Showing posts with label Quran. Show all posts
Showing posts with label Quran. Show all posts

Monday, June 25, 2012

Bumi itu Datar Menurut Al-Qur'an ?



Bumi itu datar, itulah anggapan sebagian orang-orang terdahulu terhadap bumi, terutama di semenanjung Arab pada zaman Nabi Muhammad SAW. Di saat paham mengenai “bumi itu bulat” yang dipionirkan oleh Phytaghoras (abad 6 SM) dan Aristotle (384-322 BC) mulai berkembang di beberapa belahan bumi, belahan bumi yang lain menganut paham bahwa “bumi itu datar”. Kepercayaan akan bentuk bumi itu sendiri, baik bumi itu datar maupun bulat, masih didasarkan pada pengamatan indera dan argumen-argumen logika, tanpa bukti-bukti ilmiah, sehingga paham tersebut kurang begitu populer dibandingkan dengan paham yang telah dipercaya oleh orang-orang terdahulu jauh sebelum itu. Beberapa mengambil argumen bentuk bumi dengan bersandarkan akan interpretasi akan wahyu, terutama gereja-gereja Nasrani awal dan orang-orang Yahudi pada zaman Nabi Muhammad SAW. Dengan kata lain, walaupun paham “bumi itu bulat” sudah ada pada saat itu, akan tetapi sebagian besar manusia masih percaya bahwa “bumi itu datar”.

Al-Qur'an diturunkan pada masa dimana hampir sebagian besar penduduk semenanjung Arab menganggap bumi itu datar, dan mungkin pemikiran bahwa bumi itu bulat pada saat itu adalah sesuatu hal yang tidak dapat diterima, terlebih ilmu astronomi saat itu tidak populer di kalangan orang-orang Arab. Pada masa sekarang ini, paham “bumi itu bulat” hampir tak terbantahkan. Bukti-bukti nyata, baik melalui pengamatan di bumi bahkan dengan melalui pengamatan langsung di luar angkasa telah disodorkan kepada kita, sehingga paham bahwa “bumi itu datar” sukar untuk dipertahankan. Namun perlu diingat bahwa Al-Qur’an turun tidak dimasa ini, akan tetapi di masa ketika orang-orang masih percaya bahwa bumi itu datar. Bahkan di berbagai tempat di dalam Al-Qur'an dikatakan bahwa bahwa bumi itu di bentangkan dan dihamparkan (dalam bahasa arab-nya dikatakan dengan "faraash", "wasia", "mahd", "basaat", "suttihat", "tahaaha", "dahaaha")



[51:48] Dan bumi itu Kami hamparkan, maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)
[15:19] Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.
[50:7] Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata
[71:19] Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan
[78:6] Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan ?
[79:30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya
[88:20] Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
[91:6] dan bumi serta penghamparannya
[13:3] Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi ...
Ayat-ayat ini dijadikan argumen yang menunjukkan bahwa bumi itu datar, menurut Al-Qur’an. Kata-kata dibentangkan dan dihamparkan, semuanya memiliki makna datar. Jadi, Allah melalui Al-Qur’an menyatakan bahwa bumi itu sebenarnya datar, sebagaimana yang disebutkan di awal penciptaan. Atau benarkan demikian ?

Pertama-tama patut kita lihat, kata datar, atau lurus dalam bahasa arab adalah "sawi" atau "almustafi". Tidak ada satu pun kata dalam Al-Qur'an yang menggunakan kedua frasa tersebut untuk mendeskripsikan bumi. Sesuatu yang datar juga memiliki sudut atau pojok atau sisi atau akhir, yang mana istilah-istilah ini pun tidak pernah digunakan Al-Qur'an dalam mendeskripsikan bumi. Walaupun AL-Qur'an diturunkan di masa dimana orang-orang berpikir bahwa bumi itu datar, akan tetapi tidak ada satu pun ayat di dalam Al-Qur'an yang secara explisit mengatakan bahwa bumi itu datar.

Kita lihat lagi di surah Ar-Rahmaan ayat 33 yang berbunyi :

[55:33] Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup melintasi penjuru (aqthar) langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kewenangan (keahlian / kekuasaan).
Catatan : kata "bi sulthaan" di akhir ayat ini sering diterjemahkan dengan "kekuatan". Arti  dari "sulthaan" ini sendiri adalah kewenangan, keahlian, kekuatan.

Perhatikan bahwa Al-Qur'an menggunakan kata "aqthar" yang diterjemahkan sebagai penjuru (region). Kata "Aqthar" ini sendiri mengandung arti diameter atau garis tengah, dan dihadirkan dalam bentuk jamak. Bentuk tunggal dari "aqthar" adalah "quthr" dan dualnya adalah "qutharin".

Suatu bangun tiga dimensi yang memiliki "banyak" diameter adalah elipsoid atau yang cenderung menyerupai itu. Elipsoid merupakan suatu bangun yang bulat menyerupai bola dengan bentuk memipih seperti telur.

Jadi, 1400 tahun yang lalu, Al-Qur'an menyatakan bahwa alam semesta (dalam hal ini langit) dan bumi berbentuk elipsoid, bola pipih, disaat sebagian besar penduduk dunia  saat itu menganggap bumi adalah datar, dan langit adalah apa yang terlihat dari bumi dengan mata telanjang.

Pengartian "aqthar" sebagai "diameter" pada jaman-jaman dahulu tidak dikenal, sehingga akhirnya di artikan dengan kata-nya yang terdekat aqtashara yang berarti penjuru. Akan tetapi banyak kata-kata dalam Al-Qur'an yang tidak biasa atau tidak dikenal pada zamannya sehingga pengertiannya di ambil yang terdekat atau lebih umum pada masa itu. Apalagi pada masa itu menyatakan "bumi itu bulat" adalah suatu ide yang kurang dapat diterima. Sebagai firman Allah, Al-Qur'an menyatakan kebulat-pipihan bumi secara tersirat, yang akan dapat dibuktikan berabad-abad kemudian seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi manusia.

Penggunaan dan pemilihan kata itu sendiri merupakan salah satu keistimewaan Al-Qur'an. "Aqthar" sebagai diameter memang mungkin tidak dikenal pada zamannya, akan tetapi Allah yang maha Mengetahui tahu bahwa berabad-abad kemudian bahwa kata "aqthar" akan digunakan sebagai "diameter", jauh sebelum manusia menyadari bahwa Al-Qur'an menyebutkan hal yang akan membuktikan kesesuaiannya dengan ilmu pengetahuan. Sama halnya dengan kata "kawkaban" yang di pakai di beberapa ayat lain di dalam Al-Qur'an, yang pada zaman diturunkannya Al-Qur'an hanya di kenal sebagai "bintang", belakangan setelah ditetapkannya istilah planet, maka "kawkaban" pun memiliki arti sebagai "planet".

Di surah lain, Az-Zumar ayat 5, Allah Berfirman :
[39:5] Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq; Dia menutupkan (yukawwiru) malam atas siang dan menutupkan siang atas malam ...
"Menutupkan" (yukawwiru) dalam ayat di atas secara bahasa mengandung pengertian "melapisi sesuatu kepada suatu benda yang bundar", biasanya dipakai dalam istilah "menutupkan turban di kepala". Jadi sekali lagi secara tersirat Allah ingin memberitahukan kepada manusia bahwa bumi itu tidaklah datar seperti yang diperkiraan.

Pertanyaan lain muncul : mengapa Allah tidak langsung menyatakan bahwa bumi itu bulat? Melainkan harus membuatnya tersirat? Sedangkan banyak ayat lainnya menyatakan bahwa bumi itu di bentangkan, dihamparkan, didatarkan ?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Al-Qur'an diturunkan dimasa sebagian besar manusia berpikir bahwa bumi itu datar. Menyatakan secara langsung bumi itu bulat akan membuat Islam semakin tidak akan diterima pada masa itu, banyak orang akan menuduh Nabi adalah orang yang benar-benar gila. Masalah bumi dan alam semesta itu bulat atau elipsoid bukanlah masalah yang terkait dengan tauhid dan perbaikan akhlak yang menjadi misi utama Islam pada masa itu, oleh sebab itu ayat-ayat yang menyatakan bumi itu bulat diturunkan Allah secara tersirat, karena sebagai kitab “penutup”, Al-Qur’an harus sejalan dengan tanda-tanda yang Allah taruh di seluruh penjuru alam semesta. yang kebenarannya akan dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, bagi kaum yang mau berfikir, wallahu a'lam. Di pihak lain, tidak ada satupun ayat dalam Al-Qur'an yang secara terang-terangan menyatakan bahwa bumi itu datar ataupun diam tidak bergerak.

Pertanyaan lain menjadi muncul, apa maksudnya Al-Qur'an menyatakan bumi itu dihamparkan atau dibentangkan? bukannya itu sama saja mengatakan bahwa bumi itu datar?

Pernyataan "bumi itu dihamparkan/dibentangkan" dengan "bumi itu datar" adalah dua hal yang berbeda. Sekarang mari kita melihat sejarah, selama beratus-ratus bahkan beribu-ribu tahun manusia percaya bahwa bumi itu datar. Mengapa? Jawabannya : karena bumi itu didatarkan Allah agar makhluk-makhluknya dapat hidup di bumi. Karena selama itu manusia sama sekali tidak pernah merasakan bahwa bumi itu bulat. Tidak sampai pada akal manusia saat itu bagaimana manusia dan hewan-hewan dapat hidup di suatu benda yang bulat tanpa dia tergelincir daripadanya. Allah memberikan gravitasi yang sesuai bagi bumi sehingga mampu menyokong kehidupan makhluk-makhluk yang ada didalamnya, dimana setiap makhluk tersebut tidak akan merasakan bumi itu bulat. Ya, dengan gravitasi, Allah menjadikan bumi yang bulat menjadi datar.
[79:27] Apakah kamu lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membinanya,
[79:28] Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya,
[79:29] dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.
[79:30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.
[79:31] Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.
[79:32] Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh,
[79:33] (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.
Perhatikan dalam surah An-Naazi'aat diatas "penghamparan Bumi" terjadi setelah Allah menjadikan siang dan malam di bumi. Berarti sebelum "penghamparan" itu, bumi sudah ada, akan tetapi bumi masih bulat tanpa gravitasi yang sesuai, masih belum dapat dihuni oleh makhluk hidup. Barulah setelah itu bumi "dihamparkan / didatarkan" oleh Allah, sehingga air, laut, tumbuh-tumbuhan mulai bermunculan di bumi, begitu juga manusia. Kita semua merasakan bumi itu "datar" walaupun sebenarnya bumi itu bulat.

Menurut ilmuwan mesir kontemporer, Zaghlul an-Najjar, menyatakan bahwa pada awal penciptaan langit dan bumi, kecepatan putaran bumi pada porosnya amatlah tinggi sehingga dalam setahun melebihi 2200 hari dengan panjang siang dan malam kurang dari 4 jam. Pada saat itu bumi belum “dihamparkan”. Makhluk hidup belum dapat hidup dipermukaannya. Setelah itu, Allah mulai proses “penghamparan” bumi.

Yang menarik dari surah An-Naazi'at ayat 30 ini adalah kata "dahaha" yang banyak menjadi perdebatan. "Dahaha" di sini di artikan dengan "dihamparkan", hanya muncul sekali yaitu di ayat ini, dari sekian banyak ayat Al-Qur'an yang mengatakan "dihamparkan / dibentangkan".
[79:30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya (dahaha).
"Dahaha" berasal dari kata kerja "daha" yang diturunkan dari kata kerja "dahu" yang dapat berarti membentangkan, mendorong,  melemparkan, menggerakkan. Ibnu Barri mengatakan "Daha al-Ardh" berarti mendorong bumi sehingga bergerak. Disini An-Naazi'at ayat 30 dapat diartikan "Dan sesudah itu bumi Allah gerakkan (didorong sehingga berputar) hingga akhirnya menjadi (terasa) datar". Juga dapat dilihat berdasarkan asal katanya “dahraj” yang berarti bergerak berputar atau berguling.

Saat ini pergerakan bumi (rotasi dan revolusi) diketahui sebagai penyebab adanya gravitasi dan juga menyebabkan bentuk bumi menjadi lebih panjang di equatorial (bulat pipih), sesuatu yang telah disampaikan Allah melalui Al-Qur'an 15 abad silam, wallahu a'lam.
[77:25] Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul (Kifaatan)
[77:26] yang hidup dan yang mati
"Kifaatan" pada surah Al-Mursaalat ayat 25 diatas diartikan dengan "berkumpul", berasal dari kata "kafata" yang berarti "mengumpulkan ke suatu tempat". Ayat ini mengindikasikan adanya suatu kekuatan pada bumi yang menarik segala sesuatu yang hidup maupun yang mati di bumi untuk kembali berkumpul di bumi (baca : gravitasi). Karena Allah menjadikan bumi "tempat berkumpul" lah, sehingga manusia merasakan bahwa bumi itu datar, padahal sebenarnya bumi itu relatif bulat yang "dihamparkan" Allah dengan cara di "daha" kan.
[70:40] Maka aku bersumpah dengan Tuhan Yang memiliki (semua) timur (masyaariq) dan (semua) barat (maghaaribi), sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa.
Al-Ma’aarij (70) ayat 40 di atas menyatakan secara explisit bahwa bumi memliki banyak timur (masyaariq, bentuk jamak) dan banyak barat (maghaaribi, bentuk jamak), sesuatu yang tidak mungkin apabila bumi itu datar. Banyak timur dan banyak barat memungkinkan apabila bumi itu berbentuk bulat ataupun elipsoid, sehingga untuk setiap titik di bumi, barat dan timurnya berbeda-beda dikarenakan matahari yang menjadi acuan timur dan barat terlihat pada posisi yang berbeda-beda saat terbit dan terbenamnya apabila bumi berbentuk bulat, dan seharusnya terlihat sama apabila bumi itu memang datar.

Masyaariq dan Maghaarib dalam bahasa arab juga dapat berarti "tempat terbit matahari" dan "tempat terbenam matahari" sebagaimana yang dipakai di surah Ar-Rahmaan ayat 17 :
[55:17] Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.
Surah Ar-Rahmaan ayat 17 di atas menyatakan bahwa Allah menjadikan bumi memiliki dua tempat terbit matahari (masyariqayn) dan dua tempat terbenam matahari (magharibayn). Ayat ini secara simbolis menyatakan bahwa bumi itu bulat dan berotasi. Jika di suatu tempat telah mengamati bahwa matahari terbenam, pada saat yang sama di belaham bumi yang berlawanan mengamati bahwa matahari baru terbit, sehingga secara pengamatan, ada dua tempat terbit matahari dan dua tempat terbenamnya, yang mengindikasikan bahwa bumi itu bulat dan berotasi.


Tempat Terendah di Bumi
Postingan ini akan diakhiri dengan membahas surah Ar-Ruum ayat 1 - 3 :
[30:1-3] Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi di negeri yang terdekat (adnal) dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang
Ayat yang diturunkan sekitar tahun 620 M ini menceritakan mengenai kekalahan bangsa Romawi, dalam hal ini Byzantine melawan bangsa Persia, dengan puncak kekalahan adalah direbutnya kota Yerusallem, diambilnya true cross dari tangan umat kristen Yerusallem, dan pembantaian 57000-65000 orang di Yerusallem setelah Byzantine kalah berperang dengan tentara Persia yang dipimpin Khosrou di sekitar laut mati (dead sea basin), yang terletak di antara Palestina dan Yordania saat sekarang ini.Dan Al-Qur'an meramalkan bahwa walaupun pada saat itu bangsa Ruum (Byzantine) dikalahkan, tetapi mereka akan bangkit dan menang terhadap Persia (yang mana terbukti beberapa tahun kemudian setelah ayat ini diturunkan)

Perhatikan kata "Adnal" dalam ayat di atas yang diartikan "terdekat". Kata "adnal" itu sendiri berarti "terendah", namun kalimat "negeri yang terendah" pada masa diturunkannya ayat ini kurang dapat dimengerti sehingga pengertiannya dijadikan yang "terdekat".

Faktanya, daerah sekitar laut mati (dead sea), yang disebut juga sebagai laut garam, merupakan daratan terendah di permukaan Bumi, yaitu 394 meter (1291 kaki) di bawah permukaan laut.

Fakta yang baru diketahui manusia melalui citra yang diambil dari satelit ini sudah diungkapkan Allah kepada manusia melalui kitab-Nya yang sempurna 15 abad yang lalu.

Wallahu a'lam

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya

(dari berbagai sumber)



Narrated Abu Huraira:
I heard Allah's Apostle saying, "I have been sent with Jawami al-Kalim (i.e., the shortest expression carrying the widest meanings), and I was made victorious with awe (caste into the hearts of the enemy), and while I was sleeping, the keys of the treasures of the earth were brought to me and were put in my hand." Muhammad said, Jawami'-al-Kalim means that Allah expresses in one or two statements or thereabouts the numerous matters that used to be written in the books revealed before (the coming of) the Prophet .
(Translation of Sahih Bukhari, Volume 9, Book 87, Number 141)
Sila ke Imamad  untuk bacaan lanjut.

Monday, August 15, 2011

Tarikh Nuzul Al-Quran




Posted by Abu Anas Madani on 11 September 2009

PERBINCANGAN TARIKH NUZUL AL-QUR’AN

Ulama’ berselisih pendapat berhubung bilakah al-Qur’an diturunkan.
Pendapat yang agak masyhur mengemukakan 17 Ramadhan sebagai tarikh nuzul Al-Qur’an. Pendapat ini dipegangi sebahagian ulama’ sirah.

Antara ulama’ sirah yang kuat berpegang kepada pendapat ini ialah Syaikh al-Khudhari dalam karyanya; Muhadharat Tarikh al-Umam al-Islamiyyah.[1] Pendapat ini merujuk kepada suatu riwayat daripada al-Waqidi menerusi Abu Ja’far al-Baqir yang mengatakan bahawa (penurunan ) wahyu kepada Rasulullah s.a.w bermula pada hari Isnin, 17 Ramadhan dan dikatakan pada 24 Ramadhan. Riwayat ini dinyatakan oleh al-Hafiz Ibn Kathir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah:

روى الواقدي بسنده عن أبي جعفر الباقر أنه قال: كان ابتداء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الاثنين لسبع عشرة ليلة خلت من رمضان وقيل في الرابع والعشرين منه.[2]
Ada suatu hal yang agak menarik dalam kita membincangkan pendapat yang menyatakan 17 Ramadhan sebagai tanggal nuzul Al-Qur’an. Setelah saya meneliti kitab Sirah Ibn Hisyam berhubung tajuk “ Ibtida’ Tanzil Al-Qur’an” ( Bermulanya nuzul Al-Qur’an ), terdapat semacam satu kekeliruan apabila Ibn Hisyam ada membuat catatan berikut:

قال ابن إسحاق: فابتدئ رسول الله صلى الله عليه وسلم بالتنزيل في شهر رمضان، يقول الله عز وجل: ] شهر رمضان الذي أنزل فيه القرءان هدى للناس وبينت من الهدى والفرقان [ وقال الله تعالى: ] إنا أنزلنه في ليلة القدر … [ ...وقال تعالى: ] إن كنتم آمنتم بالله وما أنزلنا على عبدنا يوم الفرقان يوم التقى الجمعان [. وذلك ملتقى رسول الله صلى الله عليه وسلم والمشركون ببدر.
قال ابن إسحاق: وحدثني أبو جعفر محمد بن علي بن حسين: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم التقى هو والمشركون ببدر يوم الجمعة، صبيحة سبع عشرة من رمضان.
قال ابن إسحاق: ثم تتام الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو مؤمن بالله مصدق بما جاءه منه ...إلخ[3]
Jika diperhatikan dan dihalusi, kenyataan di atas semacam mengaitkan elemen ‘al-furqan’ yang terdapat dalam al-Qur’an dengan ‘hari al-Furqan’yang membezakan antara haq dan batil yang merujuk kepada hari Peperangan Badr yang berlaku pada 17 Ramadhan. Oleh kerana perkara ini disebut di bawah tajuk “ Ibtida’ Tanzil al-Qur’an”, berkemungkinan ada pihak yang memahami bahawa nuzul Al-Qur’an juga berlaku pada tarikh yang sama.

Pendapat-pendapat lain tentang nuzul Al-Qur’an sebagaimana diutarakan oleh Syaikh Safiyy al-Rahman al-Mubarakfuri, ianya berlaku pada 7 Ramadhan, ada yang mengatakan 18 Ramadhan. Beliau sendiri membuat pilihan dan tarjih yang berbeza dengan ulama’ lain. Menurut beliau, nuzul Al-Qur’an jatuh pada 21 Ramadhan. Antara alasan yang dikemukakan seperti berikut:

1- Semua ulama’ sirah atau majoriti dari kalangan mereka sepakat mengatakan bahawa Nabi s.a.w dibangkitkan pada hari Isnin berdasarkan hadith Abu Qatadah r.a dalam Sahih Muslim dan lain-lain.

2- Hari Isnin pada tahun Nabi s.a.w dibangkitkan jatuh sama ada pada hari 7 Ramadhan, 14 Ramadhan, 21 Ramadhan dan 28 Ramadhan. Hadith-hadith yang sahih ada menyebut bahawa malam al-Qadr tidak berlaku melainkan pada malam-malam ganjil, sepuluh malam terakhir Ramadhan.

3- Setelah dibuat perbandingan antara firman Allah: ( إنا أنزلنه في ليلة القدر ) dan riwayat Abu Qatadah tentang penentuan hari Isnin sebagai hari Nabi s.a.w dibangkitkan serta dipadankan dengan perhitungan taqwim yang tepat bilakah sebenarnya jatuh hari Isnin pada bulan Ramadhan tahun kebangkitan Nabi s.a.w, jelaslah bahawa baginda dibangkitkan pada malam 21 Ramadhan.[4]



Pendapat seterusnya, nuzul Al-Qur’an jatuh pada 24 Ramadhan. Pendapat ini berdasarkan hadith berikut:

قال الإمام أحمد: حدثنا أبو سعيد مولى بني هاشم، حدثنا عمران أبو العوام عن قتادة عن أبي المليح عن واثلة ابن الأسقع أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أنزلت صحف إبراهيم عليه السلام في أول ليلة من رمضان، وأنزلت التوراة لست مضين من رمضان، والإنجيل لثلاث عشرة خلت من رمضان، وأنزل الله الفرقان لأربع وعشرين خلت من رمضان.[5]
Hadith di atas dihukumkan hasan oleh Syaikh al-Albani, manakala Syaikh Ahmad Shakir menghukumkan sanad hadith ini sebagai sahih.

Menurut al-Hafiz Ibn Hajar, hadith di atas bertepatan dengan firman Allah SWT (Surah al-Baqarah: Ayat 185):

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرءان

Dan firmanNya ( Surah al-Qadr : Ayat 1 ) :

إنا أنزلنه في ليلة القدر

Kata beliau, berkemungkinan lailah al-Qadr berlaku pada tahun kebangkitan Nabi s.a.w pada malam tanggal 24 Ramadhan di mana Al-Qur’an diturunkan secara sekali gus ke langit dunia dan pada masa yang sama ( 24 Ramadhan ) wahyu pertama diturunkan, iaitu firman Allah SWT :



اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ [6]
Imam al-Tabari juga ada menyebut satu riwayat dengan sanadnya menerusi Sa’id Bin Jubair daripada Ibn Abbas r.a katanya: Al-Qur’an diturunkan sekali gus dari Lauh Mahfuz pada malam 24 Ramadhan, kemudiannya ia ditempatkan di Bait al-‘Izzah.[7]

Imam al-Qurtubi pula menyebut hadith Wathilah Bin Al-Asqa’ di atas dan menyatakan bahawa hadith tersebut merupakan dalil atau hujah yang terhadap pendapat Hasan al-Basri yang menegaskan bahawa malam al-Qadr berlaku pada malam 24 Ramadhan.[8]

Al-Hafiz Ibn Kathir juga ada membawa hadith Wathilah ini dalam mentafsirkan maksud ayat 185, Surah al-Baqarah, kemudian beliau menyatakan bahawa Ibn Mardawaih juga ada meriwayatkan hadith daripada Jabir Bin ‘Abdullah r.a seumpama hadith Wathilah dengan sedikit perbezaan pada matan hadith berkenaan.[9] Beliau juga ada menyebut hadith ini dalam al-Bidayah wa al-Nihayah dan menyatakan bahawa berdasarkan hadith Wathilah ini, sebahagian ulama’ dari kalangan para sahabat dan tabi’in berpendapat bahawa malam al-Qadr berlaku pada malam 24 Ramadhan.[10]

Turut menyebut hadith Wathilah ,Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani di mana beliau mengambil hadith ini bagi menjelaskan nuzul Al-Qur’an berlaku pada tanggal 24 bulan Ramadhan.[11]

Kesimpulan yang dapat dibuat setelah meneliti pendapat-pendapat yang dikemukakan di atas berhubung hari nuzul Al-Qur’an seperti berikut :

1- Pendapat yang menyebut nuzul Al-Qur’an jatuh pada 17 Ramadhan bersandarkan riwayat al-Waqidi. Menurut ulama’ al-Jarh wa al-Ta’dil, al-Waqidi ( m. 207 H ), nama penuh beliau: Muhammad Bin Umar Bin Waqid al-Aslami seorang perawi yang lemah ( matruk ) dan tidak diterima riwayatnya[12]. Pendapat ini juga ditolak oleh Syaikh al-Zurqani kerana ia bercanggah dengan pendapat yang masyhur lagi sahih.[13]

2- Pendapat Syaikh Safiyy al-Rahman al-Mubarakfuri yang menyatakan nuzul Al-Qur’an jatuh pada tanggal 21 Ramadhan merupakan cetusan ijtihad beliau semata-mata berdasarkan penelitian beliau terhadap hadith Abu Qatadah dan perkiraan taqwim yang dipegangi beliau. Malam al-Qadr boleh berlaku pada malam-malam genap dan juga boleh berlaku pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

3- Pendapat yang menyebut bahawa nuzul Al-Qur’an jatuh pada 24 Ramadhan adalah kuat dan rajih. Ini berdasarkan kepada perkara-perkara berikut:

I- Pendapat ini bersandarkan hadith marfu’ yang sahih dan diperakui oleh tokoh-tokoh dalam bidang hadith. Sebagaimana yang termaklum, apa jua permasalahan dalam Agama Islam perlu dirujuk kepada nas Al-Qur’an dan hadith. Dalam hal ini, hadith Wathilah Bin al-Asqa’ adalah rujukan utama dalam menentukan bilakah berlakunya nuzul Al-Qur’an.

II- Matan hadith dengan jelas menyebut bahawa al-Qur’an diturunkan pada 24 Ramadhan.

III- Maksud atau mafhum hadith diterima pakai oleh ulama’ muktabar dari kalangan ahli hadith dan para mufassirin dan dijadikan hujah bagi menetapkan tanggal 24 Ramadhan sebagai tarikh tepat bagi nuzul Al-Qur’an. Rujuk kata-kata al-Hafiz Ibn Hajar, Imam al-Qurtubi dan al-Hafiz Ibn Kathir.

Oleh:

Dr. Ahmad Najib Abdullah – Pensyarah UM, Nilam Puri.

anis_alqari@yahoo.com

--------------------------------------------------------------------------------

[1] Lihat: al-Mubarakfuri, Syaikh Safiyy al-Rahman, al-Rahiq al-Makhtum, Beirut : al-Maktabah al-Thaqafiyyah, h77.

[2] Al-Dimisyqi, Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut : Dar al-Fikr, 3/6.

[3] Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah,1/239-240.

[4] Lihat: al-Rahiq al-Makhtum, h.77

[5] Imam Ahmad,al-Musnad , Beirut : al-Maktab al-Islami 4/107, al-Baihaqi , al-Sunan al-Kubra 9/188, al-Tabarani, al-Mu’jam al-Kabir, No 185. Al-Tabari, Ibn Jarir, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an, ( Tahqiq: Ahmad Shakir ),al-Qahirah: Dar al-Ma’arif, 3/446, Al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, No 1575. Lihat : Yasin, Dr. Hikmat Bashir,( 1994 ), Marwiyyat al-Imam Ahmad Bin Hanbal Fi al-Tafsir, Riyadh: Maktabah al-Muayyad, 1/128.

[6] Al-‘Asqalani, Ibn Hajar,( 1988 ), Fath al-Bari, al-Qahirah: Dar al-Rayyan li al-Turath 8/621.

[7] Al-Tabari, Jami’ al-Bayan 3/445.

[8] Al-Qurtubi, Muhammad Bin Ahmad al-Ansari, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Beirut: Muassasah Manahil al-‘Irfan 2/198

[9] Al-Dimisyqi, Ibn Kathir, ( 2004 ),Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 2/180, lihat juga: 14/411

[10] Lihat: al-Bidayah wa al-Nihayah, 3/6

[11] Al-Albani, Muhammad Nasiruddin,( 1421 H ), Sahih al-Sirah al-Nabawiyyah, Amman : al-Maktabah al-Islamiyyah, h.90

[12] Al-Baghdadi, al-Khatib, Tarikh Baghdad, 3/31, al-Zahabi, Muhammad Bin Ahmad Bin Uthman, ( 1992 ), Siyar A’lam al-Nubala’,Beirut : Muassasah al-Risalah, 9/454, 469, Ibn Abi Hatim, al-Jarh wa al-Ta’dil, 8/20

[13] Lihat: Manahil al-‘Irfan, 1/52