telah menghadiahkan Nabi dengan suatu peristiwa agung iaitu Isra’ Mi`raj. Ada beberapa pandangan tentang bila berlakunya Isra’ Mi`raj. Sheikh Safiyyu ar-Rahman al-Mubarakfuri iaitu penulis ar-Rahiq al-Makhtum memilih samada ia berlaku pada bulan Ramadhan tahun ke-12 kenabian, atau bulan Muharram tahun ke-13 kenabian, atau bulan Rabi`ul Awwal tahun ke-13 kenabian.
Di dalam peristiwa yang agung ini, Nabi telah diperjalankan secara dari Makkah ke Masjid al-Aqsa di Baitul Maqdis, lalu diangkat ke Sidratul Muntaha untuk mengadap ALLAH. Setelah menerima pensyariatan solat fardhu sebanyak 5 kali sehari semalam, Nabi pun pulang semula ke Makkah. Peristiwa ini berlaku pada satu malam dan ia benar-benar menguji keimanan orang-orang Islam pada ketika itu. Ada yang setelah mendengar peristiwa ini tetap beriman malah semakin teguh iman mereka, ada yang ragu-ragu dan ada yang terus murtad. Abu Bakr digelar as-Siddiq kerana beliau adalah orang pertama yang membenarkan kata-kata Nabi tanpa ragu.
Bai`ah Pertama
Pada musim haji tahun ke-12 kenabian, Nabi telah membuat pertemuan dengan 12 orang lelaki dari Yathrib, lanjutan dari pertemuan pertama di `Aqabah, Mina pada tahun ke-11 kenabian. Kesemua 12 orang lelaki itu telah bersetuju masuk Islam dan berbai`ah dengan Nabi. Nabi telah menghantar seorang pemuda bernama Mus`ab bin `Umair untuk mengikut rombongan 12 orang tersebut pulang ke Yathrib. Tujuannya ialah supaya Mus`ab bin `Umair dapat mengajar orang-orang yang masuk Islam di Yathrib tentang syari`at-syari`at Islam.
Sebelum tiba musim haji tahun ke-13 kenabian, Mus`ab pulang ke Makkah bertemu Nabi dengan membawa berita yang menggembirakan. Banyak penduduk Yathrib dari pelbagai perkampungan menerima ajaran Islam.
Bai`ah Kedua
Pada musim ke-13 kenabian, seramai 70 orang lelaki dan 2 orang wanita beragama Islam dari Yathrib datang ke Makkah untuk mengerjakan haji. Mereka datang bersama jemaah haji lain yang masih syirik. Kali ini telah berlaku bai`ah kedua dengan kandungan perjanjian yang lebih tegas dan serius iaitu dalam hal taat setia atas segala suruhan Nabi dan sanggup melindungi Nabi walau dalam keadaan apa sekali pun. Seramai 12 orang naqib telah dilantik bagi memikul tanggungjawab memimpin kaum mereka ketika Yathrib. Daripada 12 orang itu, 9 orang dilantik dari kabilah Khazraj dan 3 dari kabilah Aus.
Permulaan Hijrah
Setelah Bai`ah `Aqabah kedua, Islam mula mendapat tapak yang kukuh untuk disebarkan di tanah Arab, iaitu di Yathrib. Walaupun belum pasti dengan masa depan berhijrah ke Yathrib, namun atas keimanan yang sangat tinggi, penduduk Makkah yang beragama Islam sedikit demi sedikit telah berhijrah ke Yathrib. Risikonya terlalu tinggi. Nyawa, keluarga dan harta terpaksa dikorbankan demi penghijrahan ini.
Banyak sekatan telah berlaku terhadap ummat Islam ketika hendak melakukan hijrah. Sekatan dilakukan kerana Musyrikin Makkah khuatir dengan dengan perkembangan Islam yang mula diterima oleh penduduk Yathrib. Antara yang masyhur diceritakan ialah bagaimana kisah Abu Salamah, Ummu Salamah dan anaknya yang dipisahkan oleh kabilah dan keluarga mereka. Iaitu Abu Salamah dilepaskan ke Yathrib, manakala Ummu Salamah ditahan oleh keluarganya, dan anaknya ditahan oleh keluarga Abu Salamah. Selepas setahun barulah Ummu Salamah dibebaskan oleh keluarganya. Ummu Salamah lalu pergi mengambil anaknya yang ditahan oleh keluarga suaminya dan terus ke Yathrib yang jauhnya 500 km dengan berjalan kaki tanpa ada orang pun yang menemani mereka.
Kisah Suhaib yang ditahan oleh kafir Quraisy lalu dilepaskan Suhaib kerana Suhaib sanggup memberikan kesemua hartanya untuk melepaskannya. Dan kisah `Iyash yang ditipu mengatakan bahawa ibunya mengugut untuk berjemur di tengah panas, apabila beliau pergi untuk menemui ibunya, lalu `Iyash ditangkap serta diikat lalu diarak di kota Makkah menunjukkan cara menghukum orang yang hendak ke Yathrib. Begitulah besarnya pengorbanan para sahabat Nabi untuk menjaga aqidah mereka.
Usul Membunuh Nabi oleh Darul Nadwah (Parlimen Quraisy)
Pada hari Khamis, 26 Safar tahun ke-14 kenabian, Darul Nadwah iaitu Parlimen Quraisy telah bersidang untuk berbincang bagaimana untuk terus menghentikan dakwah Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam, bukan sahaja di Makkah malah untuk menghentikan terus dari terus merebak ke lain-lain tempat. Ini kerana mereka mulai sangat risau dengan perkembangan terbaru iaitu penghijrahan orang-orang Islam ke Yathrib dan kesediaan orang-orang Yathrib membantu Nabi. Kerisauan ini timbul kerana Yathrib merupakan lokasi strategik laluan perdagangan orang-orang Makkah. Mereka risau perdagangan mereka tergugat dan amalan sembahan berhala mereka turut terencat.
Beberapa cadangan telah dikemukakan namun ditolak oleh seorang tua yang turut serta dalam mesyuarat itu. Lelaki tua itu ialah Iblis yang menyamar sebagai seorang tua dari Najd. Akhirnya cadangan Abu Jahal diterima oleh lelaki tua itu. Iaitu agar dikumpulkan lelaki yang gagah dan terhormat dari setiap kabilah untuk membunuh Nabi. Cadangan ini bukan sahaja pada pandangan mereka akan menghentikan terus dakwah Nabi, tetapi juga dapat mengelakkan dari hanya satu kabilah sahaja diperangi oleh bani `Abdul Manaf. Bani `Abdul Manaf tentu tidak berupaya untuk membalas dendam terhadap semua kabilah yang bersekutu untuk membunuh Nabi. Jika mereka meminta diat (bayaran tebusan), maka itu tentu lebih mudah dan pembesar-pembesar Quraisy sanggup membayarnya.
Parlimen Makkah setuju sebulat suara lalu masing-masing dengan keazaman yang tinggi bersiap sedia mahu melaksanakan usul tersebut.
(bersambung…)
Ta'if
Setelah semakin kuat penentangan oleh orang-orang kafir Makkah, Baginda kemudiannya pergi ke Ta’if dengan harapan untuk menyampaikan da`wah. Baginda telah ke Taif pada bulan Syawwal tahun ke-10 kenabian. Jarak Ta’if dari Makkah ialah sejauh 60 batu. Baginda pergi dan balik berjalan kaki dengan ditemani pembantunya, Zaid bin Harithah.
Setiap kali Baginda berjumpa dengan kabilah di jalan, maka Baginda akan mengajak mereka kepada Islam. Namun tidak satu pun kabilah yang menyahut ajakan Baginda. Apabila sampai di Ta’if, Baginda berjumpa dengan 3 orang bersaudara dari bani Thaqif. Ketiga-tiga mereka telah mengejek dan menghina Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam.
Baginda tinggal di Ta’if selama 10 hari. Sepanjang tempoh itu, semua orang kenamaan telah Nabi jumpa. Tetapi semua mereka telah menghina Nabi. Malah mereka menyuruh khadam-khadam mereka membaling batu kepada Nabi ketika Nabi hendak keluar dari Ta’if. Tumit Nabi terkena batu sehingga kasut Baginda dipenuhi darah. Zaid bin Harithah yang cuba melindungi Nabi, telah terkena batu di kepalanya.
Nabi telah dihambat sejauh 3 batu dari Ta’if sehinggalah Nabi masuk ke kebun `Utbah dan Shaybah yang merupakan 2 beradik anak lelaki Rabi`ah. Di kebun itu, Nabi duduk di bawah pohon kurma untuk menenangkan diri. Lalu Baginda pun berdoa kepada ALLAH:
“Ya ALLAH, kepadaMU aku mengadu lemahnya aku ini, serta kurangnya daya upayaku serta hinanya aku di kalangan manusia. Wahai Yang Maha Pengasih di antara yang mengasihani, ENGKAU adalah TUHAN orang-orang yang lemah, ENGKAU adalah TUHANku, kepada siapa ENGKAU serahkan aku ini? Adakah kepada orang jauh yang mencari kesempatan menyerangku? Atau adakah kepada musuh yang ENGKAU serahkan urusanku kepadanya? Jika ENGKAU tidak memurkaiku, maka aku tidak akan mempedulikannya, akan tetapi kesejahteraan daripada-MU adalah lebih luas untukku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-MU yang menerangi segala kegelapan serta menyebabkan urusan dunia dan akhirat ini menjadi baik, agar janganlah kemurkaan-MU menimpa kepadaku atau ENGKAU menjadi murka kepadaku. Bagi-MU keredhaan sehingga ENGKAU benar-benar meredhainya, tiada daya dan tiada upaya melainkan dengan pertolongan-MU jua.”
Walaupun Baginda sangat sedih dengan apa yang berlaku di Ta’if, namun telah berlaku beberapa peristiwa menarik sepanjang perjalanan Nabi sallAllahu `alaihi wasallam ke Makkah. Peristiwa dipeluk oleh seorang khadam yang beragama Nasrani di kebun tempat Nabi singgah, didatangi Jibril beserta malaikat penjaga bukit ketika di Qarnul Manazil dan dirombongi oleh sekumpulan jin untuk mendengar ayat-ayat al-Qur’an ketika Baginda sampai di Lembah Nakhlah, telah menaikkan semangat Baginda sallAllahu `alaihi wasallam untuk meneruskan da`wah dan merancang strategi baru.
Menawarkan Islam Kepada Kabilah Dan Individu
Pada bulan Zulkaedah tahun ke-10 kenabian, Nabi telah kembali ke Makkah untuk memperbaharui seruan Islam kepada kabilah-kabilah dan individu-individu. Seperti biasa, Makkah akan dikunjungi oleh kabilah-kabilah dari luar sempena musim haji pada bulan Zulhijjah. Sebenarnya Nabi telah berdakwah kepada banyak kabilah yang datang ke Makkah pada musim haji sejak tahun ke-4 kenabian lagi. Tetapi tidak satu kabilah pun menerima dakwah Baginda. Namun terdapat beberapa individu menerima dakwah Baginda dan masuk Islam.
Pada musim haji tahun ke-11 kenabian, Nabi telah bertemu dengan 6 orang pemuda dari Yathrib. Mereka tertarik dengan seruan Nabi kerana mereka pernah mendengar cerita tentang Nabi akhir zaman yang akan keluar dari mulut-mulut orang Yahudi di Yathrib. Mereka pulang ke Yathrib dalam keadaan masih belum masuk Islam, tetapi mereka telah membawa perkhabaran tentang Nabi akhir zaman kepada seluruh masyarakat Yathrib. Jadi, seluruh penduduk Yathrib mula maklum berkenaan Rasulullah.
Perkahwinan Rasulullah SAW Dengan `A’isyah
Pada bulan Syawwal tahun ke-11 kenabian, Nabi sallAllahu `alaihi wasallam telah berkahwin dengan `A’isyah radhiAllahu `anha.
Isra’ Mi`raj
Pada saat dakwah Nabi kelihatan seperti samar masa depan, ALLAH telah menghadiahkan Nabi dengan suatu peristiwa agung iaitu Isra’ Mi`raj. Ada beberapa pandangan tentang bila berlakunya Isra’ Mi`raj. Sheikh Safiyyu ar-Rahman al-Mubarakfuri iaitu penulis ar-Rahiq al-Makhtum memilih samada ia berlaku pada bulan Ramadhan tahun ke-12 kenabian, atau bulan Muharram tahun ke-13 kenabian, atau bulan Rabi`ul Awwal tahun ke-13 kenabian.
Di dalam peristiwa yang agung ini, Nabi telah diperjalankan secara dari Makkah ke Masjid al-Aqsa di Baitul Maqdis, lalu diangkat ke Sidratul Muntaha untuk mengadap ALLAH. Setelah menerima pensyariatan solat fardhu sebanyak 5 kali sehari semalam, Nabi pun pulang semula ke Makkah. Peristiwa ini berlaku pada satu malam dan ia benar-benar menguji keimanan orang-orang Islam pada ketika itu. Ada yang setelah mendengar peristiwa ini tetap beriman malah semakin teguh iman mereka, ada yang ragu-ragu dan ada yang terus murtad. Abu Bakr digelar as-Siddiq kerana beliau adalah orang pertama yang membenarkan kata-kata Nabi tanpa ragu.
Bai`ah Pertama
Pada musim haji tahun ke-12 kenabian, Nabi telah membuat pertemuan dengan 12 orang lelaki dari Yathrib, lanjutan dari pertemuan pertama di `Aqabah, Mina pada tahun ke-11 kenabian. Kesemua 12 orang lelaki itu telah bersetuju masuk Islam dan berbai`ah dengan Nabi. Nabi telah menghantar seorang pemuda bernama Mus`ab bin `Umair untuk mengikut rombongan 12 orang tersebut pulang ke Yathrib. Tujuannya ialah supaya Mus`ab bin `Umair dapat mengajar orang-orang yang masuk Islam di Yathrib tentang syari`at-syari`at Islam.
Sebelum tiba musim haji tahun ke-13 kenabian, Mus`ab pulang ke Makkah bertemu Nabi dengan membawa berita yang menggembirakan. Banyak penduduk Yathrib dari pelbagai perkampungan menerima ajaran Islam.
Bai`ah Kedua
Pada musim ke-13 kenabian, seramai 70 orang lelaki dan 2 orang wanita beragama Islam dari Yathrib datang ke Makkah untuk mengerjakan haji. Mereka datang bersama jemaah haji lain yang masih syirik. Kali ini telah berlaku bai`ah kedua dengan kandungan perjanjian yang lebih tegas dan serius iaitu dalam hal taat setia atas segala suruhan Nabi dan sanggup melindungi Nabi walau dalam keadaan apa sekali pun. Seramai 12 orang naqib telah dilantik bagi memikul tanggungjawab memimpin kaum mereka ketika Yathrib. Daripada 12 orang itu, 9 orang dilantik dari kabilah Khazraj dan 3 dari kabilah Aus.
Permulaan Hijrah
Setelah Bai`ah `Aqabah kedua, Islam mula mendapat tapak yang kukuh untuk disebarkan di tanah Arab, iaitu di Yathrib. Walaupun belum pasti dengan masa depan berhijrah ke Yathrib, namun atas keimanan yang sangat tinggi, penduduk Makkah yang beragama Islam sedikit demi sedikit telah berhijrah ke Yathrib. Risikonya terlalu tinggi. Nyawa, keluarga dan harta terpaksa dikorbankan demi penghijrahan ini.
Banyak sekatan telah berlaku terhadap ummat Islam ketika hendak melakukan hijrah. Sekatan dilakukan kerana Musyrikin Makkah khuatir dengan dengan perkembangan Islam yang mula diterima oleh penduduk Yathrib. Antara yang masyhur diceritakan ialah bagaimana kisah Abu Salamah, Ummu Salamah dan anaknya yang dipisahkan oleh kabilah dan keluarga mereka. Iaitu Abu Salamah dilepaskan ke Yathrib, manakala Ummu Salamah ditahan oleh keluarganya, dan anaknya ditahan oleh keluarga Abu Salamah. Selepas setahun barulah Ummu Salamah dibebaskan oleh keluarganya. Ummu Salamah lalu pergi mengambil anaknya yang ditahan oleh keluarga suaminya dan terus ke Yathrib yang jauhnya 500 km dengan berjalan kaki tanpa ada orang pun yang menemani mereka.
Kisah Suhaib yang ditahan oleh kafir Quraisy lalu dilepaskan Suhaib kerana Suhaib sanggup memberikan kesemua hartanya untuk melepaskannya. Dan kisah `Iyash yang ditipu mengatakan bahawa ibunya mengugut untuk berjemur di tengah panas, apabila beliau pergi untuk menemui ibunya, lalu `Iyash ditangkap serta diikat lalu diarak di kota Makkah menunjukkan cara menghukum orang yang hendak ke Yathrib. Begitulah besarnya pengorbanan para sahabat Nabi untuk menjaga aqidah mereka.
Usul Membunuh Nabi oleh Darul Nadwah (Parlimen Quraisy)
Pada hari Khamis, 26 Safar tahun ke-14 kenabian, Darul Nadwah iaitu Parlimen Quraisy telah bersidang untuk berbincang bagaimana untuk terus menghentikan dakwah Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam, bukan sahaja di Makkah malah untuk menghentikan terus dari terus merebak ke lain-lain tempat. Ini kerana mereka mulai sangat risau dengan perkembangan terbaru iaitu penghijrahan orang-orang Islam ke Yathrib dan kesediaan orang-orang Yathrib membantu Nabi. Kerisauan ini timbul kerana Yathrib merupakan lokasi strategik laluan perdagangan orang-orang Makkah. Mereka risau perdagangan mereka tergugat dan amalan sembahan berhala mereka turut terencat.
Beberapa cadangan telah dikemukakan namun ditolak oleh seorang tua yang turut serta dalam mesyuarat itu. Lelaki tua itu ialah Iblis yang menyamar sebagai seorang tua dari Najd. Akhirnya cadangan Abu Jahal diterima oleh lelaki tua itu. Iaitu agar dikumpulkan lelaki yang gagah dan terhormat dari setiap kabilah untuk membunuh Nabi. Cadangan ini bukan sahaja pada pandangan mereka akan menghentikan terus dakwah Nabi, tetapi juga dapat mengelakkan dari hanya satu kabilah sahaja diperangi oleh bani `Abdul Manaf. Bani `Abdul Manaf tentu tidak berupaya untuk membalas dendam terhadap semua kabilah yang bersekutu untuk membunuh Nabi. Jika mereka meminta diat (bayaran tebusan), maka itu tentu lebih mudah dan pembesar-pembesar Quraisy sanggup membayarnya.
Parlimen Makkah setuju sebulat suara lalu masing-masing dengan keazaman yang tinggi bersiap sedia mahu melaksanakan usul tersebut.
(bersambung…)
Rasulullah SAW Ketika Di Makkah – Bahagian 3
Pemulauan
4 peristiwa penting iaitu keIslaman Hamzah, kemudiannya keIslaman Umar, penolakan Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam terhadap tawaran orang kafir Quraisy dan kesepakatan Bani al-Muttalib dan Bani Hashim yang terdiri daripada yang Muslim dan yang kafir untuk melindungi Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam benar-benar mencabar para pembesar Musyrikin Makkah. Kesemua itu berlaku berturut-turut dalam masa kurang dari empat minggu.
Mereka tidak boleh membunuh Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam kerana mereka tahu akan berlaku pertumpahan darah yang besar disebabkan oleh Bani al-Muttalib dan Bani Hashim telah bersepakat untuk melindungi Baginda. Justeru, kafir Quraisy mesti mencari jalan lain untuk membantutkan dakwah Nabi sallAllahu `alaihi wasallam.
Kaum kafir Quraisy telah sepakat untuk memulaukan Bani Hashim dan Bani al-Muttalib. Mereka telah membuat persepakatan di perkampungan Bani Kinanah untuk tidak boleh berkahwin dengan kedua-dua bani ini, tidak boleh berurusniaga, tidak boleh duduk semeja, tidak boleh bergaul dan tidak boleh diziarahi. Pemulauan ini akan terbatal sehinggalah kedua-dua bani ini sanggup untuk menyerahkan Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam untuk dibunuh.
Mereka menulis kesepakatan itu di atas sehelai lembaran dan digantungkan di dalam Ka`bah. Lembaran itu telah ditulis oleh Baghid bin `Amir bin Hashim di mana Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam telah mendoakan kecelakaan buatnya, lalu tangannya menjadi lumpuh.
Pemulauan itu bermula pada suatu malam bulan Muharram tahun ke-7 kenabian. Seluruh bani Hashim dan bani al-Muttalib samada yang Muslim atau yang kafir (kecuali Abu Lahab) telah menyisih diri dan berkurung di kampung Abu Talib.
Pengepungan dan pemulauan dijalankan dengan sangat ketat. Segala bekalan makanan disekat sehingga Bani Hashim dan Bani al-Muttalib ada yang terpaksa memakan daun-daun kayu dan kulit-kulit binatang. Kedengaran suara-suara rintihan kanak-kanak dan wanita di sebalik perkampungan itu akibat terlalu lapar. Makanan hanya sampai kepada mereka melalui jalan-jalan sulit.
Mereka tidak dapat keluar dari kampung itu melainkan pada bulan-bulan Haram. Pada musim haji, Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam dan orang-orang Islam dapat keluar dari kampung tersebut untuk menyeru orang ramai yang datang ke Mekah kepada agama Islam.
Setelah 3 tahun berlalu, akhirnya perjanjian pemulauan itu dibatalkan pada bulan Muharram tahun ke-10 kenabian. Hal ini terjadi lantaran terdapat di kalangan orang-orang Quraisy sendiri yang tidak setuju dengan pemulauan itu. Mereka telah menjalankan usaha untuk membatalkannya. Usaha tersebut telah dimulakan oleh Hisham bin `Amru dari Bani `Amir bin Lu’ay, iaitu seorang yang sering membekalkan makanan secara sembunyi kepada bani Hashim pada waktu malam.
Ketika Hisham bin `Amru dan beberapa orang lain yang setuju dengan beliau berdebat dengan Abu Jahal tentang perjanjian pemulauan itu, datanglah Abu Talib menghampiri mereka. Abu Talib membawa berita dari Nabi sallAllahu `alaihi wasallam yang mengatakan bahawa kandungan perjanjian itu telah dimakan oleh anai-anai kecuali tulisan nama ALLAH sahaja yang tidak dimakan. Apabila diperiksa, memang betul apa yang dikatakan oleh Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam. Walaupun penduduk Makkah telah melihat suatu peristiwa aneh yang merupakan mu`jizat Nabi, namun mereka tetap berdegil untuk menerima da`wah Baginda.
Utusan Quraisy Terakhir Berjumpa Abu Talib
Setelah pemulauan dibatalkan, Nabi sallAllahu `alaihi wasallam telah keluar dari kampong Abu Talib dan meneruskan dak`wah Baginda. Namun, usaha menyekat da`wah Rasulullah tetap diteruskan oleh orang-orang kafir Quraisy.
Ketika ini Abu Talib sudah pun dalam keadaan sakit dan melampaui umur 80 tahun. Berita tentang uzurnya Abu Talib telah membuatkan orang-orang kafir Quraisy membuat keputusan untuk berjumpa dengan Abu Talib buat kali terakhir. Tujuannya ialah supaya beliau meminta anak saudaranya berhenti menyeru agama Islam. Mereka tidak mahu ditimpa malu jika Nabi Muhammad dibunuh atau diapa-apakan selepas kematian Abu Talib. Ini akan menunjukkan sifat pengecut mereka terhadap Abu Talib dan mereka tidak sanggup digelar masyarakat sebagai pengecut.
Lalu beberapa orang kenamaan Quraisy telah bertemu dengan Abu Talib. Antara mereka ialah `Utbah bin Rabi`ah, Shaybah bin bin Rabi`ah, Abu Jahal bin Hisham, `Umayyah bin Khalaf, Abu Sufiyan bin Harb dan lain-lain lelaki yang terhormat. Rombongan ini terdiri dari 25 orang.
Abu Talib lalu memanggil Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam untuk menyatakan hasrat orang-orang kenamaan itu. Nabi sallAllahu `alaihi wasallam menawarkan mereka dengan 1 kalimah yang mana jika mereka mengucapkannya, nescaya orang-orang Arab dan Ajam akan tunduk kepada mereka. Kalimah itu ialah ‘Tiada Tuhan Selain ALLAH dan tinggalkanlah sembahan yang kamu sembah selain ALLAH.’ Mereka menolak seruan itu.
Tahun Dukacita
Sakit Abu Talib semakin berat. Pada bulan Rejab tahun ke-10 kenabian, Abu Talib yang selama ini membela dan melindungi Baginda akhirnya meninggal dunia. Datanglah kesedihan kepada Nabi Muhammad kerana Abu Talib tidak masuk Islam. Hatta, di akhir hayat Abu Talib, Nabi telah cuba mengIslamkannya, namun disebabkan ketika itu Abu Jahal ada di sisi Abu Talib dan mempengaruhinya, maka Abu Talib telah mati dalam keadaan tidak beragama Islam.
Pada tahun yang sama, Khadijah Ummul Mukminin radhiAllahu `anha pula meninggal dunia. Beliau meninggal dunia pada bulan Ramadhan ketika usianya 65 tahun dan Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam ketika itu berusia 50 tahun.
Sesungguhnya Khadijah adalah antara satu nikmat terbesar yang ALLAH kurniakan buat Baginda. Khadijah telah hidup bersama Baginda selama 25 tahun merasai saat-saat mencemaskan, membantu Baginda berdakwah dan menemankan Baginda tatkala suasana sukar dan getir. Beliau telah banyak mengorbankan kepentingan dirinya dan hartanya untuk Islam.
Nabi sallAllahu `alaihi wasallam telah bersabda: “Dia (Khadijah) beriman denganku ketika orang ramai mengkufuriku, dia mempercayaiku ketika orang ramai mendustakanku, dia berkongsi denganku harta bendanya ketiak orang ramai menghalangku dan ALLAH mengurniakan kepadaku anaknya dan menghalangku mendapat anak daripada selainnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya)
Kematian dua insan penting dalam kehidupan Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam ini betul-betul menyedihkan Baginda. Apatah lagi ia berlaku secara berturut-turut pada tahun yang sama. Setelah kematian Abu Talib dan Khadijah, kaum Quraisy Makkah semakin berani dan terbuka mengganggu dan menyakiti Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam.
Disebabkan oleh tindakan yang melampau dilakukan oleh kaum Musyrikin, Nabi membuat keputusan untuk cuba untuk berdakwah di Ta’if pula. Nabi ke sana dengan ditemani oleh Zaid bin Harithah. Sampai di sana, layanan mereka lebih teruk lagi ke atas Nabi. Nabi bukan sahaja diejek dan dihina, malah penduduk-penduduk Ta’if telah berbaris melemparkan batu kepada Nabi.
Semua ummat Islam telah dicengkam dengan dahsyat sekali. Sehingga Abu Bakr pun terpaksa berhijrah ke Habsyah, tetapi dalam perjalanan beliau ke sana, beliau telah dibawa ke Makkah oleh Ibn al-Daghinah dengan berjanji untuk melindunginya. Tahun ke-10 kenabian telah digelar sebagai Tahun Kesedihan lantaran bertubi-tubi kesedihan dan cabaran getir yang menimpa Rasulullah dan ummatnya.
Perkahwinan Dengan Sawdah radhiAllahu `anha
Pada bulan Syawwal tahun ke-10 kenabian, Nabi sallAllahu `alaihi wasallam telah berkahwin dengan Sawdah binti Zam`ah. Beliau adalah antara wanita yang terawal masuk Islam dan telah berhijrah bersama suaminya ke Habsyah pada penghijrahan kedua. Suaminya, al-Sakran bin `Amru telah meninggal dunia ketika di Habsyah, atau selepas pulang ke Makkah. Nabi melamarnya bagi melindungi kebajikannya dan beliau adalah wanita pertama yang dinikahi Baginda selepas meninggal dunianya Khadijah radhiAllahu `anha.
Allahumma solli `ala Muhammad wa `ala ali Muhammad…
- www.muzir.wordpress.com
4 peristiwa penting iaitu keIslaman Hamzah, kemudiannya keIslaman Umar, penolakan Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam terhadap tawaran orang kafir Quraisy dan kesepakatan Bani al-Muttalib dan Bani Hashim yang terdiri daripada yang Muslim dan yang kafir untuk melindungi Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam benar-benar mencabar para pembesar Musyrikin Makkah. Kesemua itu berlaku berturut-turut dalam masa kurang dari empat minggu.
Mereka tidak boleh membunuh Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam kerana mereka tahu akan berlaku pertumpahan darah yang besar disebabkan oleh Bani al-Muttalib dan Bani Hashim telah bersepakat untuk melindungi Baginda. Justeru, kafir Quraisy mesti mencari jalan lain untuk membantutkan dakwah Nabi sallAllahu `alaihi wasallam.
Kaum kafir Quraisy telah sepakat untuk memulaukan Bani Hashim dan Bani al-Muttalib. Mereka telah membuat persepakatan di perkampungan Bani Kinanah untuk tidak boleh berkahwin dengan kedua-dua bani ini, tidak boleh berurusniaga, tidak boleh duduk semeja, tidak boleh bergaul dan tidak boleh diziarahi. Pemulauan ini akan terbatal sehinggalah kedua-dua bani ini sanggup untuk menyerahkan Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam untuk dibunuh.
Mereka menulis kesepakatan itu di atas sehelai lembaran dan digantungkan di dalam Ka`bah. Lembaran itu telah ditulis oleh Baghid bin `Amir bin Hashim di mana Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam telah mendoakan kecelakaan buatnya, lalu tangannya menjadi lumpuh.
Pemulauan itu bermula pada suatu malam bulan Muharram tahun ke-7 kenabian. Seluruh bani Hashim dan bani al-Muttalib samada yang Muslim atau yang kafir (kecuali Abu Lahab) telah menyisih diri dan berkurung di kampung Abu Talib.
Pengepungan dan pemulauan dijalankan dengan sangat ketat. Segala bekalan makanan disekat sehingga Bani Hashim dan Bani al-Muttalib ada yang terpaksa memakan daun-daun kayu dan kulit-kulit binatang. Kedengaran suara-suara rintihan kanak-kanak dan wanita di sebalik perkampungan itu akibat terlalu lapar. Makanan hanya sampai kepada mereka melalui jalan-jalan sulit.
Mereka tidak dapat keluar dari kampung itu melainkan pada bulan-bulan Haram. Pada musim haji, Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam dan orang-orang Islam dapat keluar dari kampung tersebut untuk menyeru orang ramai yang datang ke Mekah kepada agama Islam.
Setelah 3 tahun berlalu, akhirnya perjanjian pemulauan itu dibatalkan pada bulan Muharram tahun ke-10 kenabian. Hal ini terjadi lantaran terdapat di kalangan orang-orang Quraisy sendiri yang tidak setuju dengan pemulauan itu. Mereka telah menjalankan usaha untuk membatalkannya. Usaha tersebut telah dimulakan oleh Hisham bin `Amru dari Bani `Amir bin Lu’ay, iaitu seorang yang sering membekalkan makanan secara sembunyi kepada bani Hashim pada waktu malam.
Ketika Hisham bin `Amru dan beberapa orang lain yang setuju dengan beliau berdebat dengan Abu Jahal tentang perjanjian pemulauan itu, datanglah Abu Talib menghampiri mereka. Abu Talib membawa berita dari Nabi sallAllahu `alaihi wasallam yang mengatakan bahawa kandungan perjanjian itu telah dimakan oleh anai-anai kecuali tulisan nama ALLAH sahaja yang tidak dimakan. Apabila diperiksa, memang betul apa yang dikatakan oleh Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam. Walaupun penduduk Makkah telah melihat suatu peristiwa aneh yang merupakan mu`jizat Nabi, namun mereka tetap berdegil untuk menerima da`wah Baginda.
Utusan Quraisy Terakhir Berjumpa Abu Talib
Setelah pemulauan dibatalkan, Nabi sallAllahu `alaihi wasallam telah keluar dari kampong Abu Talib dan meneruskan dak`wah Baginda. Namun, usaha menyekat da`wah Rasulullah tetap diteruskan oleh orang-orang kafir Quraisy.
Ketika ini Abu Talib sudah pun dalam keadaan sakit dan melampaui umur 80 tahun. Berita tentang uzurnya Abu Talib telah membuatkan orang-orang kafir Quraisy membuat keputusan untuk berjumpa dengan Abu Talib buat kali terakhir. Tujuannya ialah supaya beliau meminta anak saudaranya berhenti menyeru agama Islam. Mereka tidak mahu ditimpa malu jika Nabi Muhammad dibunuh atau diapa-apakan selepas kematian Abu Talib. Ini akan menunjukkan sifat pengecut mereka terhadap Abu Talib dan mereka tidak sanggup digelar masyarakat sebagai pengecut.
Lalu beberapa orang kenamaan Quraisy telah bertemu dengan Abu Talib. Antara mereka ialah `Utbah bin Rabi`ah, Shaybah bin bin Rabi`ah, Abu Jahal bin Hisham, `Umayyah bin Khalaf, Abu Sufiyan bin Harb dan lain-lain lelaki yang terhormat. Rombongan ini terdiri dari 25 orang.
Abu Talib lalu memanggil Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam untuk menyatakan hasrat orang-orang kenamaan itu. Nabi sallAllahu `alaihi wasallam menawarkan mereka dengan 1 kalimah yang mana jika mereka mengucapkannya, nescaya orang-orang Arab dan Ajam akan tunduk kepada mereka. Kalimah itu ialah ‘Tiada Tuhan Selain ALLAH dan tinggalkanlah sembahan yang kamu sembah selain ALLAH.’ Mereka menolak seruan itu.
Tahun Dukacita
Sakit Abu Talib semakin berat. Pada bulan Rejab tahun ke-10 kenabian, Abu Talib yang selama ini membela dan melindungi Baginda akhirnya meninggal dunia. Datanglah kesedihan kepada Nabi Muhammad kerana Abu Talib tidak masuk Islam. Hatta, di akhir hayat Abu Talib, Nabi telah cuba mengIslamkannya, namun disebabkan ketika itu Abu Jahal ada di sisi Abu Talib dan mempengaruhinya, maka Abu Talib telah mati dalam keadaan tidak beragama Islam.
Pada tahun yang sama, Khadijah Ummul Mukminin radhiAllahu `anha pula meninggal dunia. Beliau meninggal dunia pada bulan Ramadhan ketika usianya 65 tahun dan Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam ketika itu berusia 50 tahun.
Sesungguhnya Khadijah adalah antara satu nikmat terbesar yang ALLAH kurniakan buat Baginda. Khadijah telah hidup bersama Baginda selama 25 tahun merasai saat-saat mencemaskan, membantu Baginda berdakwah dan menemankan Baginda tatkala suasana sukar dan getir. Beliau telah banyak mengorbankan kepentingan dirinya dan hartanya untuk Islam.
Nabi sallAllahu `alaihi wasallam telah bersabda: “Dia (Khadijah) beriman denganku ketika orang ramai mengkufuriku, dia mempercayaiku ketika orang ramai mendustakanku, dia berkongsi denganku harta bendanya ketiak orang ramai menghalangku dan ALLAH mengurniakan kepadaku anaknya dan menghalangku mendapat anak daripada selainnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya)
Kematian dua insan penting dalam kehidupan Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam ini betul-betul menyedihkan Baginda. Apatah lagi ia berlaku secara berturut-turut pada tahun yang sama. Setelah kematian Abu Talib dan Khadijah, kaum Quraisy Makkah semakin berani dan terbuka mengganggu dan menyakiti Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam.
Disebabkan oleh tindakan yang melampau dilakukan oleh kaum Musyrikin, Nabi membuat keputusan untuk cuba untuk berdakwah di Ta’if pula. Nabi ke sana dengan ditemani oleh Zaid bin Harithah. Sampai di sana, layanan mereka lebih teruk lagi ke atas Nabi. Nabi bukan sahaja diejek dan dihina, malah penduduk-penduduk Ta’if telah berbaris melemparkan batu kepada Nabi.
Semua ummat Islam telah dicengkam dengan dahsyat sekali. Sehingga Abu Bakr pun terpaksa berhijrah ke Habsyah, tetapi dalam perjalanan beliau ke sana, beliau telah dibawa ke Makkah oleh Ibn al-Daghinah dengan berjanji untuk melindunginya. Tahun ke-10 kenabian telah digelar sebagai Tahun Kesedihan lantaran bertubi-tubi kesedihan dan cabaran getir yang menimpa Rasulullah dan ummatnya.
Perkahwinan Dengan Sawdah radhiAllahu `anha
Pada bulan Syawwal tahun ke-10 kenabian, Nabi sallAllahu `alaihi wasallam telah berkahwin dengan Sawdah binti Zam`ah. Beliau adalah antara wanita yang terawal masuk Islam dan telah berhijrah bersama suaminya ke Habsyah pada penghijrahan kedua. Suaminya, al-Sakran bin `Amru telah meninggal dunia ketika di Habsyah, atau selepas pulang ke Makkah. Nabi melamarnya bagi melindungi kebajikannya dan beliau adalah wanita pertama yang dinikahi Baginda selepas meninggal dunianya Khadijah radhiAllahu `anha.
Allahumma solli `ala Muhammad wa `ala ali Muhammad…
- www.muzir.wordpress.com
Rasulullah SAW Ketika Di Makkah – Bahagian 2
Penghijrahan Beberapa Orang Islam Ke Habsyah
Peta Habsyah (credit to: sirahnabawiyyah.blogspot)
Penindasan oleh musyrikin Makkah semakin dahsyat pada pertengahan tahun ke-5 kenabian. Orang-orang Islam mula berasa tidak selamat tinggal di Makkah. Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam sangat memahami keadaan ini. Pada saat itu, turunlah surah al-Kahfi yang menceritakan tentang 3 hal, iaitu tentang Ashabul-Kahfi, kisah antara Nabi Musa dengan Nabi Khidir dan kisah Zulkarnain. Ketiga-tiga kisah ini memberikan jawapan kepada Baginda dalam berhadapan dengan situasi yang semakin sempit itu.
Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam telah mengetahui tentang kisah seorang raja Habsyi yang adil bernama Ashamah al-Najashi. Tidak ada seorang pun yang dizalimi olehnya. Lalu Baginda sallAllahu `alaihi wasallam telah menyuruh sebahagian ummat Islam agar melarikan diri ke Habsyah untuk menyelamatkan diri. Peristiwa ini berlaku pada bulan Rejab tahun ke-5 kenabian. Kumpulan ini terdiri daripada 12 orang lelaki dan 4 orang wanita. Mereka diketuai oleh `Uthman bin `Affan. Ruqayyah, puteri Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam turut bersama di dalam kumpulan ini. Di Habsyah, mereka mendapat tempat kediaman yang lebih baik.
Penindasan yang semakin berat oleh musyrikin Makkah telah membuat Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam mencadangkan agar sebahagian ummat Islam berhijrah ke Habsyah seperti kumpulan pertama. Hijrah kali ini lebih sukar kerana musyrikin Makkah telah bersiap sedia lebih awal untuk menggagalkannya. Namun, dengan izin ALLAH Ta’ala, mereka dapat juga meloloskan diri berhijrah ke Habsyah. Kumpulan ke-2 ini lebih ramai, iaitu seramai 83 orang lelaki dan 28 orang wanita.
Wakil Quraisy ke Habsyah
Musyrikin Makkah tidak senang dengan kesenangan yang diperolehi oleh orang-orang islam di Habsyah. Mereka telah menghantar 2 orang yang gagah dan pintar iaitu `Amru bin al-`As dan `Abdullah bin Abi Rabi’ah (sebelum mereka berdua masuk Islam). Mereka berdua telah diutuskan untuk bertemu dengan Raja Najashi dengan membawa pelbagai hadiah.
Ja’far bin Abu Talib yang menjadi jurucakap kepada kumpulan ummat Islam di Habsyah telah berdialog dengan Raja Najashi dengan penuh hikmah. Hasilnya mereka telah mendapat perlindungan dan jaminan daripada Raja Najashi sehingga mereka digelar Shuyum oleh beliau. Shuyum dalam bahasa Habsyah bererti orang-orang yang selamat. `Amru bin al-`As dan `Abdullah bin Abi Rabi’ah terpaksa balik dengan kecewa, malah dipulangkan balik hadiah-hadiah yang mereka bawa sebagai tanda ketidaksudian Raja Najashi.
Orang Quraisy Mengancam Abu Talib
Abu Talib yang merupakan bapa saudara Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam telah diberi kata dua oleh musyrikin Makkah, iaitu akan berlaku pertumpahan darah sekiranya dakwah Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam tidak dihentikan. Ancaman itu sangat berat untuk ditanggung oleh Abu Talib lalu menyampaikannya kepada Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam.
Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam menjawab kepada Abu Talib, “Hai bapa saudaraku! Demi ALLAH, jika mereka meletakkan matahari di sebelah kananku dan bulan di sebelah kiriku supaya aku meninggalkan urusan ini, sehinggalah ALLAH menzahirkan kemenangannya atau aku terkorban di jalannya, nescaya aku tidak akan meninggalkannya”. Kemudian Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam menangis dan bangun. Mendengarkan kata-kata Baginda, lantas Abu Talib memanggil Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam yang ingin beredar dan berkata, “Wahai anak saudaraku, katalah apa yang kamu suka, demi ALLAH, aku tidak akan menyerahkan engkau kepada sesiapa pun selama-lamanya.”
Melihat Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam terus berdakwah, maka tahulah musyrikin Makkah bahawa Abu Talib tetap memberikan perlindungan kepada Baginda. Pujukan demi pujukan dan tawaran demi tawaran yang diberikan, Abu Talib tetap dengan keputusannya untuk melindungi anak saudaranya, Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam.
Tindakan Semakin Ganas Terhadap Rasulullah SAW
Dengan kegagalan untuk memujuk Abu Talib agar bekerjasama dengan pembesar Quraisy, perasaan benci mereka semakin meluap-lupa untuk membunuh Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam. Mereka tekad dengan kebencian mereka.
Antaranya Nabi sallAllahu `alaihi wasallam pernah di tarik baju dan diludah oleh `Utaybah bin Abu Lahab, tetapi ludahan itu tidak mengena muka mulia Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam. Pernah juga Baginda dipijak lehernya ketika sedang sujud oleh `Uqbah bin Abi Mu`ayyat. Abu Jahal pernah mengangkat seketul batu yang besar untuk dihempap ke atas Baginda ketika sedang sujud. Tetapi dia tidak meneruskan niatnya kerana ketakutan apabila terlihat seekor unta jantan yang sangat garang menghalangnya. Abu Jahal juga pernah memukul Nabi sallAllahu `alaihi wasallam dengan seketul batu hingga berdarah kepala Baginda. Pernah juga Baginda dikepung dan dicekik oleh sekumpulan lelaki, namun diselamatkan oleh Abu Bakar as-Siddiq.
Hamzah dan Umar Al-Khattab RadhiAllahu ‘anhuma Memeluk Islam
Dalam keadaan yang genting di mana Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam selalu diancam akan keselamatan nyawanya, pada ketika itulah ALLAH Ta`ala telah mentaqdirkan 2 orang yang gagah perkasa serta digeruni oleh seluruh kaum Quraisy memeluk Islam. Hamzah bin `Abd al-Muttalib radhiAllahu ‘anhu telah memluk Islam pada bulan Zulhijjah tahun ke-6 kenabian. Manakala `Umar al-Khattab radhiAllahu `anhu telah memeluk Islam 3 hari selepas Hamzah radhiAllahu `anhu memeluk Islam.
Dengan keIslaman 2 individu ini, maka Islam telah dikuatkan. Ummat Islam semakin berani untuk beribadah secara terang-terangan dan malah beribadah di sisi Ka`bah. Mereka tidak takut lagi untuk berkumpul dan duduk berhalaqah di sekitar masjid dan untuk bertawaf di Ka`bah. KeIslaman 2 individu ini memberikan keuntungan yang besar kepada perjuangan dakwah Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam.
Pembesar Quraisy Berdepan Dengan Rasulullah SAW
Setelah Hamzah bin `Abd al-Mutallib dan `Umar bin al-Khattab radhiAllahu `anhuma memeluk Islam, pembesar-pembesar Makkah mula mengambil pendekatan diplomasi dengan Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam. Namun , semua itu tidak berjaya. Tawaran-tawaran yang diberikan oleh musyrikin Makkah, antaranya oleh `Utbah bin Rabi’ah tidak diendah oleh Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam. Jawapan yang diberikan oleh Baginda dengan membacakan ayat 1-5 dari surah Fussilat telah membuatkan `Utbah terdiam dan kaku. Di dalam riwayat lain, dikatakan apabila Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam sampai pada ayat ke-13 dari surah Fussilat, `Utbah merayu agar diberhentikan ayat itu kerana bimbang ancaman itu tertimpa kepada kaum musyrikin.
Melihat perkembangan yang terjadi terhadap Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam, Abu Talib semakin risau dengan keselamatan anak saudaranya. Kerana nampaknya penduduk Makkah semakin tekad dengan usaha jahat mereka untuk menghapuskan Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam dan dakwah Baginda. Dengan itu, Abu Talib telah mengumpulkan Bani Hashim dan Bani `Abd Al-Muttalib untuk mengajak agar diberi perlindungan kepada Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam. Mereka bersetuju dengan cadangan Abu Talib atas dasar semangat kekeluargaan Arab. Tetapi, Abu Lahab berkecuali. Dia berpihak dengan kaum Quraisy yang lain.
Allahumma solli `ala Muhammad wa `ala ali Muhammad…
- www.muzir.wordpress.com
Peta Habsyah (credit to: sirahnabawiyyah.blogspot)
Penindasan oleh musyrikin Makkah semakin dahsyat pada pertengahan tahun ke-5 kenabian. Orang-orang Islam mula berasa tidak selamat tinggal di Makkah. Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam sangat memahami keadaan ini. Pada saat itu, turunlah surah al-Kahfi yang menceritakan tentang 3 hal, iaitu tentang Ashabul-Kahfi, kisah antara Nabi Musa dengan Nabi Khidir dan kisah Zulkarnain. Ketiga-tiga kisah ini memberikan jawapan kepada Baginda dalam berhadapan dengan situasi yang semakin sempit itu.
Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam telah mengetahui tentang kisah seorang raja Habsyi yang adil bernama Ashamah al-Najashi. Tidak ada seorang pun yang dizalimi olehnya. Lalu Baginda sallAllahu `alaihi wasallam telah menyuruh sebahagian ummat Islam agar melarikan diri ke Habsyah untuk menyelamatkan diri. Peristiwa ini berlaku pada bulan Rejab tahun ke-5 kenabian. Kumpulan ini terdiri daripada 12 orang lelaki dan 4 orang wanita. Mereka diketuai oleh `Uthman bin `Affan. Ruqayyah, puteri Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam turut bersama di dalam kumpulan ini. Di Habsyah, mereka mendapat tempat kediaman yang lebih baik.
Penindasan yang semakin berat oleh musyrikin Makkah telah membuat Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam mencadangkan agar sebahagian ummat Islam berhijrah ke Habsyah seperti kumpulan pertama. Hijrah kali ini lebih sukar kerana musyrikin Makkah telah bersiap sedia lebih awal untuk menggagalkannya. Namun, dengan izin ALLAH Ta’ala, mereka dapat juga meloloskan diri berhijrah ke Habsyah. Kumpulan ke-2 ini lebih ramai, iaitu seramai 83 orang lelaki dan 28 orang wanita.
Wakil Quraisy ke Habsyah
Musyrikin Makkah tidak senang dengan kesenangan yang diperolehi oleh orang-orang islam di Habsyah. Mereka telah menghantar 2 orang yang gagah dan pintar iaitu `Amru bin al-`As dan `Abdullah bin Abi Rabi’ah (sebelum mereka berdua masuk Islam). Mereka berdua telah diutuskan untuk bertemu dengan Raja Najashi dengan membawa pelbagai hadiah.
Ja’far bin Abu Talib yang menjadi jurucakap kepada kumpulan ummat Islam di Habsyah telah berdialog dengan Raja Najashi dengan penuh hikmah. Hasilnya mereka telah mendapat perlindungan dan jaminan daripada Raja Najashi sehingga mereka digelar Shuyum oleh beliau. Shuyum dalam bahasa Habsyah bererti orang-orang yang selamat. `Amru bin al-`As dan `Abdullah bin Abi Rabi’ah terpaksa balik dengan kecewa, malah dipulangkan balik hadiah-hadiah yang mereka bawa sebagai tanda ketidaksudian Raja Najashi.
Orang Quraisy Mengancam Abu Talib
Abu Talib yang merupakan bapa saudara Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam telah diberi kata dua oleh musyrikin Makkah, iaitu akan berlaku pertumpahan darah sekiranya dakwah Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam tidak dihentikan. Ancaman itu sangat berat untuk ditanggung oleh Abu Talib lalu menyampaikannya kepada Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam.
Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam menjawab kepada Abu Talib, “Hai bapa saudaraku! Demi ALLAH, jika mereka meletakkan matahari di sebelah kananku dan bulan di sebelah kiriku supaya aku meninggalkan urusan ini, sehinggalah ALLAH menzahirkan kemenangannya atau aku terkorban di jalannya, nescaya aku tidak akan meninggalkannya”. Kemudian Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam menangis dan bangun. Mendengarkan kata-kata Baginda, lantas Abu Talib memanggil Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam yang ingin beredar dan berkata, “Wahai anak saudaraku, katalah apa yang kamu suka, demi ALLAH, aku tidak akan menyerahkan engkau kepada sesiapa pun selama-lamanya.”
Melihat Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam terus berdakwah, maka tahulah musyrikin Makkah bahawa Abu Talib tetap memberikan perlindungan kepada Baginda. Pujukan demi pujukan dan tawaran demi tawaran yang diberikan, Abu Talib tetap dengan keputusannya untuk melindungi anak saudaranya, Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam.
Tindakan Semakin Ganas Terhadap Rasulullah SAW
Dengan kegagalan untuk memujuk Abu Talib agar bekerjasama dengan pembesar Quraisy, perasaan benci mereka semakin meluap-lupa untuk membunuh Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam. Mereka tekad dengan kebencian mereka.
Antaranya Nabi sallAllahu `alaihi wasallam pernah di tarik baju dan diludah oleh `Utaybah bin Abu Lahab, tetapi ludahan itu tidak mengena muka mulia Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam. Pernah juga Baginda dipijak lehernya ketika sedang sujud oleh `Uqbah bin Abi Mu`ayyat. Abu Jahal pernah mengangkat seketul batu yang besar untuk dihempap ke atas Baginda ketika sedang sujud. Tetapi dia tidak meneruskan niatnya kerana ketakutan apabila terlihat seekor unta jantan yang sangat garang menghalangnya. Abu Jahal juga pernah memukul Nabi sallAllahu `alaihi wasallam dengan seketul batu hingga berdarah kepala Baginda. Pernah juga Baginda dikepung dan dicekik oleh sekumpulan lelaki, namun diselamatkan oleh Abu Bakar as-Siddiq.
Hamzah dan Umar Al-Khattab RadhiAllahu ‘anhuma Memeluk Islam
Dalam keadaan yang genting di mana Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam selalu diancam akan keselamatan nyawanya, pada ketika itulah ALLAH Ta`ala telah mentaqdirkan 2 orang yang gagah perkasa serta digeruni oleh seluruh kaum Quraisy memeluk Islam. Hamzah bin `Abd al-Muttalib radhiAllahu ‘anhu telah memluk Islam pada bulan Zulhijjah tahun ke-6 kenabian. Manakala `Umar al-Khattab radhiAllahu `anhu telah memeluk Islam 3 hari selepas Hamzah radhiAllahu `anhu memeluk Islam.
Dengan keIslaman 2 individu ini, maka Islam telah dikuatkan. Ummat Islam semakin berani untuk beribadah secara terang-terangan dan malah beribadah di sisi Ka`bah. Mereka tidak takut lagi untuk berkumpul dan duduk berhalaqah di sekitar masjid dan untuk bertawaf di Ka`bah. KeIslaman 2 individu ini memberikan keuntungan yang besar kepada perjuangan dakwah Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam.
Pembesar Quraisy Berdepan Dengan Rasulullah SAW
Setelah Hamzah bin `Abd al-Mutallib dan `Umar bin al-Khattab radhiAllahu `anhuma memeluk Islam, pembesar-pembesar Makkah mula mengambil pendekatan diplomasi dengan Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam. Namun , semua itu tidak berjaya. Tawaran-tawaran yang diberikan oleh musyrikin Makkah, antaranya oleh `Utbah bin Rabi’ah tidak diendah oleh Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam. Jawapan yang diberikan oleh Baginda dengan membacakan ayat 1-5 dari surah Fussilat telah membuatkan `Utbah terdiam dan kaku. Di dalam riwayat lain, dikatakan apabila Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam sampai pada ayat ke-13 dari surah Fussilat, `Utbah merayu agar diberhentikan ayat itu kerana bimbang ancaman itu tertimpa kepada kaum musyrikin.
Melihat perkembangan yang terjadi terhadap Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam, Abu Talib semakin risau dengan keselamatan anak saudaranya. Kerana nampaknya penduduk Makkah semakin tekad dengan usaha jahat mereka untuk menghapuskan Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam dan dakwah Baginda. Dengan itu, Abu Talib telah mengumpulkan Bani Hashim dan Bani `Abd Al-Muttalib untuk mengajak agar diberi perlindungan kepada Nabi Muhammad sallAllahu `alaihi wasallam. Mereka bersetuju dengan cadangan Abu Talib atas dasar semangat kekeluargaan Arab. Tetapi, Abu Lahab berkecuali. Dia berpihak dengan kaum Quraisy yang lain.
Allahumma solli `ala Muhammad wa `ala ali Muhammad…
- www.muzir.wordpress.com
Subscribe to:
Posts (Atom)