Showing posts with label Solat. Show all posts
Showing posts with label Solat. Show all posts

Friday, August 16, 2013

Wajibkah membaca Al-Fatihah dalam sholat jahriyah?

Admin : Topik ini masih dalam ranah diskusi, tulisan ringan berikut dimaksudkan membuka diskusi lanjut dalam permasalahan ini.Penulis dalam hal ini menguatkan pendapat akan wajibnya membaca al-fatihah walaupun dalam sholat jahriyah dibelakang imam
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,
Sebelumnya saya buka, dengan mengingatkan bahwa para ulama berselisih pendapat salafan wa khalafan, hingga para sahabat telah berselisih dalam hal ini.Oleh karenanya mengenai membaca dibelakang imam,sungguh bijak ucapan seorang ulama “in qoro’ta falaka salaf, wa in sakatta falaka salaf” (jika engkau membaca maka anda punya pendahulu,demikian juga bila anda diam).Tentunya hal ini jika permasalahan ini tidak jelas mendudukkan dalil dan ucapan yang ada bagi kita.Adapun jika sudah jelas,maka sebagaimana ucapan Al-Imam Asy-Syafi’i :Telah ijma’ kaum muslimin bahwasannya jika seseorang telah jelas baginya sunnah Rasulillah shalallah ‘alaihi wasalam tidak ada baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut hanya karena ucapan seseorang diantara manusia.
Fabillah nasta’in
Ulama berbeda pendapat kedalam tiga pemahaman dalam masalah ini (lihat file yang dikirim Abu Ishaq yang berjudul : “Hukmu Qiroatil Fatihah Li Makmum (Mukhtashor kalam Ibn Taimiyah fi hukmil qiroah khalfal imam)“.Saya berikan tambahan seperlunya.
1. Wajib diam mendengarkan bacaan Imam jika bacaannya dikeraskan.Apabila tidak terdengar bacaab Imam,misalkan karena jauh maka wajib membaca.Pendapat inilah yang dirajihkan dalam artikel tersebut, yang berarti inilah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.Berbaris dalam barisan ini diantaranya Abu Darda radhiallahu ‘anhu, Imam Malik bin Anas,dan lainnnya.
2. Wajib membaca al-fatihah secara mutlak baik dalam shalat jahriyah atausirriyah, juga baik mendengar suara imam maupun tidak.Berbaris dalam pendapat ini diantaranya:Umar bin Khattab,Ubadah bin Shamit,Abdullah bin Amr bin ‘Ash,Abu Hurairah radhiallahu ‘anhum jami’an,Imam Syafi’i dalam qoul jadidnya,Ishaq bin Rahawaih,Imam Al-Bukhari,Imam Asy-Syaukani,dan lain-lain.Pendapat inilah yang sedang dibantah dalam artikel “Hukmu Qiroatil Fatihah Li Makmum (Mukhtashor kalam Ibn Taimiyah fi hukmil qiroah khalfal imam)”.
3.Tidak wajib membaca,baik dalam shalat jahriyah maupun sirriyah.Diantara yang berpendapat seperti ini adalah Ali bin Abi Thalib,Zaid bin Haritsah,Jabir bin Abdillah,Sa’ad bin Abi Waqqash,Abdullah bin Mas’ud,Imam Abu Hanifah dan lainnya.
Pendapat pertama, seolah dipilih sebagai jalan tengah dari dua kutub berlawanan dari pendapat kedua dan ketiga yang saling berseberangan.
Jawaban Atas Artikel kiriman Saudara Abu Ishaq yang berjudul “Hukmu Qiroatil Fatihah Li Makmum (Mukhtashor kalam Ibn Taimiyah fi hukmil qiroah khalfal imam)”.
Karena berupa artikel,maka saya jawab yang sebagian besarnya saya ambil dari artikel ringan juga yang berjudul Al-Adillah ‘Ala Rukniyah Qiro’ah Al-Fatihah Lil- ma’mum wa roddu ‘alal Mukhaliftulisan dari Abu Abdirrahman Muhammad bin Imran.Point-point berikut hanya jawaban dari pokok argumen artikel tersebut, disamping sekaligus ada tambahan untuk argument yang tidak disebutkan dalam artikel tesebut.
Berdalil dengan surat Al-A’rof 204 :Wa idza quri-al qur’an fastami’uu lahu wa anshituu la’allakum turhamun”(Dan apabila dibacakan al-Qur’an,maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat).
Al-Jawab :
Sisi pertama, ketahuilah bahwa hadist-hadist yang sharih bahwa al-fatihah itu wajib adalah umum.
1. Dalam riwayat muslim,tirmidzi,An-Nasai,Abu Daud, Ibnu Majah,Imam Ahmad dan Imam Malik disebutkan, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berkata (dalam lafadz riwayat Imam Ahmad):
(( أَيُّمَا صَلَاةٍ لَا يُقْرَأُ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثُمَّ هِيَ خِدَاجٌ ثُمَّ هِيَ خِدَاجٌ))
(Shalat apa saja yang tidak dibaca didalamnya surat Al-Fatihah maka shalatnya rusak kemudian rusak dan rusak.)
(Khidaz disebutkan oleh Imam Albani dalam bukunya,artinya “An-Nuqshon wal fasad”)
Perhatikan yang saya garis bawahi (ayyuma sholatin).Huruf (Ayyu) menurut ulama ushul disebutkan sebagai minal huruf allati tadullu ‘alal umum (huruf yang menujukkan makna umum).Ditambah lagi bahwa kata “sholatin” yang berbentuknakiroh yang bermakna umum juga.Nabi tidak membedakan shalat imam atau shalat makmum, juga tidak membedakah shalat jahriyah ataupun sirriyah.Kaidah ushul mengatakan :
أن الأصل في العام أن يبقى على عمومه حتى يدل الدليل على التخصيص
(Asal dalam bentuk umum adalah tetap pada keumumannya sampai datang dalil yang menunjukkan kekhususannya)
Seandainya memang disana ada pengecualian, maka tentunya Nabi akan mengatakan :“Kecuali bagi makmum” atau “Kecuali bagi yang shalat dibelakang imam” atau yang semakna dengan ini
2.Hadist Ubadah bin Shamit, hadist muttafaqun ‘alaih:
(( لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ ))
(Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat Al-Fatihah)
Kembali perhatikan yang saya garis bawahi (laa shalata). Kata shalat bentuknya nakiroh.Adalah kaidah mengatakan :
أن النكرة في سياق النفي تدل على العموم
(Bahwa Nakirah dalam bentuk nafyu (peniadaan) menunjukkan makna umum)
Nabi menjelaskan bahwa shalat tidaklah sah apabila tidak membaca Al-Fatihah,sama saja apakah sebagai makmum atau ketika shalat sendiri atau ketika menjadi imam.Yang menunjukkan akan wajibnya membaca Al-Fatihah ini adalah kalimat “Laa shalata” sebagai peniadaan (nafyu).
Asal dari peniadaan adalah peniadaan wujud (nafyun lil wujud),apabila tidak mungkin dengan makna ini,maka nafyu tersebut dibawa kepada peniadaan keabsahan (nafyun lilshihhah).Dan apabila tetap tidak mungkin dengan makna kedua ini, maka dibawa maknanya kepada peniadaan kesempurnaan (nafyun lilkamal).Inilah urutan dari an-nafyu.
Contoh :
-Laa kholiqo illallah (tidak ada pencipta selain Allah ), maka peniadaan disini peniadaan wujud.
-Laa sholata bighoiri wudhu’ (tidak ada sholat dengan tanpa wudhu), maka peniadaan disini peniadaan keabsahan (sah).Karena bisa saja sholat dilakukan tanpa wudhu sebelumnya.
-Laa sholata bihadhroti tho’amin (tidak ada sholat dengan hadirnya makanan),maka peniadaan disini adalah peniadaan kesempurnaan.Karena sholat tetap sah walaupun dihadapannya tersedia makanan.
Setelah memahami perbedaan diatas, bagaimana penilaian kita dengan hadist Nabi “Laa sholata liman lam yaqro’ bifatihatil kitab”?Jawab : Mungkinkah orang shalat tanpa membaca Al-Fatihah? Mungkin saja!.Olehkarenanya penafian disini bukanlah penafian wujud.Maka penafian disini bisa dipastikan penafian urutan kedua, yakni penafian keabsahan (sah).Maka kita katakan bahwa tidak sah shalat tanpa membaca Al-fatihah.
Kaidah mengatakan :
الأصل في النصوص العامة أن تبقى على عمومها ، فلا تخصَّصُ إلا بدليل شرعيٍّ ، إما نصٌّ ، أو إجماعٌ ، أو قياس صحيح
(Asal dalam nash yang umum adalah tetap pada keumumannya, tidaklah dikhususkan kecuali dengan dalil syar’iy baik itu nash atau ijma’ atau qiyah yang shahih)
Pertanyaan , adakah disebutkan disana sesuatu yang mengkhususkan?
Sisi kedua,jawaban atas pendalilan dengan ayat “Wa idza quri-al qur’an fastami’uu lahu wa anshituu la’allakum turhamun“
Berkata Imam Ahmad,bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dalam sholat.Maka ayat ini menunjukkan bahwa selayaknya bagi makmum untuk diam dan sibuk untuk mendengarkan bacaan alquran dari imam.
Al-Jawab:
Pertama,
Bahwa ayat yang kita bahas ini adalah umum (‘aam), adapun hadist-hadist tentang kewajiban membaca AL-Fatihah yang sudah saya sampaikan sebelumnya adalah kekhususan. Kaidah mengatakan :
إذا تعارض النص الصريح في المسألة مع غيره مما هو أعم فإنه يقدم الصحيح الصريح
(Apabila bertentangan nash yang shorih (gamblang) dalam suatu masalah dengan nash yang lainnya yang lebih umum,maka dikedepankan nash yang shahih dan gamblang tadi)
Ingat hadist Bukhari tentang kejadian shalat subuh Rasulullah.Rasulullah merasa terganggu oleh bacaan salah seorang makmum.Setelah shalat beliau bertanya : “Benarkah kalian tadi turut membaca bersama imam?” Kami menjawab:”Ya, tetapi dengan cepat,wahai Rasulullah” Beliau bersabda:“Kalian tidak boleh melakukannya kecuali [membaca] Al-Fatihah,karena tidak sah sholat seseorang jika tidak membacanya dalam sholat”
Mana yang lebih umum antara ayat Al-A’rof dengan hadist diatas ini? Al-Jawab : Ayat Al-A’rof lebih umum, walaupun keduanya bisa dikatakan umum (dalam artian bahwa hadist ini bisa dikhususkan untuk shalat sirriyah).Tetapi hadist ini sebagaimana yang beberapa kali saya dengar diungkapkan Al-Imam Ibnu Utsaimin adalah nash yang shorih tentang kewajiban Al-Fatihah.Dengan kaidah ini maka selayaknya yang didahulukan adalah hadist ini bukan ayat Al-A’rof.
Kedua,
Hadist Ubadah :,Laa shalata li man lam yaqro’ bifatihatil kitab seolah bertentangan dengan ayat Wa idza quri-al qur’an fastami’uu lahu wa anshituu la’allakum turhamun
Ungkapan Laa shalata menunjukkan syarat sah shalat,sehingga kewajiban membacanya adalah lebih kuat dari ayat Al-A’rof ini.Karena ayat Al-A’rof menunjukkan kewajiban mendengar,dan kewajiban mendengar tidaklah bertentangan dengan kewajiban sebagai rukun.Dasar pijakannya adalah sebagai berikut:
Kaidah mengatakan :
إذا تعارضت الأركان والواجبات قدمت الأركان على الواجبات
(Apabila bertentangan antara rukun-rukun dan kewajiban-kewajiban maka dikedepankan rukun atas kewajiban)
Membaca Al-Fatihah adalah kewajiban sebagai rukun dari sholat.Adapun wajib diam mendengar Al-Quran adalah kewajiban namun bukan rukun.Maka seharusnya didahulukan kewajiban sebagai rukun
Mungkin ada yang akan mengatakan, bahwa Al-Fatihah itu sebagai rukun adalah sebatas ijtihad ulama.Jadi kedudukannya sama ,antara dua kewajiban yang bertentangan.Satu kewajiban membaca dan yang lain kewajiban mendengar.Sehingga tidak bisa diterapkan kaidah diatas ini.Maka kami jawab sebagai berikut :
Ketahuilan bahwa ada dua jenis wajib : Wajib muttashil (Berkaitan langsung) dan wajib munfashil (terpisah).Hadist Al-Fatihah jelas berkaitan erat (muttashil) dengan shalat.Sedangkan ayat Al-A’rof kewajibannya terpisah (munfashil)
Kaidah mengatakan:
إذا تعارض الواجب المتصل بعبادة المكلف مع الواجب المنفصل ؛ فإنه يُقدم المتصل الذي أمر به إلزاماً على من فصل عنه
Apabila bertentangan antara wajib muttashil (berkaitan dengan ibadah tertentu) dengan kewajiban yang munfashil (terpisah tidak berkaitan langsung) maka didahulukan yang muttashil tadi dari yang munfashil.
Ketiga,
Adalah mungkin membaca Al-Fatihah dalam keadaan Imam berhenti sebentar sebelum membaca surat.Walaupun tidak ada dalil yang kuat Imam mesti berhenti sebentar, akan tetapi jika kebetulan kita bermakmum pada imam yang seperti ini ,maka kita lebih lagi wajib membacanya
Dalam kitab Al-Inshaf fi ma’rifati Ar-rajih Minal Khilaf disebutkan demikian :”Dianjurkan membaca Al-Fatihah disaat imam berhenti membaca.Inilah pendapat yang dipilih dalam manhaj dan juga merupakan pendapat jumhur ulama.Bahkan ada yang mengatakan wajib membaca Al-Fatihah tatkala imam berhenti membaca”
Berdalil dengan hadist:”Imam dijadikan sebagai anutan makmum.Jika ia bertakbir,bertakbirlah kalian dan jika ia membaca,diamlah kalian”(lihat shifat sholat Nabi oleh Imam Albani rahimahullah
Jawab : “Dan apabila imam membaca,maka diamlah” .Na’am (iya) kami sepakat diam,KECUALI surat Al-Fatihah.Disamping itu sanad hadist ini walaupun berterima akan tetapi lebih lemah dari tingkatan hadist-hadist yang menetapkan dengan jelas wajibnya membaca Al-Fatihah.Ulama Ushul mengatakan agar didahulukanAl-Ashohhu ‘ala As-Shohih (Yang lebih shahih atas yang shahih),didahulukan Al-aqwa ‘ala maa huwa qowiy (yang lebih kuat atas yang kuat),didahulukan Al-qowiy ‘ala Adh-dho’if (yang kuat atas yang lebih lemah), didahulukan Ash-Shahih ‘ala al-hasan (yang shahih atas yang hasan).
Berdalil dengan hadist:”Barangsiapa shalat dibelakang imam maka bacaan imam adalah bacaannya (man kaana lahu imam fa qiro-atuhu lahu qiro-ah)
Jawab : Sebagian ulama mengatakan bahwa hadist ini tidak shahih.Sekalipun shahih, maka membaca Al-Fatihah adalah kekhususan yang diperintahkan membacanya.
Berdalil dengan adanya naskh
Al-Jawab : Al-Imam Albani rahimahullah dalam kitab nya yang sangat “hebat”, yakni “Al-Ashlu Sifat Sholat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam minat takbir ilat taslim ka-annaka taroha” menulis sub bab pada hal 327-364 (Maktabah Al-Ma’arif cetakan tahun 2006) “Naskhul qiro-ah waro-al imam fil jahriyah” (Dihapuskannya hukum membaca dibelakang imam dalam sholat yang dikeraskan bacaannya)
Beliau mengatakan,pada awalnya makmum dibolehkan membaca surat Al-Fatihah dibelakang imam dalam sholat jahr,sebagaimana pernah terjadi pada waktu sholat shubuh.Rasulullah merasa terganggu oleh bacaan salah seorang makmum.Setelah shlat beliau bertanya : “Benarkah kalian tadi turut membaca bersama imam?” Kami menjawab:”Ya, tetapi dengan cepat,wahai Rasulullah” Beliau bersabda:”Kalian tidak boleh melakukannya kecuali [membaca] Al-Fatihah,karena tidak sah sholat seseorang jika tidak membacanya dalam sholat”
Di naskh oleh apa? Al-Imam Albani membawakan dalil kedua sebagai penghapus hukum hadist pertama diatas :
“Adakah seseorang diantara kalian tadi membaca Al-Quran bersamaan dengan aku membaca?” Seseorang menjawab:”Ya,saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah mengatakan :”Aku katakan kepadamu mengapa aku diganggu (sehingga bacaanku terganggu)?”Abu Hurairah berkata :Kemudian para sahabat berhenti membaca al-Quran bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam membacanya dengan suara keras dan bacaan itu mereka dengar [dan mereka membaca sendiri tanpa suara bila imam tidak mengeraskan bacaannya]“
Hadist ini bermasalah akan keshahihannya dan juga pada ucapan Abu Hurairah.Sebagian ulama mengatakan bahwa lafadz tersebut bukan dari Abu Hurairoh, akan tetapi dari Az-Zuhri.Diantaranya yang berpendapat demikian adalah Al-Imam Al-Bukhari.Seandainya benar itu lafadz Az-Zuhri maka hukum hadist ini mursal munqothi’ karena Az-Zuhri seorang tabi’in sehingga tidak boleh berhujjah dengan dalil ini (ini pandangan Imam Albani sendiri pada hal.339).Dan juga, Abu Hurairoh dengan lafadz tegas dalam riwayat Muslim, menyatakan bahwa dalam sholat jahar pun makmum tetap membaca Al-Fatihah.
Taruhlan ini hadist yang berterima dan lafadz “intahan naas…”(manusia kemudian berhenti dari membaca dibelakang imam) adalah ucapan Abu Hurairoh,maka alhamdulillah saya temukan Al-Imam Ibnu Utsaimin menjawab pendapat naskh ini,bahwa hal tersebut tidak tepat karena diantara syarat naskh (penghapusan hukum) adalah tidak mungkinnya dilakukan jama’.Padahal sangat mungkin dilakukan jama diantara keseluruhan dalil, yakni bahwa al-fatihah adalah kekhususan dari lafazd-lafadz dalil yang umum.Silahkan mendengarkan kajian beliau ketika membahas Nailul Author Bab Sholat, ,terutama pada nomor kaset 3 side B dan No.2 side B.Juga jangan tinggalkan nomor kaset 1A,1B,2A,4A.Silahkan bisa diunduh kajian beliau di
Saya bawakan dari Al-Ushul min ‘ilmil ushul karya Imam Ibnu Utsaimin tentang syarat naskh ini sebagai berikut:
1.Tidak mungkinnya menjama’ antara dua dalil,jika memungkinkan jama’ maka tidak ada naskh
2.Mengetahui bahwa nasikh (dalil yang menghapus hukum) datangnya paling akhir (dari dalil yang mansukh),baik dengan nash atau khabar dari sahabat atau tarikh
3.Keberadaan nasikh (dalil yang menghapus hukum) disyaratkan oleh jumhur harus lebih kuat dari dalil yang dimansukh atau minimal satu level.Maka dalil yang mutawatir tidak boleh dihapus hukumnya oleh dalil yang ahad.Tetapi yang rajih adalah tidak disyaratkan point ketiga ini.
Ketiga atau minimalnya kedua syarat diatas tidak dipenuhi, dalam berpendapat“Naskh”.Allahu a’lam. Dan juga Imam Albani pun jujur dalam footnote bahwa beliau tidak punya dalil (nash) mana yang datang duluan dan terakhir dari dua dalil diatas yang dikatakan beliau yang satu nasikh dan yang lainnya mansukh.Yang beliau pakai adalah logika bahwa tidak mungkin larangan (an-nahyu) datang lebih awal.InsyaAllah kaidah Imam Ibnu Utsaimin menurut saya lebih tepat yakni tidak bisa diterapkan hukum naskh ini
Sehingga, karena tidak ada dalil untuk mengetahui mana yang datangnya lebih awal atau belakangan dari dua dalil yang nampaknya bisa terjadi nasikh mansukh ini.Kaidah mengatakan :
النسخ لا يثبت بالاحتمال
An-Naskh tidak tsubut jika adanya kemungkinan
Ada yang mengatakan begini :”Siapa yang mendakwa bahwa Hadist Abu Hurairoh“fa intahannaas ‘anil qiroah fima yajharu fihi An-Nabiyyu shalallahu ‘alaihi wasalam” (Maka berhentilah para sahabat dari membaca pada sholat yang mana Rasulullah mengeraskan bacaannya) adalah menghapuskan dalil tentang membacanya sahabat dalam sholat shubuh maka Al-Hazimi dalam kitab Al-I’tibar (Hal 72-75) mendakwa kebalikannya yakni menjadikan dalil-dalil kewajiban membaca Al-Fatihah menghapuskan dalil-dalil larangan membaca dibelakang imam”
Lantas, apakah benar tidak mungkin menjama’? Abu Hurairoh memandang tidak demikian ketika ditanya bagaimana tentang makmum yang membaca dibelakang imam sedangkan ada dalil yang mengharuskan diam, Abu Hurairoh menjawab :“Iqro biha yaa farisi fi nafsika”
Berdalil dengan cara berpikir “Apa faidah Imam membaca kalau begitu, jika makmum sibuk membaca Al-Fatihah? atau “Apa gunanya Imam membaca keras?”
Jawaban :Kami katakan in adalah qiyas atau logika yang berhadapan dengan nash,sedangkan
القياس في مقابلة النصِّ مُطَّرَح
Qiyas yang menyelisihi nash harus diabaikan (dibuang)
Berdalil dengan shahihnya tambahan kalimat “fasho’idan” dalam hadist “La sholata liman lam yaqro [fiha] bifatihatil kitab [fasho'idan] (lihat Sifat Sholat Nabi oleh Imam Albani),
“Fasho’idan” itu kurang lebih artinya “selebihnya atau tambahan” (tergantung kalimatnya).Sehingga artinya :”Tidak ada sholat bagi yang tidak membaca didalamnya Al-Fatihah dan tambahan selebihnya (maksudnya surat)” Dalam artikel “mukhtashor kalam ibn taimiyah” ini dikatakan bahwa hal ini menunjukkan hadist ini berlaku bagi Imam bukan makmum karena tidak ada yang mengatakan bahwa meninggalkan mendengar secara keseluruhan baik al-fatihah dan surat itu baik serta tidak ada samasekali perintah bagi makmum membaca selain al-fatihah dibelakang imam.
Jawab: Iya, kami sepakat tambahan ini shahih.Dan baiklah taruhlah kami terima pendapat bahwa hadits ini beserta tambahannya khusus bagi Imam.Olehkarenanya anda harus dikatakan “Bagi Imam itu wajib membaca Al-Fatihah dan Surat“
Akan tetapi bukankah tambahan surat setelah al-fatihah itu sunnah bukan wajib.Bahkan ketahuilan adalah ijma’ bahwa membaca surat itu tidak wajib. Kalau anda mengatakan bilang wajib,cobalah beri keterangannya!”
Baiklah kita bawakan saja ucapan ulama.Berkata Al-Mundziri :Kemudian ucapan“fasho’idan” dzahirnya menunjukkan wajib membaca tambahan (surat) setelah Al-Fatihah dengan makna akan batal sholat tanpa membaca surat.(Padahal) telah sepakat atau umumnya mereka (ulama) atas tidak wajibnya membaca surat ini.Dan sepertinya mereka membawanya kepada makna “dan tambahan surat” adalah ahsan.Allahu a’lam”
Ada juga yang memaknai maksud “tambahan setelah Al-Fatihah” disini adalah rukun-rukan selain al-fatihah seperti ruku,sujud dan lainnya.
Allahu A’lam
Juga mohon koreksinya.

Abu Umair As-Sundawy

  1. Ahmad berkata

    Admin : Pertanyaan di milis ini kami masukkan ,sebagai tambahan
    Ana baca penjelasan antum ,namun masih ada yang mengganjal di hati…
    Jika ujungnya adalah antum berpendapat bahwa tidak sah shalat bagi mereka yang tidak membaca fatihah, hatta makmum yang berimam, maka apakah
    Ini berarti jika seseorang masbuk dan mendapati imam sudah membaca surat dan sudah selesai, dan ia (imam) hampir ruku, dan kita mengikutinya, itu TIDAK dihitung satu rakaat?
    jika jawabnya dihitung satu rakaat, maka kami tanyakan kembali “bukankah ia tidak membaca fatihah?”,
    jika jawabnya tidak dihitung satu rakaat atau bahkan tidak sah rakaatnya tsb (?), berpindahlah pertanyaan kami kepada “tunjukkan dalilnya bahwa makmum yang masbuk dan tidak sempat membaca fatihah -walau ia masuk ke shaf sambil ruku- TIDAK dihitung satu rakaat…B) ” bahkan yang kami dapati sejauh ini adalah makmum mendapat satu rakat bersama imam jika ia mendapati ruku dengan sempurna, walau masuk shalat sambil ruku (tentunya sudah pasti tidak baca fatihah), sebagaimana yang diamalkan Abu Bakrah, Ibnu Mas’ud (itu saja yang ana tahu sejauh ini)..
    atau masalahnya sudah berbeda lagi, ya?
    Syukran
    Ahmad
    • author berkata

      hadits yg menjelaskan ttg dihitungnya satu rekaat ketika Imam ruku’ adl lemah. Allohu A’lam
  2. Abu Umair As-Sundawy berkata

    Hasanan Ya Akhy,
    Berdiri (qiyam) dalam sholat hukumnya apa Pak? Jika tidak wajib, mana dalilnya? Jika wajib dan tidak sah tanpa berdiri,maka orang yang langsung ruku dia tidak sempat berdiri toh..piye? jawab dulu ini.
    Saya masih dalam satu barisan dengan antum ,bahwa yang mendapati imam ruku’ telah mendapatkan roka’at.Singkat saja jawabannya, sebagaiamana yang dikatakan Al-Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam fatawa arkanul islam.Ujar beliau,bahwa pada saat seperti itu, maka kewajiban membaca Al-Fatihah menjadi terangkat karena dia tidak mendapatkan tempat untuk membacanya.Sebagaimana orang yang buntung tangannya maka keawajibannya terangkat untuk membasuh tangannya ketika wudhu, tidak perlu membasuh lengan atas yang masih tersisa.
    Hal ini dikuatkan juga oleh Al-Imam Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa Ibn Baz 11/234-244 ,beliau berkata :
    قراءة الاستفتاح سنة وقراءة الفاتحة فرض على المأموم على الصحيح من أقوال أهل العلم ، فإذا خشيت أن تفوت الفاتحة فابدأ بها ومتى ركع الإمام قبل أن تكملها فاركع معه ويسقط عنك باقيها لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ( إنما جعل الإمام ليؤتم به ، فلا تختلفوا عليه ، فإذا كبر فكبروا ، وإذا ركع فاركعوا ) متفق عليه
    Membaca doa istiftah adalah sunnah dan membaca Al-fatihah adalah wajib bagi yang sholat dibelakang Imam,berdasar pendapat ulama yang lebih benar.Apabila anda khawatir ketinggalan membaca Al-Fatihah maka mulailah dengan membacanya (tidak perlu membaca doa iftitah). Dan jika Imam ruku sebelum anda selesai membaca al-fatihah maka rukulah bersama Imam dan yang tersisa dari kewajiban membaca Al-Fatihah itu telah terangkat berdasar sabda Nabi :”Imam itu dangkat untuk diikuti,jangan berbeda.Apabila Imam takbir,maka bertakbir.Jika imam ruku, maka ruku’lah …(muttafaqun ‘alaihi)
    Allahu a’lam
    Abu Umair As-Sundawy
  3. Abu Aufa berkata

    Penjelasan Admin :
    Ingat hadist Bukhari tentang kejadian shalat subuh Rasulullah.Rasulullah merasa terganggu oleh bacaan salah seorang makmum.Setelah shalat beliau bertanya : “Benarkah kalian tadi turut membaca bersama imam?” Kami menjawab:”Ya, tetapi dengan cepat,wahai Rasulullah” Beliau bersabda:“Kalian tidak boleh melakukannya kecuali [membaca] Al-Fatihah,karena tidak sah sholat seseorang jika tidak membacanya dalam sholat”
    Pertanyaan saya :
    Akh, ana menemukan hadits yang semakna atau bisa dibilang sama matannya dengan hadits diatas akan tetapi bukan riwayat Imam Bukhari tapi riwayat Imam Abu Dawud, Imam Ahmad, Imam Tirmidzi berikut haditsnya :
    Berkata Imam Abu Dawud (Hadits No 823) : Haddatsana : Abdullah bin Muhammad An Nufailiy Haddatsna : Muhammad bin Salamah an Muhammad bin Ishaq an Mak-hul an Mahmud bin Rabi’ an Ubadah bin Shaamit ia berkata : Kami pernah sholat fajar (shubuh) dibelakang Rasulullah Sholallahu Alaihi Wa Sallam. kemudian Rasulullah Sholallahu Alaihi Wa Sallam membaca, lalu menjadi berat bacaan tersebut atas beliau. maka sesudah selesai (Sholat) beliau bertanya : ” Barangkali kamu membaca dibelakang imam kamu ?” Jawab kami, ” Betul ! dengan cepat-cepat ya Rasulullah.” beliau bersabda , ” Janganlah kamu lakukan kecuali (membaca) surat Al Fatihah, karena sesungguhnya tidak sah sholat bagi orang yang tidak membacanya.”
    Di Sanad hadits ini ada dua orang Mudallis yang melakukan ‘an’anah yaitu :
    1. Muhammad bin Ishaq bin Yasar, seorang yang benar ( Taqribut Tahdzib 2/144)
    2. Mak-hul Asy Syaamy (orang Syam), seorang rawi yang Tsiqah (Mizaanul I’tidal 4/177,178)
    Karena ada dua orang Mudallis yang melakukan ‘An’Anah, maka riwayat Abu Dawud diatas dinamakan hadits mudallas yang termasuk kedalam bagian hadits Dhoif.
    Penjelasan diatas ana baca di buku Pengantar Ilmu Mustholahul Hadits milik Al Ustadz Abdul Hakim Abdat..
    Apakah bisa disebutkan secara lengkap riwayat Imam Bukharinya dan bagaimana dengan penjelasan Ustadz Abdul Hakim diatas ? mohon dijelaskan.. Jazaakallahu Khoiron..
  4. Abu Umair As-Sundawy berkata

    Jalurnya kurang lebih sama nampaknya dari Mak-hul an Mahmud bin Rabi’ an Ubadah bin Shaamit.Tapi ada jalurlain kalau tidak salah.Dikeluarkan oleh beberapa imam ahlil hadist.InsyaAllah saya akan cek, dan bandingkan komentar Al-Ustadz Abdul Hakim hafidzahullah tersebut dengan Imam Al-Albani rahimahullah, karena beliau membawakan hadist ini dalam Sifat Sholat.
    Sekedar tambahan bahwa hadist ini dikeluarkan Al-Imam Bukhari dalam juz al-qiroah nya .Dinyatakan sahih oleh Al-Imam Ibnu Baz dalam fatawanya (11/221).Al-hafidz Ibnu Hajar mengatakan isnadnya hasan.
    Allahu a’lam.Syukran atas komentarnya
    Abu Umair As-Sundawy
  5. Abu Umair As-Sundawy berkata

    Pak Abu Aufa silahkan membaca di Al-Ashlu Sifat Sholat Nabi mulai hal 327-331.(maktabah Al-Ma’arif 2006) oleh Syaikh Albani , bisa didunlod di wqfeya.com.Dalam Notakaki bab Naskhul qiro-ah waro-al imam fil jahriyah
    Agak panjang, saya belum sempat menuliskannya, tapi cuplikannya demikian:
    Hadza hadistsun shohih (ini adalah hadist yang shahih).Dikeluarkan oleh Bukhari (Juz’ul Qiroah (7&22),Abu Daud (1/131)Tirmidzi(2/116-117),At-Thahawi(1/127),Ad-Daruquthni(120),Al-Hakim(1/237),At-Thabrani dalam As-Shoghir(134),Al-Baihaqi(2/164)Ahmad(5/313,316,322),Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (3/236) dari jalan Muhammad bin Ishaq dari Makhul dari Mahmud bin Ar-Rabi’ dari Ubadah bin Shamit.
    Isnadnya jayyid (baik) tidak ada celaan padanya sebagaiman dikatakan Al-Khothobi dalam Al-Ma’alim (1/205).Ibnu Ishaq menjelaskannya dengan “tahdist” pada riwayat Ahmad.Dan Ad-Daruquthni berkata (Isnadnya hasan).Albaihaqi meng i’lal nya.Dan At-Tirmidzi berkata “Hadist hasan”.Dan Alhaqim berkata “Isnadnya mustaqim (lurus)”.Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam “Nataijul afkar fi takhrij ahadistul adzkar” : Ini adalah hadist hasan”.Demikian juga Imam An-Nawawi dalam al-majmu’(3/363) dan Tahdzibul Asma’ (2/170) : “Hadist shoheh”
    Silakan bisa dibaca selengkapnya…………..
    Kesimpulan Syaikh :”Wabil jumlah ,fal hadist shohihun bi majmu’ hadza at-thuruq,hasanun min thoriq ibni ishaq,wadhthirob man tabi’ahu fihi la yadhurru fi riwayatihi” (Secara keseluruhan ini,maka hadist ini shohih atas-jalur-jalur ini,Hasan dari jalan ibnu ishaq,dan kegoncangan yang menyertainya tidak membahayakan dalam riwayatnya)
    Allahu a’lam.Silahkan koreksi.
    Abu Umair As-Sundawy
    Note: Justru yang menarik adalah argumen dan pendapat Syaikh setelah membahas keabsahan hadist ini,bahwa hadist ini tidak bermakna wajib tapi ibahah.Coba rujuk kesana,sangat menarik.
  6. Abu Aufa berkata

    Terus terang ana masih bingung akh mensikapi perbedaan pendapat diantara para ulama dan ahli ilmu dalam hal tashih dan tadh’if sebuah hadits.. apakah kaidah Al Jarh Muqoddamun ‘Ala Ta’dil atau Al Jarh Mufassar Muqoddamun ‘Ala Ta’dil Aam bisa digunakan untuk setiap perbedaan atau bagaimana.??. sebenarnya ingin sekali ana membaca kitab syaikh Albani Al-Ashlu Sifat Sholat Nabi akan tetapi ana belum bisa berbahasa arab akh..
    Jikalau hadits hadist Bukhari tentang kejadian shalat subuh Rasulullah adalah shahih maka ana kira pendapat antum adalah pendapat yang kuat karena dalam hadits tersebut jelas bisa ditangkap Wajibnya membaca Al Fatihah dalam sholat Jahriyyah. akan tetapi dari yang antum bilang walaupun Syaikh Albani menshahihkan hadits ini akan tetapi beliau menjelaskan bahwa hadits tersebut tidak menunjukkan wajibnya Al Fatihah akan tetapi hanya ibahah saja, bisakah antum jelaskan secara ringkas mengapa Syaikh Albani berpendapat seperti itu ??
  7. Abu Umair As-Sundawy berkata

    Pak Abu Aufa, tentang kebingungan antum dalam masalah tashih wa tadh’if, maka ini menjadi kendala bersama umumnya kita.Karena sangat minim orang yang bisa mapan dalam bidang ini,kecuali dengan kesungguhan belajar yang tak kenal lelah.Jika memang tidak punya kemampuan untuk mempelajari sanad,maka tidak mengapa untuk taqlid kepada ahli di bidang ini dengan tetap memperhatikan semua argumennya.
    Adapun tentang wajib dan ibahah dijelaskan cukup panjang oleh Al-Imam Albani dalam footnotenya.Saya coba tuliskan sedikit,ini baru dari sisi argumen beliau.Saya belum menuliskan tulisan yang menta’qib pendapat ini.
    Kata beliau, hadist ini justru sebenarnya menunjukkan larangan membaca dibelakang imam, tetapi untuk al-fatihah maka diperbolehkan.Karena dalam kutub ushul dikatakan :”Annal ististna min hukmin yadullu ‘ala naqidhihi fahasab,wala dilalah lahu ‘ala ziyadah hukmin” atau “annal ististna ba’da an-nahyi la yufidu al-wujub war rukniyah,wa innama yufidu al-ibahah….” Sedikit contoh yang dibawakan Syaikh demikian misalnya perintah kepada anak dibawah umur 7 tahun:”Sholatlah kamu,sesungguhnya tidak ada agama bagi yang tidak sholat”,padahal ijma mengatakan tidak wajib sholat untuk umur dibawah 7,hanya saja ucapan “sesunguhnya tidak ada agama bagi yang tidak sholat”,menujukkan penjelasan sifat sholat pada hakikat asalnya. (Keluasannya yang sangat sarat faidah, silahkan dirujuk langsung kebuku aslinya,disana ada contoh ayat-ayat dengan keserupaan teks seperti ini).Maaf saya belum bisa menuliskan utuh karena keterbatasan waktu.
    Abu Umair As-Sundawy
  8. Heri Setiawan berkata

    kalau ada kasus, bacaan alfatihah imam ndak benar dalam hal mahraj huruf dan panjang pendek bacaan salah, itu gimana..? wajibkah kita mengganti bacaan alfatihah untuk melengkapi rukun sholat..?
  9. Habib Amaluddin berkata

    Kalau benar bacaan Al Fatihah wajib bagi ma’mum, baik pada sholat jahriyah maupun sirriyyah, kapan ma’mum membacanya saat sholat jahriyyah?
    Ana juga masih bertanya-tanya apa faidah dari imam membaca dijahrkan kalau ma’mum membaca Al Fatihah sendiri-sendiri. Bukankah cukup mengaminkan bacaan Al Fatihah imam.
  10. ibnu Muhtadi berkata

    @ Akhi Heri
    berkaitan dengan imam yang tidak menyempurnakan rukun dalam shalat:
    makmum diperbolehkan memisahkan diri dari imam yang tidak membaca makhraj huruf atau tajwid tersebut (yakni bacaannya merubah makna dari bacaan al Fatihah). dalilnya adalah tentang sahabat kecil yang memisahkan diri dari mu’adz bin Jabbal radlillahu’anhuma saat membaca shalat dengan bacaan yang terlalu panjang. maka tidak disempurnakannya rukun (karena membaca al fatihah adalah rukun dalam shalat) adalah lebih boleh lagi bgi si makmum untuk memisahkan diri dari si imam.
    seingat ini adalah fatwa Syeikh Ibnu Utsaimin, hanya saja lupa bentuk pertanyaaannya apakah imam yang tidak tuma’ninah atau tidak membaca Al Fatihah dengan benar.
    Wallahu A’lam
  11. Elvin Ikhsan berkata

    Penulis mengatakan diawal tulisan bahwa pendapat mengenai masalah ini terbagi 3 dan bahkan telah dimulai semenjak jaman para shahabat, yaitu:
    1. Wajib diam (Ibnu Taimiyah, Abu Darda, Imam Malik, dan lainnya)
    2. Wajib membaca (Umar bin Khattab, Ubadah bin Shamit, Abdullah bin Amr bin ‘Ash, Abu Hurairah, Imam Syafi’i dan lainnya.)
    3. Tidak wajib membaca baik jahriyah maupun sirriyah (Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Jabir bin Abdillah, Sa’ad bin Abi Waqqash).
    Dalam hal ini penulis menguatkan pendapat ke-dua. Maka konsekwensi pendapat kedua ini adalah bahwa “mereka” (shahabat nabi, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud) yang memilih diam (tidak wajib membaca Al-Fatihah pada shalat jama’ah jahar) maka shalat jama’ah mereka selama ini tidaklah sah baik shalat mereka ketika di imami Nabi ataupun ketika di imami oleh Amirul Mukminin setelah Nabi sesuai dengan keumuman Hadits Nabi “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat Al-Fatihah”.
    Pertanyaan saya:
    1. Siapakah dirinya yang mengaku lebih alim dari shahabat Nabi sehingga berani mengatakan tidak sah shalat mereka (para shahabat) apabila mereka diam ketika imam membaca Al-fatihah)??
    2. Apakah selama itu Nabi tidak mengetahui bahwa beberapa shahabat Nabi (pendapat ketiga) shalat dibelakang beliau tidak membaca Al-fatihah? Dan apabila Nabi mengetahui mengapa Nabi tidak memarahi mereka karena telah melanggar “”Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat Al-Fatihah”.?? Bukankah ini berarti ada kekhusuan dalam hal ini yaitu dalam shalat Jama’ah terutama Jahar tidaklah diwajibkan??
    3. Telah mafhum bahwasanya beberapa shahabat telah dijamin dengan sorga. Diantara mereka yang dijamin tentulah ada yang berpendapat diam dibelakang imam, lalu bagaimana mereka bisa dijamin sorga apabila selama ini shalat jamaah mereka tidak sah (menurut pendapat kedua)?? Dan para shahabat hampir selalu shalat wajib berjamaah sepanjang hidup mereka sebagai muslim.
    4. Permasalahan sholat ini adalah permasalah yang sangat penting akan tetapi mengapa Umar bin Khattab (pendapat kedua) hanya mendiamkan saja Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud yang mengambil pendapat ketiga (menurut tulisan penulis) padahal mengandung resiko tidak sahnya shalat mereka dan orang-orang yang mengikuti mereka?? Apakah Umar bin Khattab yang tidak mengerti nash-nash ataukah Ali bin Abi Thalib yang tidak paham??
    5. Tidak cukupkah bagi kita “in qoro’ta falaka salaf, wa in sakatta falaka salaf” (jika engkau membaca maka anda punya pendahulu,demikian juga bila anda diam)?
    Wassalam.
    Elvin Ikhsan
    • herbono utomo berkata

      Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
      Pak ustadz Abu Umair As-Sundawy
      Saya sangat setuju dgn pendapat sdr. Elvin Ikhsan: Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib dan yg lainnya berbeda pendapat ttg wajib atau tidaknya membaca Alfatihah pada rakaat jahar. Mereka adalah org2 yg dijamin masuk surga dan Rasulullah tdk menyalahkan mereka. Kita membaca al-Fatihah atau tidak, karena kita berguru kepada mereka!!!…
      Saya juga setuju dgn pendapat Abu Faris, jika ijtihad ulama yg kita ikuti benar maka kita mendapat 2 pahala. Jika salah, maka kita mendapat 1 pahala. Semoga Allah subhanahu wa ta’la selalu membimbing kita ke jalan yang lurus, aamiin ya Rabbal alamin.
  12. Abu Umair As-Sundawy berkata

    Assalamu’laikum warahmatullah wabarakatuh,
    Al-Akh Elvin Ikhsan,
    1.Adakah ulama yang berpendapat akan wajibnya membaca al-fatihah berkonklusi seperti kesimpulan antum bahwa sahabat yang diam tidak membaca al-fatihah maka shalat mereka batal.Tunjukkan kepada kami akan nukilan pendapat ini, fal yatafadhdhol masykuro!
    Kalaulah demikian,maka amatlah mudah bagi kita untuk mendakwa bahwa antum juga “menuduh” segenap ulama yang berbaris rapi akan pendapat wajibnya membaca dibelakakang imam bahwa mereka menuduh para sahabat tidak sah shalatnya.
    2.Selebihnya dari point antum yang disebutkan, itulah permasalahan fiqih yang tidak melulu berujung pada satu barisan dan berkonklusi saklek “if-then” (jika demikian pasti demikian).Yuk sama-sama menghisap aroma fiqih dari sekian banyak contoh kasus:p
    3.Ada beberapa artikel terkait yang saya ingat akan topik ini,silahkan dikunjungi :
    1. Konsultasi Ustadz: Dalil Makmum Membaca Al Fatihah Setelah Imam:
    http://muslim.or.id/2007/05/04/konsultasi-ustadz-dalil-makmum-membaca-al-fatihah-setelah-imam/
    Allahu a’lam.
    Abu Umair As-Sundawy
  13. Elvin Ikhsan berkata

    Assalamu’laikum warahmatullah wabarakatuh,
    Akhi Abu Umair As-Sundawy,
    Harus saya akui bahwa saya telah mengambil kesimpulan terlalu jauh tanpa disertai ilmu, saya bertobat akan hal ini. Terima kasih atas penjelasan antum. Akhlak antum dalam menjelaskan hal ini sangat baik sekali.
    Akan tetapi mengenai permasalahan ini saya tetap tsiqah kepada barisan ulama yang menguatkan pendapat tidak wajib membaca Al-Fatihah dalam shalat jahriyyah, tentunya dengan penjelasan mereka yang tidak perlu saya lampirkan disini karena terlalu panjang. Dan saya kira antum tentu sudah mempelajari pendapat ini.
    Jazzakalloh Khoiron Katsiro
    Wassalamu’alaikum warohmatulllohi wabarokatuh
    Elvin Ikhsan
  14. Abu Faris an-Nuri berkata

    Sekedar memberi komentar ringan atas tulisan al-Akh al-Fadhil Abu Umair di atas…
    Fiqh tetaplah mengikuti kaidah ‘if-then’. Hanya saja, terkadang tidak timbul ‘than’ padahal ada ‘if’ karena di sana ada yg disebut dg ‘wujud al-mawani’ wa ‘adam istifa` asy-syurut’ (terdapat penghalang dan atau tidak terpenuhinya persyaratan). Demikian pula dg sebagian permasalahan yang diklaim sebagai exception atau keluar dari kaidah tertentu, padahal ternyata hal itu disebabkan ia masuk pada range kaidah yang lain.
    Ok, singkat kata, bagaimana implementasinya dalam kasus di atas? Mereka yang berpendapat tentang wajibnya membaca al-Fatihah baik dalam shalat jahr maupun sirr tidak dapat memastikan bahwa orang yang berseberangan dg mereka tidak sah shalatnya, karena mereka pun ber-ijtihad dan ber-istinbath dari dalil2 yg ada, sedangkan ijtihad jika salah bernilai satu pahala dan jika benar bernilai dua pahala. Demikianlah ringkasnya, mudah2an dapat dipahami ^_^
    NB
    Saya sendiri belum mencoba melakukan ‘tarjih’ dalam masalah ini. Namun, pernah saya sampaikan dalam salah satu momen bahwa membaca al-Fatihah merupakan perkara yang ‘ahwath’ (paling hati2/selamat; jangan dibaca akhwat loh ^_^), jika Anda membaca al-Fatihah, maka shalat Anda tetap sah menurut dua pendapat yg berseberangan tersebut. Namun jika Anda tidak membaca al-Fatihah maka shalat Anda tidak sah menurut konsekuensi salah satu pendapat. Bukankah demikian? ^_^ Ini jika Anda bingung dalam memilih satu dari dua pendapat yang ada. Namun, jika Anda merasa tenteram terhadap salah satu pendapat dan meyakini kebenarannya, maka itulah yang Anda amalkan.
    Wallahu a’lam bish shawab
  15. Abu Al-Jauzaa' berkata

    Ana pribadi menguatkan sebagaimana apa yang ditulis oleh akh Abu ‘Umair. Idem ma Abu Faris; Syaikh Bin Baaz pernah mengatakan hal yang serupa. Beliau menguatkan pendapat diwajibkannya membaca Al-Fatihah. Namun di sisi lain beliau memberikan penjelasan bahwa jika ada orang yang tidak membaca Al-Fatihah, maka shalatnya tetap sah. Allaahu a’lam. Komentar ini lebih ringan lagi dari apa yang ditulis akh Abu Faris……… Ya partisipasi saja lah.
  16. abah zacky berkata

    Assalamu’alaikum wr. wb
    Sebelumnya saya mohon maaf, ketika membaca keterangan tentang hadis man adraka rak’atan … di dalam syarh Abu Dawud, Aunul Ma’bud, disebutkan bahwa maksudnya adalah mendapatkan satu rekaat lengkap, bukan mendapatkan ruku’. Satu rekaat lengkap dimulai dari takbiratul ihram, berdiri membaca surat (termasuk al-fatihah) ruku’ dan seterusnya sampai berdiri lagi. Kalau Imam sudah ruku’ dan belum bangun lalu seorang makmum datang, ia kehilangan beberapa rukun shalat bersama imam. Kalau menurut Syaikh Shalih al-Munajjid, dalam buku terjemahan yang berjudul Fiqih Darurat, dikatakan bahwa seseorang yang tertinggal dua rukun maka jama’ahnya tidak sah. Artinya, rekaat itu tidak dihitung sebagai satu rekaat.
    Maaf, saya tidak sempat mengecek halaman per halaman, karena ini hanya seingat saja. Kalau pingin tahu silakan cek sendiri. :)
    abahzacky.wordpress.com
  17. Abu Umair As-Sundawy berkata

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wb.
    Abah Zacky,
    Sejujurnya saat belakangan ini ketika sedang membaca-baca lagi,saya agak selintas cenderung menguatkan perkataan antum, yakni seseorang masbuq tidak mendapati rokaat ketika mendapati imam ruku’.Tapi ini masih dalam baca-baca selintas belum didalami lebih lanjut.Yah lain kali coba kita bahas
    Abu Umair As-Sundawy
  18. Abu Shalih berkata

    Akhi Abu Umair, dalam beberapa waktu terakhir ini ana menelaah permasalahan ini, dan ana memiliki kecenderungan yang sama dengan antum bahwa bacaan Alfatihah adalah tetap wajib saat qirooah jahriyyah.
    Ada sedikit poin yang mungkin bisa membantu menyokong penjelasan antum:
    ana cop-past beberapa tulisan antum :
    ======
    “Adakah seseorang diantara kalian tadi membaca Al-Quran bersamaan dengan aku membaca?” Seseorang menjawab:”Ya,saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah mengatakan :”Aku katakan kepadamu mengapa aku diganggu (sehingga bacaanku terganggu)?”Abu Hurairah berkata :Kemudian para sahabat berhenti membaca al-Quran bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam membacanya dengan suara keras dan bacaan itu mereka dengar [dan mereka membaca sendiri tanpa suara bila imam tidak mengeraskan bacaannya]”
    Hadist ini bermasalah akan keshahihannya dan juga pada ucapan Abu Hurairah.Sebagian ulama mengatakan bahwa lafadz tersebut bukan dari Abu Hurairoh, akan tetapi dari Az-Zuhri.Diantaranya yang berpendapat demikian adalah Al-Imam Al-Bukhari.Seandainya benar itu lafadz Az-Zuhri maka hukum hadist ini mursal munqothi’ karena Az-Zuhri seorang tabi’in sehingga tidak boleh berhujjah dengan dalil ini (ini pandangan Imam Albani sendiri pada hal.339).Dan juga, Abu Hurairoh dengan lafadz tegas dalam riwayat Muslim, menyatakan bahwa dalam sholat jahar pun makmum tetap membaca Al-Fatihah.
    ===========
    Abu Shalih :
    Lafadz :
    “fa intahannaas ‘anil qiroah fima yajharu fihi An-Nabiyyu shalallahu ‘alaihi wasalam”
    di antara ulama yang menyatakan bahwa ini adalah idroj (sisipan) dari azzuhri adalah : Al Imam Al bukhari dalam tarikhnya, Abu Dawud, Ya’qub bin yusuf, Adzdzihli, ALkhataby dan selainnya.
    Bahkan imam An Nawawi berkata : “ini adalah persoalan yang tidak diperselisihkan dikalangan mereka”
    sisipan ini disebutkan pada riwayat Ahmad (II/240).
    pernyataan para imam ini semakin kuat untuk membatalkan dakwaan naskh pada keumuman perintah membaca Alfatihah.
    dan
    ======
    An-Naskh tidak tsubut jika adanya kemungkinan
    Ada yang mengatakan begini :”Siapa yang mendakwa bahwa Hadist Abu Hurairoh “fa intahannaas ‘anil qiroah fima yajharu fihi An-Nabiyyu shalallahu ‘alaihi wasalam” (Maka berhentilah para sahabat dari membaca pada sholat yang mana Rasulullah mengeraskan bacaannya) adalah menghapuskan dalil tentang membacanya sahabat dalam sholat shubuh maka Al-Hazimi dalam kitab Al-I’tibar (Hal 72-75) mendakwa kebalikannya yakni menjadikan dalil-dalil kewajiban membaca Al-Fatihah menghapuskan dalil-dalil larangan membaca dibelakang imam”
    =========
    dakwaan kebalikan ini (naskh terhadap dalil2 yang mengandung larangan) pun juga rasanya tidak memiliki landasan dalil yang kuat, so jalan yang terbaik adalah dikembalikan kepada kaidah jama’ dan tarjih.
    penjelasan di atas dapat ditelaah di shahih fiqhsunnah wa adillatuhu wa taudhihu madzhab al aimmah.
    Salam
    Abu Shalih

    Petikan asal daripada salafyitb

Thursday, December 8, 2011

SOLAT GERHANA (KUSUF & KHUSUF)

PANDUAN SOLAT SUNAT CARA NABI S.A.W.
Penulis: Mohd Yaakub bin Mohd Yunus
Disemak oleh: Ustaz Mohd Fikri Che Hussain

SOLAT GERHANA (KUSUF & KHUSUF)

Gerhana bulan adalah apabila bumi melindungi bulan dari cahaya matahari sehingga menyebabkan bulan kelihatan gelap. Gerhana matahari pula adalah apabila bulan melindungi bumi dari matahari sehingga bumi menjadi gelap seketika kerana tidak menerima cahaya dari matahari. Terdapat juga sesetengah pihak tatkala apabila mengalami peristiwa gerhana bulan mahupun matahari, namun mereka hanya melihat kejadian ini sebagai satu perkara yang luar biasa. Tidak kurang pula yang mengaitkannya dengan perkara-perkara mistik. Namun kejadian gerhana ini hanyalah merupakan di antara tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mentadbir seluruh alam. Apabila terjadi gerhana bulan mahupun matahari maka disunnahkan bagi kita untuk mengerjakan solat Solat Sunat Gerhana Bulan (Kusuf) dan Gerhana Matahari (Khusuf)

v HUKUM SOLAT GERHANA

Para ulamak telah sepakat bahawa disyariatkan mengerjakan solat sebanyak dua rakaat sekiranya terjadi gerhana.

Menurut Ibn ‘Umar radhiallahu’ anh, Nabi s.a.w bersabda:


إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ

وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا

Maksudnya:

Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana kerana kematian seseorang dan tidak pula kerana kehidupannya (kelahirannya). Tetapi, kedua-duanya adalah dua tanda antara tanda-tanda (kebesaran) Allah. Apabila kamu semua melihat kedua-duanya (mengalami gerhana) maka dirikanlah solat. – Hadis riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Jumu’ah, no: 1042.


Namun, para ulamak berbeza pendapat tentang hukum perlaksanaan solat Gerhana tersebut. Syeikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul pula menguatkan pendapat bahawa solat Gerhana ini hukumnya sunat mu’akkadah bersandarkan hadis berikut:


خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ

وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ... ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ

ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ

فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا ثُمَّ قَالَ:

يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ

يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا


Maksudnya:

Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah s.a.w lalu Rasulullah s.a.w mengimami solat orang ramai… Setelah baginda selesai solat, matahari telah kelihatan. Seterusnya baginda berkhutbah di hadapan manusia dengan memuji Allah serta menyanjung-Nya, kemudian bersabda:

Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana kerana kematian seseorang dan tidak pula kerana kehidupannya (kelahirannya). Tetapi, kedua-duanya adalah dua tanda antara tanda-tanda (kebesaran) Allah. Apabila kamu semua melihat hal itu itu maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, bersolat dan bersedekah.

Kemudian baginda bersabda: Wahai umat Muhammad! Demi Allah, tidak ada seorangpun yang lebih cemburu daripada Allah apabila hamba-Nya sama ada lelaki atau wanita melakukan perzinaan. Wahai umat Muhammad! Sekiranya kamu semua mengetahui apa yang aku ketahui pasti kamu semua akan tertawa sedikit dan lebih banyak menangis. - Hadis riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Jumu’ah, no: 1044.

Dapat dikatakan di sini bahawa dalil yang terkandung di dalam hadis merupakan perintah agar mengerjakan solat itu berserta perintah agar bertakbir, berdoa dan bersedekah. Namun, tidak ada seorangpun yang mewajibkan bersedekah, bertakbir dan berdoa ketika terjadi gerhana. Oleh itu, menurut kesepakatan ijmak bahawa perintah tersebut bersifat sunat. – Rujuk Bughyat al-Mutatowwi Fi Solah al-Tatowwu' karya Syeikh Muhammad bin ‘Umar Salim Bazmul, edisi terjemahan bertajuk Meneladani Solat-Solat Sunnah Rasulullah s.a.w, Pustaka Imam al-Syafie, Bogor (2005), ms. 140-141.

Tetapi, tanggapan ulamak berijmak (sepakat) bahawa solat Gerhana ini hanyalah sunat mu’akkadah kurang tepat kerana terdapat juga ulamak yang mewajibkannya. Menurut al-Hafidz Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah:

Majoriti ulamak mengatakan hukumnya adalah sunnah mu’akkadah (sunnah yang amat dituntut). Tetapi, Abu 'Awanah di dalam shahihnya menyatakan bahawa hukumnya adalah wajib. Aku tidak pernah menemui ulamak yang berpendapat sedemikian selain beliau kecuali apa yang dinukil daripada Malik yang menyamakannya dengan hukum solat Jumaat. Ibn al-Manayyar menukilkan daripada Abu Hanifah bahawa menurutnya hukum solat Gerhana adalah wajib. Demikian juga dinukilkan oleh sebahagian penulis kitab mazhab Hanafi. – Rujuk Kitab Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari karya Ibn Hajar al-‘Asqalani tahqiq Syeikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz, edisi terjemahan dengan tajuk Fath al-Bari Penjelasan Kitab Sahih al-Bukhari, Pustaka Azzam, Jakarta (2005), jil. 6, ms. 4.

Syeikh al-Albani rahimahullah pula menyokong pendapat bahawa solat Gerhana ini hukumnya wajib. Menurut beliau:

Inilah pendapat paling unggul (iaitu wajib solat Gerhana) dan untuk membuktikan penjelasan berikut ini, menurut pendapatku sesiapa yang mensunatkannya bererti dia telah mengabaikan perintah-perintah yang datang daripada Nabi s.a.w mengenai solat Gerhana tanpa ada dalil yang boleh menolak hukum asalnya, iaitu wajib. Al-Syaukani lebih cenderung kepada hukum wajib sebagaimana dinyatakan di dalam al-Sail al-Jarrar, jilid 1, muka surat 323 dan dipersetujui oleh Shadiq Khan di dalam al-Raudoh al-Nadiyyah. Inilah pendapat paling sahih. – Rujuk Kitab Tamam al-Minnah fi Ta’liq ‘Ala Fiqh al-Sunnah karya Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, edisi terjemahan dengan tajuk Tamamul Minnah Komentar Dan Koreksi Ilmiah Terhadap Kitab Fiqhus Sunnah Karya Sayyid Sabiq, Maktabah Salafy Press,Jakarta (2002), jil. 1, ms. 329.

Syeikh al-‘Utsaimin rahimahullah pula menegaskan bahawa majoriti ulamak menyatakan solat Gerhana adalah sunat mu’akkadah. Namun, sebahagian ulamak menyatakan ia wajib sama ada termasuk kategori fardu ‘ain atau fardu kifayah kerana terdapat perintah daripada Rasulullah s.a.w agar mengerjakan solat itu. Malah, perintah itu menunjukkan wajib.

Setelah itu, beliau menguatkan pandangan bahawa hukum solat Gerhana adalah wajib katanya:

Tidak diragukan lagi bahawa dalil ini cukup kuat baik dari sumber riwayat mahupun melalui pengkajian cerdik pandai agama. Paling tidak ia termasuk kategori fardu kifayah. Inilah menurut pendapat kami. Manakala pendapat jumhur, mereka tidak memiliki dalil yang menunjukkan perkara itu tidak wajib kecuali sabda Nabi s.a.w kepada seorang lelaki yang bertanya kepadanya:

Apakah ada lagi selain itu (selain kewajipan solat lima waktu)? Baginda menjawab: Tidak! Kecuali solat sunat. – Hadis riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Imaan, no: 46.

Hal ini tidak bererti menolak kewajipan solat-solat selain solat lima waktu apabila wujud sebab yang mewajibkannya. Apa yang dimaksudkan dengan kalimah nafi 'tidak!' sebagaimana sabda baginda s.a.w, iaitu berkaitan solat-solat rawatib yang selalu berulang setiap hari. Mengenai solat-solat yang berkait dengan sebab-sebab tertentu, maka hadis ini tidak boleh dijadikan hujah untuk menolak kewajipannya.

Kesimpulannya, kami memandang bahawa solat Gerhana adalah wajib sama ada fardu atas setiap individu (fardu ‘ain) atau fardu kifayah (memadai dikerjakan oleh sebahagian kaum muslimin sahaja). – Rujuk Kitab Majmu’ Fatawa Arkanil Islam karya Syeikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, edisi terjemahan dengan tajuk Majmu’ Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Pustaka Arafah, Solo (2002), jil. 1, ms. 429-430.

Dengan ini, dapat kita fahami bahawa perlaksanaan solat Gerhana ini adalah satu perkara yang dipandang besar di kalangan para ulamak sehingga ada yang mewajibkannya. Pengajian hukum sunat atau wajib berkaitan sesuatu amalan itu hanyalah berbentuk kajian ilmiah dan bertujuan mengetahui sama ada sesuatu amalan itu dibenarkan untuk ditinggalkan atau tidak.

Namun, bagi mereka yang mencintai sunnah Nabi s.a.w sekiranya sesuatu sunnah itu sabit daripada hadis yang sahih maka mereka akan berusaha mengerjakannya tanpa memikirkan sama ada ia wajib atau sunat.

Menurut Syeikh Abdullah al-Bassam:

Seorang muslim sewajarnya mematuhi syariat tanpa memandang apakah ia fardu atau sunat. Apa yang penting dia melakukan kerana mematuhi syariat Allah semata-mata mengikuti sunnah Nabi-Nya dan mengharapkan ganjaran pahala. Pembahasan mengenai hukum hanya diperlukan ketika berlaku suatu waktu ingin meninggalkannya. Ketika itu apakah sunnah yang akan ditinggalkannya itu sesuatu yang wajib atau sunat (agar tidak bergelumang dengan dosa meninggalkan sunnah). Oleh itu, menjadi kewajipan seorang hamba agar serius beribadah. Manakala dalam kajian ilmiah dan mengetahui hukum-hukumnya bertujuan mengetahui antara yang fardu dan yang sunat. - Rujuk Taudhih al-Ahkam Min Bulughul Maram karya Syeikh Abdullah Abdul Rahman al-Bassam, edisi terjemahan dengan tajuk Syarah Bulughul Maram, Pustaka Azzam, Jakarta (2006), jil. 1, ms. 217.

v TATACARA MENGERJAKAN SOLAT GERHANA

q Waktu Dikerjakan Solat Gerhana.

Aisyah radhiallahu’ anha berkata:

خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ

وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ... ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ


Maksudnya:

Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah s.a.w lalu Rasulullah s.a.w mengimami solat orang ramai… Setelah baginda selesai solat matahari telah kelihatan. - Hadis riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Jumu’ah, no: 1044.

Hadis di atas merupakan dalil tentang waktu harus dikerjakan solat Gerhana, iaitu bermula terjadinya gerhana sehingga berakhirnya gerhana. Sungguhpun begitu, sekiranya kita telah menyelesaikan perlaksanaan solat Gerhana namun gerhana tersebut belum berakhir, kita hendaklah memperbanyakan berdoa dan berzikir.

Menurut al-Hafidz Ibn Hajar rahimahullah:

Lafaz ini (hingga matahari kelihatan) merupakan dalil tentang lamanya solat Gerhana, iaitu hingga matahari nampak kembali. Al-Tohawi berpendapat bahawa di dalam hadis dinyatakan hendaklah kamu semua solat dan berdoa. Dalam erti kata lain, jika kita selesai melaksanakan solat Gerhana, namun matahari masih belum juga kelihatan, kita hendaklah memperbanyakan berdoa sehingga gerhana berakhir.

Ibn Daqiq al-'Id menguatkan lagi pendapat ini bahawa had waktu tersebut (antara mula gerhana hingga matahari muncul kembali) adalah had waktu untuk solat dan berdoa. Malah bermungkinan doa tersebut boleh dilakukan setelah selesai solat hinggalah matahari muncul kembali. Oleh itu, solat Gerhana tidak harus dilakukan terlalu lama atau mengulanginya beberapa kali jika matahari belum kelihatan sehingga matahari muncul (gerhana berakhir). – Rujuk Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, jil. 6, ms. 6.

q Dikerjakan Di Masjid Secara Berjemaah Oleh Lelaki Dan Wanita.

Perlaksanaan solat Gerhana ini adalah secara berjemaah. Ia dilaksanakan di masjid dan bukan di musolla, iaitu tanah lapang seperti solat hari raya dan istisqa’ (mohon hujan).

Imam Syafie rahimahullah berkata:

Solat ketika terjadi gerhana matahari dan bulan diadakan secara berjemaah. Solat seperti ini tidak dilakukan pada tanda-tanda kebesaran Allah yang lain kecuali hanya pada gerhana matahari dan bulan. – Rujuk Mukhtasar Kitab al-Umm Fi al-Fiqh karya Abu Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafie, ringkasan dan tahqiq oleh Husain Abdul Hamid Abu Nashir Nail, edisi terjemahan dengan tajuk Ringkasan Kitab al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta (2005), jil. 1, ms. 341.

Dalil tentang disyariatkan perlaksanaan solat Gerhana secara berjemaah sebagaimana hadis yang diriwayatkan daripada Aisyah radhiallahu’ anha katanya:


خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَخَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ فَكَبَّرَ


Maksudnya:

Terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi s.a.w lantas baginda keluar menuju ke masjid dan orang ramai berbaris di belakangnya lalu baginda bertakbir. - Hadis riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Jumu’ah, no: 1046.

Solat Gerhana ini bukan hanya dikerjakan oleh kaum lelaki malah kaum wanita juga boleh turut serta mengerjakannya secara berjemaah.

Menurut Hisyam bin 'Urwah radhiallahu’ anh, Fatimah Binti al-Mundzir radhiallahu’ anha telah meriwayatkan daripada Asma' binti Abu Bakar radhiallahu’ anhuma katanya:



أَتَيْتُ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ خَسَفَتْ الشَّمْسُ

فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّونَ وَإِذَا هِيَ قَائِمَةٌ تُصَلِّي...

Maksudnya:

Aku telah menemui Aisyah radhiallahu’ anha ketika terjadi gerhana matahari. Ternyata manusia berdiri mengerjakan solat. Begitu juga Aisyah berdiri mengerjakan solat. - Hadis riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Jumu’ah, no: 1053.

Namun, sekiranya solat Gerhana itu tidak dilakukan secara berjemaah ia tetap sah. Menurut al-Hafidz Ibn Hajar rahimahullah, dalil yang mengharuskan solat Gerhana dikerjakan secara besendirian sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w:


فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ

Maksudnya:

Apabila kamu semua melihat kedua-duanya (matahari dan bulan mengalami gerhana), bersegeralah solat. – Hadis riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Jumu’ah, no: 1046.

Al-Hafidz Ibn Hajar rahimahullah berkata:

Berdasarkan lafaz ini dapat disimpulkan bahawa berjemaah bukanlah syarat sahnya solat Gerhana. Ini kerana terdapat terdapat isyarat di sini agar segera melaksanakan solat. Sedangkan menunggu jemaah kadang-kadang mengakibatkan waktu solat tamat atau membiarkan sebahagian waktu tanpa diisi dengan solat. – Rujuk Kitab Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, jil. 6, ms. 29.

q Hendaklah Diserukan As-solatu Jami'ah Atau Innas Solata Jami'ah Sebelum Memulakan Solat.

Tidak ada seruan azan sebelum didirikan solat Gerhana tetapi disunnahkan melaungkan as-solatu jami'ah ataupun innas solata jami'ah.

Imam Syafie rahimahullah berkata:

Tidak ada laungan azan untuk solat Gerhana, solat hari raya, dan semua solat yang bukan solat fardu. Aku lebih menyukai imam agar memerintahkan seseorang meneriakkan as-solatu jami'ah. – Rujuk Kitab Mukhtasar Kitab al-Umm Fi al-Fiqh karya Abu Abdullah Muhammad bin Idris Syafie, jil. 1, ms. 344-345.

Abdullah bin Amr radhiallahu’ anh berkata:


لَمَّا كَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ


Maksudnya:

Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah s.a.w, lantas diserukan innas solata jami'ah (sesungguhnya solat berjemaah akan didirikan). – Hadis riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Jumu’ah, no: 1045.

q Dikerjakan Sebanyak Dua Rakaat.

Jumlah rakaat solat Gerhana adalah dua rakaat sahaja. Syeikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata:

Jumhur ulamak mengatakan bahawa solat itu (gerhana) dilakukan dua rakaat dan setiap rakaat dengan dua kali rukuk. – Rujuk Kitab Fiqh al-Sunnah karya Syeikh Sayyid Sabiq, edisis terjemahan dengan tajuk Fikih Sunnah, Victory Agencie, Kuala Lumpur (1990), jil. 1, ms. 74.


Abu Bakrah radhiallahu’ anh berkata:


خَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَخَرَجَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى الْمَسْجِدِ وَثَابَ النَّاسُ إِلَيْهِ فَصَلَّى بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ فَانْجَلَتْ الشَّمْسُ


Maksudnya:

Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah s.a.w lantas baginda keluar sambil menarik atau menyeret rida' (kain yang diletakkan di atas bahu) hingga sampai ke masjid dan orang ramai telah berkumpul di sekelilingnya lalu baginda solat dua rakaat mengimami mereka. Kemudian matahari bersinar kembali. - Hadis riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Jumu’ah, no: 1063.

q Diperpanjangkan Bacaan Dalam Solat Gerhana.

Aisyah radhiallahu’ anha berkata:


خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ



Maksudnya:

Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah s.a.w lalu Rasulullah s.a.w mengimami solat orang ramai. Baginda berdiri dan memperlamakan berdiri. - Hadis riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Jumu’ah, no: 1044.

Al-Hafidz Ibn Hajar rahimahullah ketika menjelaskan tentang baginda memanjangkan berdiri katanya:

Dalam riwayat Ibn Syihab disebutkan:
فَقَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً

Maksudnya:

Maka baginda membaca dengan bacaan yang panjang.

Manakala pada bahagian akhir perbahasan tentang solat melalui jalur lain daripada Ibn Syihab disebut pula maka baginda s.a.w membaca surah yang panjang. Disebutkan dalam hadis Ibn Abbas yang akan disebutkan setelah empat bab:

فَقَرَأَ نَحْوًا مِنْ سُورَة الْبَقَرَة فِي الرَّكْعَة الأُولَى

Maksudnya:

Baginda membaca ayat seperti panjangnya surah al-Baqarah pada rakaat pertama.

Abu Daud meriwayatkan riwayat yang serupa melalui jalur Sulaiman bin Yasar daripada Urwah sambil menambah lafaz:

قَرَأَ فِي الْقِيَام الأَوَّل مِنْ الرَّكْعَة الثَّانِيَة نَحْوًا مِنْ آل عِمْرَان

Maksudnya:

Baginda s.a.w membaca (ayat) seperti panjangnya surah Ali ‘Imran ketika berdiri pertama pada rakaat kedua. – Rujuk Kitab Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari karya Ibn Hajar al-‘Asqlani, jil. 6, ms. 14-15.

q Terdapat Empat Kali Rukuk.

Berbeza dengan solat-solat sunat yang lain, solat Gerhana memiliki empat kali rukuk, iaitu dua kali rukuk setiap rakaat.

Aisyah radhiallahu’ anha berkata:


خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ

وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ

ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ

ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الأُولَى ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ

Maksudnya:

Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah s.a.w lantas Rasulullah s.a.w mengimami solat orang ramai. Baginda berdiri dan memanjangkan berdiri, kemudian rukuk dan memanjangkan rukuk.

Kemudian baginda berdiri dan memanjangkan berdiri namun lebih pendek dari berdiri yang pertama. Kemudian baginda rukuk dan memanjangkan rukuk, namun lebih pendek dari rukuk yang pertama.

Kemudian baginda sujud dan memanjangkan sujud seterusnya melakukan pada rakaat kedua sama seperti yang dilakukan pada rakaat pertama.

Kemudian baginda selesai solat dan matahari telah kelihatan sinarnya kembali. - Hadis riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Jumu’ah, no: 1044.

Menerusi hadis di atas dapat kita fahami bahawa perbezaan solat Gerhana berbanding solat-solat yang lain ialah sebaik sahaja membaca al-Fatihah dan mana-mana surah dari al-Quran kita hendaklah rukuk. Kemudian bangun kembali dan sekali lagi membaca al-Fatihah dan mana-mana surah dari al-Quran lalu rukuk semula. Kemudian iktidal lalu sujud dan teruskan solat sebagaimana solat-solat yang lain.

Ulangi perkara yang sama pada rakaat kedua. Tidak terdapat riwayat yang menunjukkan adanya zikir-zikir atau bacaan yang khusus untuk solat Gerhana ketika rukuk, iktidal, sujud, duduk antara dua sujud dan tahiyyat. Oleh itu, kita boleh membaca apa jua bacaan ketika solat yang sabit daripada Rasulullah s.a.w sebagaimana yang terdapat dalam hadis.

q Menguatkan Suara (Jahr).

Suara hendaklah dinyaringkan ketika membaca ayat al-Quran dalam solat Gerhana. Menurut 'Urwah, Aisyah radhiallahu’ anha berkata:


جَهَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَإِذَا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَتِهِ كَبَّرَ فَرَكَعَ

وَإِذَا رَفَعَ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

ثُمَّ يُعَاوِدُ الْقِرَاءَةَ فِي صَلاَةِ الْكُسُوفِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ

Maksudnya:

Nabi s.a.w mengeraskan bacaan pada solat Gerhana. Apabila selesai membaca baginda terus bertakbir dan rukuk. Apabila baginda selesai rukuk, baginda mengucapkan sami’allaahu liman hamidah rabbana lakal hamdu (semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya, wahai Tuhan kami bagi-Mu segala pujian), kemudian baginda membaca kembali. Pada solat Gerhana terdapat empat kali rukuk dalam dua rakaat dan empat kali sujud. – Hadis riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Jumu’ah, no: 1065.

Syeikh al-Albani rahimahullah berkata:

Telah ditetapkan oleh Allah bahawa solat Gerhana matahari dilakukan oleh Nabi s.a.w hanya sekali. Juga telah diriwayatkan daripada hadis sahih bahawa baginda mengeraskan bacaan al-Quran seperti yang dijelaskan di dalam Sahih al-Bukhari dan tidak benar jika ada mengatakan bahawa terdapat hadis lain yang menyanggahinya. – Rujuk Kitab Tamam al-Minnah fi Ta’liq ‘Ala Fiqh al-Sunnah karya Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, jil. 1, ms. 331.

q Ringkasan Tatacara Mengerjakan Solat Gerhana
Rakaat Pertama

1) Berniat di dalam hati untuk mengerjakan solat Gerhana (Kusuf atau Khusuf)

2) Takbiratul Ihram

3) Doa Iftitah

4) Membaca surah al-Fatihah

5) Membaca Surah al-Qur’an

6) Rukuk

7) Iktidal

8) Membaca Surah al-Fatihah

9) Membaca Surah al-Qur’an

10) Rukuk

11) Iktidal

12) Sujud

13) Duduk antara dua sujud

14) Sujud kali kedua

15) Bangun untuk rakaat kedua


Rakaat Kedua

1) Membaca surah al-Fatihah

2) Membaca Surah al-Qur’an

3) Rukuk

4) Iktidal

5) Membaca Surah al-Fatihah

6) Membaca Surah al-Qur’an

7) Rukuk

8) Iktidal

9) Sujud

10) Duduk antara dua sujud

11) Sujud kali kedua

12) Duduk untuk tahiyyat akhir

13) Memberi salam ke kanan dan ke kiri


q Khutbah Ringkas Selepas Solat.

Setelah selesai mengerjakan solat Gerhana, sunnah dilaksanakan khutbah yang ringkas.

Imam Syafie rahimahullah berkata:

Imam hendaklah menjadikan khutbah ketika solat Gerhana matahari seperti khutbah-khutbah lain, iaitu dimulai dengan puji-pujian kepada Allah dan berselawat ke atas Nabi s.a.w, mendorong manusia berbuat kebajikan, memerintahkan mereka bertaubat serta mendekatkan diri kepada Allah. – Rujuk Kitab Mukhtasar Kitab al-Umm Fi al-Fiqh karya Abu Abdullah Muhammad bin Idris Syafie, jil. 1, ms. 344.

Antara contoh khutbah Rasulullah s.a.w setelah mendirikan solat Gerhana seperti di bawah.

Aisyah radhiallahu’ anha berkata:

خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ

وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ... ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ


Maksudnya:

Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah s.a.w lantas Rasulullah s.a.w mengimami solat manusia… Setelah baginda selesai solat dan matahari telah kelihatan sinarnya kembali. Lalu baginda berkhutbah di hadapan orang ramai dengan memuji Allah serta menyanjung-Nya. - Hadis riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Jumu’ah, no: 1044.

Aisyah radhiallahu’ anha berkata:

خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ

فَكَبَّرَ... فَاسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي أَرْبَعِ سَجَدَاتٍ وَانْجَلَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ

ثُمَّ قَامَ فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ

Maksudnya:

Terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi s.a.w lantas baginda keluar menuju ke masjid dan orang ramai berbaris di belakangnya, lalu baginda bertakbir… Baginda s.a.w menyempurnakan empat kali rukuk pada empat kali sujud dan matahari telah mula kelihatan sebelum baginda selesai solat. Kemudian baginda berdiri lalu memuji Allah sebagaimana yang layak untuk-Nya (semasa berkhutbah). – Hadis riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Jumu’ah, no: 1046.