Lailatul Qadar
Sumber : “Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan” Bab “Malam Lailatul Qadar” Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid
Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur’an, red), akan tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.
Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut.
1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman (yang artinya),
[1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al Qadar: 1 - 5]
Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah,
[3]Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS Ad Dukhoon: 3 - 6]
2. Waktunya
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda, Imam Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar, membawakan perkatan para ulama dalam masalah ini, lihatlah).
Imam Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, “Apakah kami mencarinya di malam hari?”, beliau menjawab, “Carilah di malam tersebut.”. (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/388).
Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, (yang artinya) “Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169)
Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat Ibnu Umar (dia berkata): Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).
Ini menafsirkan sabdanya (yang artinya), “Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, maka barangsiapa ingin mencarinya, carilah pada tujuh hari yang terakhir.” (Lihat maraji’ diatas).
Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdebat, beliau bersabda, “Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Laitul Qadar, tetapi fulan dan fulan (dua orang) berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui kapan lailatul qadar terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29, 27, 25 (dan dalam riwayat lain: tujuh, sembilan, lima).” (HR Bukhari 4/232).
Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum, sedang hadits kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah. Maka dengan ini, cocoklah hadits-hadits tersebut, tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisahkan.
Kesimpulannya, jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar, carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari ppada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.
Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah beri’tikaf pada 10 terakhir pada bulan Ramadhan dan berkata, “Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan.”
3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar
Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu, dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)
Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia) berkata, “Aku bertanya, Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.” (HR Tirmidzi3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah, sanadnya shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, halaman 55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali).
Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaatiNya - engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan sholat) pada sepuluh malam hari terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan ketaatan.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174).
Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia berkata), “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (HR Muslim 1174).
4. Tanda-tandanya
Ketahuilah hamba yang taat -mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dariNya dan membantu dengan pertolonganNya- sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.
Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR Muslim 762).
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang artinya), “Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah.” (HR Muslim 1170. Perkataannya “Syiqi Jafnah”, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadli ‘Iyadh berkata, “Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.”)
Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).
Thursday, September 25, 2008
Lailatul Qadar
Lailatul Qadar
Sumber : “Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan” Bab “Malam Lailatul Qadar” Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid
Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur’an, red), akan tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.
Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut.
1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman (yang artinya),
[1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al Qadar: 1 - 5]
Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah,
[3]Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS Ad Dukhoon: 3 - 6]
2. Waktunya
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda, Imam Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar, membawakan perkatan para ulama dalam masalah ini, lihatlah).
Imam Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, “Apakah kami mencarinya di malam hari?”, beliau menjawab, “Carilah di malam tersebut.”. (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/388).
Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, (yang artinya) “Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169)
Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat Ibnu Umar (dia berkata): Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).
Ini menafsirkan sabdanya (yang artinya), “Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, maka barangsiapa ingin mencarinya, carilah pada tujuh hari yang terakhir.” (Lihat maraji’ diatas).
Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdebat, beliau bersabda, “Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Laitul Qadar, tetapi fulan dan fulan (dua orang) berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui kapan lailatul qadar terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29, 27, 25 (dan dalam riwayat lain: tujuh, sembilan, lima).” (HR Bukhari 4/232).
Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum, sedang hadits kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah. Maka dengan ini, cocoklah hadits-hadits tersebut, tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisahkan.
Kesimpulannya, jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar, carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari ppada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.
Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah beri’tikaf pada 10 terakhir pada bulan Ramadhan dan berkata, “Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan.”
3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar
Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu, dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)
Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia) berkata, “Aku bertanya, Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.” (HR Tirmidzi3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah, sanadnya shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, halaman 55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali).
Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaatiNya - engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan sholat) pada sepuluh malam hari terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan ketaatan.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174).
Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia berkata), “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (HR Muslim 1174).
4. Tanda-tandanya
Ketahuilah hamba yang taat -mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dariNya dan membantu dengan pertolonganNya- sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.
Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR Muslim 762).
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang artinya), “Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah.” (HR Muslim 1170. Perkataannya “Syiqi Jafnah”, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadli ‘Iyadh berkata, “Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.”)
Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).
Sumber : “Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan” Bab “Malam Lailatul Qadar” Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid
Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur’an, red), akan tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.
Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut.
1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman (yang artinya),
[1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al Qadar: 1 - 5]
Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah,
[3]Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS Ad Dukhoon: 3 - 6]
2. Waktunya
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda, Imam Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar, membawakan perkatan para ulama dalam masalah ini, lihatlah).
Imam Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, “Apakah kami mencarinya di malam hari?”, beliau menjawab, “Carilah di malam tersebut.”. (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/388).
Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, (yang artinya) “Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169)
Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat Ibnu Umar (dia berkata): Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).
Ini menafsirkan sabdanya (yang artinya), “Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, maka barangsiapa ingin mencarinya, carilah pada tujuh hari yang terakhir.” (Lihat maraji’ diatas).
Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdebat, beliau bersabda, “Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Laitul Qadar, tetapi fulan dan fulan (dua orang) berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui kapan lailatul qadar terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29, 27, 25 (dan dalam riwayat lain: tujuh, sembilan, lima).” (HR Bukhari 4/232).
Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum, sedang hadits kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah. Maka dengan ini, cocoklah hadits-hadits tersebut, tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisahkan.
Kesimpulannya, jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar, carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari ppada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.
Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah beri’tikaf pada 10 terakhir pada bulan Ramadhan dan berkata, “Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan.”
3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar
Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu, dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)
Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia) berkata, “Aku bertanya, Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.” (HR Tirmidzi3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah, sanadnya shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, halaman 55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali).
Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaatiNya - engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan sholat) pada sepuluh malam hari terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan ketaatan.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174).
Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia berkata), “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (HR Muslim 1174).
4. Tanda-tandanya
Ketahuilah hamba yang taat -mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dariNya dan membantu dengan pertolonganNya- sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.
Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR Muslim 762).
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang artinya), “Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah.” (HR Muslim 1170. Perkataannya “Syiqi Jafnah”, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadli ‘Iyadh berkata, “Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.”)
Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).
Hukum Seputar Malam Lailatul Qodar
Hukum Seputar Malam Lailatul Qodar
Penulis: Fadlilatu Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Faqih Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah-
Soal 1: Malam Lailatul Qodar itu jatuh pada hari ke berapa?
Jawab: Di dalam Al-Qur’an tidak diterangkan pada malam ke berapa malam Lailatul Qodar itu jatuh, tetapi di dalam hadits diterangkan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf pada 10 hari awal di bulan Ramadhan menginginkan malam Lailatul Qodar, kemudian beliau beri’tikaf pada 10 hari pertengahannya dan mengatakan (yang artinya): “Sesungguhnya malam Lailatul Qodar itu jatuh pada 10 hari akhir di bulan Ramadhan”. Beliau melihatnya dan beliau sujud di waktu shubuh di tempat yang berair bercampur tanah, kemudian pada malam ke-21 di saat beliau i’tikaf, turunlah hujan maka mengalirlah air hujan tersebut pada atap masjid karena masjid Nabi shallallahu alaihi wa sallam terbuat dari anjang-anjang. Beliau menjalankan sholat subuh bersama para sahabatnya kemudian beliau sujud. Anas bin Malik berkata: ‘Aku melihat bekas air dan tanah dikeningnya, maka beliau sujud ditempat yang berair bercampur tanah.” (HR. Bukhori no.669 dan 2016, Muslim no.1167, dan 216 dari shohabat Abu Sa’id Al-Khudri).
Hadits di atas menunjukkan bahwa malam Lailatul-Qodar pada saat itu jatuh pada malam yang ke-21. Sedangkan para sahabat Rosululloh melihat dalam mimpi mereka bahwa malam Lailatul-Qodar jatuh pada malam ke 27. (HR. Bukhori no.2015, Muslim no.1165 dari shohabat Abdulloh bin ‘Umar ).
ang shohih dari perbedaan para ulama tentang jatuhnya malam Lailatul-Qodar pada 10 hari terakhir adalah berpindah-pindah pada setiap tahunnya, terkadang pada tahun ini jatuh pada malam yang ke 21, kemudian pada tahun berikutnya jatuh pada malam yang ke 29, 25 atau 24.
dapun hikmah berpindah-pindahnya malam Lailatul-Qodar supaya orang-orang yang malas menjalankan ibadah, mereka bersemangat untuk menjalankan ibadah pada 10 hari terakhir di bulan Romadlon. Hikmah yang lainnya juga yaitu agar menambah amal shalih seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Syaikh Utsaimin)
Soal 2 : Apa alamat/tanda malam Lailatul-Qodar?
Jawab: Lailatul-Qodar mempunyai beberapa alamat/tanda, baik secara langsung (yaitu pada malamnya) maupun setelah terjadi (yaitu pada pagi harinya).
Adapun alamat secara langsung (yaitu pada malamnya) di antaranya:
1) Sinar cahaya sangat kuat pada malam Lailatul-Qodar dibandingkan dengan malam-malam yang lainnya. Tanda ini pada zaman sekarang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang tinggal ditempat yang jauh dari sinar listrik atau sejenisnya.
2) Bertambah kuatnya cahaya pada malam itu.
3) Thuma’ninah. Yaitu ketenangan dan kelapangan hati yang dirasakan oleh orang-orang yang beriman lebih kuat dari malam-malam yang yang lainnya.
4) Angin dalam keadaan tenang pada malam Lailatul-Qodar, tidak berhembus kencang (tidak ada badai) dan tidak ada guntur. Hal ini berdasarkan hadits dari shohabat Jabir bin Abdillah sesungguhnya Rosululloh bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya Aku melihat Lailatul-Qodar kemudian dilupakannya, Lailatul-Qodar turun pada 10 akhir (bulan Romadlon) yaitu malam yang terang, tidak dingin dan tidak panas serta tidak turun hujan”. (HR. Ibnu Khuzaimah no.2190 dan Ibnu Hibban no.3688 dan dishohihkan oleh keduanya).
Kemudian hadits dari shohabat ‘Ubadah bin Shomit sesungguhnya Rosululloh bersabda (yang artinya) “Sesungguhnya alamat Lailatul-Qodar adalah malam yang cerah dan terang seakan-akan nampak didalamnya bulan bersinar terang, tetap dan tenang, tidak dingin dan tidak panas. Haram bagi bintang-bintang melempar pada malam itu sampai waktu subuh. Sesungguhnya termasuk dari tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tegak lurus, tidak tersebar sinarnya seperti bulan pada malam purnama, haram bagi syaithon keluar bersamanya (terbitnya matahari) pada hari itu”. (HR. Ahmad 5/324, Al-Haitsamy 3/175 dia berkata : perawinya tsiqoh)
5. Terkadang Alloh memperlihatkan malam Lailatul-Qodar kepada seseorang dalam mimpinya. Sebagaimana hal ini terjadi pada diri para shahabat Rosululloh .
6. Kenikmatan beribadah dirasakan oleh seseorang pada malam Lailatul-Qodar lebih tinggi dari malam-malam yang lainnya.
Adapun alamat setelah terjadi (yaitu pada pagi harinya) di antaranya: Matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tidak tersebar sinarnya dan tidak menyilaukan, berbeda dengan hari-hari biasanya. Hal ini berdasarkan hadits dari shohabat Ubay bin Ka’ab yang mengatakan: “Sesungguhnya Rosululloh mengkabarkan kepada kami: “Sesungguhnya Matahari terbit pada hari itu dalam keaadaan tidak tersebar sinarnya”. (HR. Muslim no.762, 2/828)
Adapun alamat yang menyebutkan bahwa tidak ada atau sedikit gonggongan anjing pada malam Lailatul-Qodar adalah tidak benar, karena terkadang dijumpai pada 10 malam terakhir di bulan Romadlon anjing dalam keadaan menyalak/menggonggong. (Syaikh Utsaimin)
(Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid dari Fataawa Lajnah ad Da’imah, Syarhul Mumthi’ Ibnu Utsaimin, Fataawa wa Rasaail Ibnu Utsaimin, dan Majmu’Fataawa Syaikh Shalih Fauzan)
Penulis: Fadlilatu Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Faqih Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah-
Soal 1: Malam Lailatul Qodar itu jatuh pada hari ke berapa?
Jawab: Di dalam Al-Qur’an tidak diterangkan pada malam ke berapa malam Lailatul Qodar itu jatuh, tetapi di dalam hadits diterangkan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf pada 10 hari awal di bulan Ramadhan menginginkan malam Lailatul Qodar, kemudian beliau beri’tikaf pada 10 hari pertengahannya dan mengatakan (yang artinya): “Sesungguhnya malam Lailatul Qodar itu jatuh pada 10 hari akhir di bulan Ramadhan”. Beliau melihatnya dan beliau sujud di waktu shubuh di tempat yang berair bercampur tanah, kemudian pada malam ke-21 di saat beliau i’tikaf, turunlah hujan maka mengalirlah air hujan tersebut pada atap masjid karena masjid Nabi shallallahu alaihi wa sallam terbuat dari anjang-anjang. Beliau menjalankan sholat subuh bersama para sahabatnya kemudian beliau sujud. Anas bin Malik berkata: ‘Aku melihat bekas air dan tanah dikeningnya, maka beliau sujud ditempat yang berair bercampur tanah.” (HR. Bukhori no.669 dan 2016, Muslim no.1167, dan 216 dari shohabat Abu Sa’id Al-Khudri).
Hadits di atas menunjukkan bahwa malam Lailatul-Qodar pada saat itu jatuh pada malam yang ke-21. Sedangkan para sahabat Rosululloh melihat dalam mimpi mereka bahwa malam Lailatul-Qodar jatuh pada malam ke 27. (HR. Bukhori no.2015, Muslim no.1165 dari shohabat Abdulloh bin ‘Umar ).
ang shohih dari perbedaan para ulama tentang jatuhnya malam Lailatul-Qodar pada 10 hari terakhir adalah berpindah-pindah pada setiap tahunnya, terkadang pada tahun ini jatuh pada malam yang ke 21, kemudian pada tahun berikutnya jatuh pada malam yang ke 29, 25 atau 24.
dapun hikmah berpindah-pindahnya malam Lailatul-Qodar supaya orang-orang yang malas menjalankan ibadah, mereka bersemangat untuk menjalankan ibadah pada 10 hari terakhir di bulan Romadlon. Hikmah yang lainnya juga yaitu agar menambah amal shalih seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Syaikh Utsaimin)
Soal 2 : Apa alamat/tanda malam Lailatul-Qodar?
Jawab: Lailatul-Qodar mempunyai beberapa alamat/tanda, baik secara langsung (yaitu pada malamnya) maupun setelah terjadi (yaitu pada pagi harinya).
Adapun alamat secara langsung (yaitu pada malamnya) di antaranya:
1) Sinar cahaya sangat kuat pada malam Lailatul-Qodar dibandingkan dengan malam-malam yang lainnya. Tanda ini pada zaman sekarang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang tinggal ditempat yang jauh dari sinar listrik atau sejenisnya.
2) Bertambah kuatnya cahaya pada malam itu.
3) Thuma’ninah. Yaitu ketenangan dan kelapangan hati yang dirasakan oleh orang-orang yang beriman lebih kuat dari malam-malam yang yang lainnya.
4) Angin dalam keadaan tenang pada malam Lailatul-Qodar, tidak berhembus kencang (tidak ada badai) dan tidak ada guntur. Hal ini berdasarkan hadits dari shohabat Jabir bin Abdillah sesungguhnya Rosululloh bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya Aku melihat Lailatul-Qodar kemudian dilupakannya, Lailatul-Qodar turun pada 10 akhir (bulan Romadlon) yaitu malam yang terang, tidak dingin dan tidak panas serta tidak turun hujan”. (HR. Ibnu Khuzaimah no.2190 dan Ibnu Hibban no.3688 dan dishohihkan oleh keduanya).
Kemudian hadits dari shohabat ‘Ubadah bin Shomit sesungguhnya Rosululloh bersabda (yang artinya) “Sesungguhnya alamat Lailatul-Qodar adalah malam yang cerah dan terang seakan-akan nampak didalamnya bulan bersinar terang, tetap dan tenang, tidak dingin dan tidak panas. Haram bagi bintang-bintang melempar pada malam itu sampai waktu subuh. Sesungguhnya termasuk dari tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tegak lurus, tidak tersebar sinarnya seperti bulan pada malam purnama, haram bagi syaithon keluar bersamanya (terbitnya matahari) pada hari itu”. (HR. Ahmad 5/324, Al-Haitsamy 3/175 dia berkata : perawinya tsiqoh)
5. Terkadang Alloh memperlihatkan malam Lailatul-Qodar kepada seseorang dalam mimpinya. Sebagaimana hal ini terjadi pada diri para shahabat Rosululloh .
6. Kenikmatan beribadah dirasakan oleh seseorang pada malam Lailatul-Qodar lebih tinggi dari malam-malam yang lainnya.
Adapun alamat setelah terjadi (yaitu pada pagi harinya) di antaranya: Matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tidak tersebar sinarnya dan tidak menyilaukan, berbeda dengan hari-hari biasanya. Hal ini berdasarkan hadits dari shohabat Ubay bin Ka’ab yang mengatakan: “Sesungguhnya Rosululloh mengkabarkan kepada kami: “Sesungguhnya Matahari terbit pada hari itu dalam keaadaan tidak tersebar sinarnya”. (HR. Muslim no.762, 2/828)
Adapun alamat yang menyebutkan bahwa tidak ada atau sedikit gonggongan anjing pada malam Lailatul-Qodar adalah tidak benar, karena terkadang dijumpai pada 10 malam terakhir di bulan Romadlon anjing dalam keadaan menyalak/menggonggong. (Syaikh Utsaimin)
(Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid dari Fataawa Lajnah ad Da’imah, Syarhul Mumthi’ Ibnu Utsaimin, Fataawa wa Rasaail Ibnu Utsaimin, dan Majmu’Fataawa Syaikh Shalih Fauzan)
Kemuliaan lailatul qadar
Kemuliaan lailatul qadar
Oleh MOHD. YAAKUB MOHD. YUNUS
http://akob73.blogspot.com/2008/09/utusan-malaysia-25-september-kemuliaan.html
BULAN Ramadan merupakan satu bulan yang penuh keberkatan di mana Allah SWT meluaskan rahmat-Nya agar menaungi seluruh hamba-hamba- Nya yang tekun beribadat dan taat kepada-Nya dengan memberi ganjaran pahala yang berlipat kali ganda.
Pada bulan ini juga terdapat satu malam yang lebih mulia berbanding 1,000 bulan, iaitu lailatul qadar. Padanyalah diturunkan al-Quran yang dijadikan panduan bagi seluruh umat Islam.
Firman Allah SWT: Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Quran) itu pada malam al-Qadar. Apakah cara yang membolehkan engkau mengetahui kebesaran lailatulqadar itu? Lailatul qadar ialah malam yang paling baik berbanding 1,000 bulan. Pada malam itu, para malaikat dan Jibril turun dengan izin Tuhan mereka membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun berikutnya). Sejahteralah malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar. (al-Qadr: 1-5).
Oleh itu, sesiapa yang beribadat pada bulan Ramadan dan menepati malam lailatul qadar, ganjaran pahala amalannya itu melebihi ibadah yang dilakukannya selama 1,000 bulan.
Apakah itu lailatul qadar?
Tentang makna al-Qadr, sebahagian ulama berpendapat ia bermaksud pengagungan. Dari sini dapat kita fahami bahawa lailatul qadar bermaksud malam yang memiliki keagungan kerana diturunkan al-Quran pada malam tersebut, turunnya para malaikat, melimpahnya rahmat dan keampunan Allah serta Allah akan menganugerahkan keagungan (kemuliaan) kepada mereka yang beribadat pada malam itu.
Al-Qadr juga bermaksud penetapan. Oleh itu, lailatul qadar juga bermaksud malam penetapan segala urusan yang bakal berlaku pada tahun berikutnya. Ini jelas bertentangan dengan tanggapan kebanyakan umat Islam di Malaysia yang beranggapan bahawa malam Nisfu Syaaban merupakan malam di mana Allah menetapkan apa yang ditakdirkan untuk kita pada tahun berikutnya.
Mereka berhujah dengan firman Allah SWT: Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran itu pada malam yang berkat; (Kami berbuat demikian) kerana sesungguhnya Kami sentiasa memberi peringatan dan amaran (agar hamba-hamba Kami tidak ditimpa azab). (Kami menurunkan al-Quran pada malam itu kerana) pada malam yang berkat itu dijelaskan (kepada malaikat) tiap-tiap perkara yang mengandungi hikmat serta ketetapan yang bakal berlaku. (al-Dukhan: 3-4.
Menurut tafsiran 'Ikrimah, malam yang diberkati dan ditetapkan segala urusan manusia itu adalah malam Nisfu Syaaban. Namun, pendapat ini tertolak kerana nas-nas yang sahih menjelaskan bahawa al-Quran diturunkan pada bulan Ramadan. Malam yang diberkati itu adalah malam lailatul qadar sebagaimana yang terdapat di dalam surah al-Qadr yang penulis paparkan sebelum ini.
Al-Hafiz Ibn Kathir r.h ketika mentafsirkan surah al-Dukhan, ayat 3-4, katanya: "Allah berfirman menjelaskan tentang al-Quran al-Adzim bahawa al-Quran diturunkan pada malam yang penuh berkat, iaitu malam al-Qadr sebagaimana firman Allah di dalam surah al-Qadr: Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Quran) ini pada malam al-Qadr. (al-Qadr: 1).
Hal itu terjadi pada bulan Ramadan sebagaimana firman Allah: (Masa yang diwajibkan kamu berpuasa ialah) bulan Ramadan yang diturunkan al-Quran padanya...(al-Baqarah: 185).
Pengajaran di sini ialah sesiapa yang mengatakan bahawa malam yang dimaksudkan (dalam surah al-Dukhaan itu) adalah malam Nisfu Syaaban seperti yang diriwayatkan daripada 'Ikrimah, bererti dia telah menjauhkan diri dari pengertian asalnya. Ini kerana, nas al-Quran menegaskan bahawa yang dimaksudkan dengan malam yang penuh berkat itu (lailatul qadar) adalah pada bulan Ramadan. (Rujuk Kitab Tafsir al-Quran al-'Adzim karya al-Hafiz Ibn Kathir, jil. 4, ms. 137).
Syeikh Muhammad Abdul Salam r.h berkata: "Keyakinan bahawa malam Nisfu Syaaban adalah malam al-Qadr adalah keyakinan yang salah". Demikian kesepakatan para ulama hadis sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Kathir di dalam tafsirnya. Ketika menjelaskan Sunan al-Tirmizi, Ibn al-Arabi mengatakan bahawa firman Allah di dalam surah al-Dukhan, ayat 3: Sesungguhnya kami menurunkan al-Quran bermaksud diturunkan pada malam Nisfu Syaaban adalah tidak benar kerana Allah tidak pernah menurunkan al-Quran pada bulan Syaaban.
Ayat itu harus difahami secara lengkapnya sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran pada malam al-Qadr di mana lailatul qadar itu hanya wujud pada bulan Ramadan. Hal ini juga ditegaskan oleh Allah di dalam surah al-Baqarah, ayat 185 di atas tadi.
Keyakinan al-Qadr berlaku pada malam Nisfu Syaaban bertentangan dengan Kitabullah dan jauh terpesong dari isi kandungannya.
Perlu kami ingatkan bahawa Allah sendiri menegaskan tentang malam itu di dalam surah al-Dukhan, ayat 3: (Kami menurunkan al-Quran pada malam itu kerana) pada malam yang berkat itu dijelaskan (kepada malaikat) tiap-tiap perkara yang mengandungi hikmat serta ketetapan bermaksud pada malam al-Qadr dijelaskan segala hal kepada malaikat bukannya pada malam Nisfu Syaaban. (Rujuk Kitab al-Sunan wa al-Mubtada'at karya Muhammad Abdul Salam Khadr al-Syaqiry, ms. 156).
Bilakah berlakunya lailatul qadar?
Sabda Rasulullah SAW: Carilah lailatul qadar pada malam-malam yang ganjil daripada 10 malam terakhir di bulan Ramadan. (riwayat al-Bukhari di dalam sahihnya, no: 2017.
Dalam sabdanya yang lain baginda SAW menyebut: Carilah (lailatulqadar) pada 10 malam terakhir. Jika seseorang kamu lemah atau tidak mampu, janganlah Dia kalah (putus asa) mencarinya pada baki tujuh malam terakhir. (riwayat Muslim di dalam Sahihnya, no: 1165).
Kombinasi hadis di atas dapatlah kita simpulkan bahawa kita sepatutnya menggandakan ibadah pada malam yang ganjil bermula 10 malam terakhir pada bulan Ramadan terutamanya pada malam ke 23, 25, 27 dan 29.
Oleh MOHD. YAAKUB MOHD. YUNUS
http://akob73.blogspot.com/2008/09/utusan-malaysia-25-september-kemuliaan.html
BULAN Ramadan merupakan satu bulan yang penuh keberkatan di mana Allah SWT meluaskan rahmat-Nya agar menaungi seluruh hamba-hamba- Nya yang tekun beribadat dan taat kepada-Nya dengan memberi ganjaran pahala yang berlipat kali ganda.
Pada bulan ini juga terdapat satu malam yang lebih mulia berbanding 1,000 bulan, iaitu lailatul qadar. Padanyalah diturunkan al-Quran yang dijadikan panduan bagi seluruh umat Islam.
Firman Allah SWT: Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Quran) itu pada malam al-Qadar. Apakah cara yang membolehkan engkau mengetahui kebesaran lailatulqadar itu? Lailatul qadar ialah malam yang paling baik berbanding 1,000 bulan. Pada malam itu, para malaikat dan Jibril turun dengan izin Tuhan mereka membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun berikutnya). Sejahteralah malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar. (al-Qadr: 1-5).
Oleh itu, sesiapa yang beribadat pada bulan Ramadan dan menepati malam lailatul qadar, ganjaran pahala amalannya itu melebihi ibadah yang dilakukannya selama 1,000 bulan.
Apakah itu lailatul qadar?
Tentang makna al-Qadr, sebahagian ulama berpendapat ia bermaksud pengagungan. Dari sini dapat kita fahami bahawa lailatul qadar bermaksud malam yang memiliki keagungan kerana diturunkan al-Quran pada malam tersebut, turunnya para malaikat, melimpahnya rahmat dan keampunan Allah serta Allah akan menganugerahkan keagungan (kemuliaan) kepada mereka yang beribadat pada malam itu.
Al-Qadr juga bermaksud penetapan. Oleh itu, lailatul qadar juga bermaksud malam penetapan segala urusan yang bakal berlaku pada tahun berikutnya. Ini jelas bertentangan dengan tanggapan kebanyakan umat Islam di Malaysia yang beranggapan bahawa malam Nisfu Syaaban merupakan malam di mana Allah menetapkan apa yang ditakdirkan untuk kita pada tahun berikutnya.
Mereka berhujah dengan firman Allah SWT: Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran itu pada malam yang berkat; (Kami berbuat demikian) kerana sesungguhnya Kami sentiasa memberi peringatan dan amaran (agar hamba-hamba Kami tidak ditimpa azab). (Kami menurunkan al-Quran pada malam itu kerana) pada malam yang berkat itu dijelaskan (kepada malaikat) tiap-tiap perkara yang mengandungi hikmat serta ketetapan yang bakal berlaku. (al-Dukhan: 3-4.
Menurut tafsiran 'Ikrimah, malam yang diberkati dan ditetapkan segala urusan manusia itu adalah malam Nisfu Syaaban. Namun, pendapat ini tertolak kerana nas-nas yang sahih menjelaskan bahawa al-Quran diturunkan pada bulan Ramadan. Malam yang diberkati itu adalah malam lailatul qadar sebagaimana yang terdapat di dalam surah al-Qadr yang penulis paparkan sebelum ini.
Al-Hafiz Ibn Kathir r.h ketika mentafsirkan surah al-Dukhan, ayat 3-4, katanya: "Allah berfirman menjelaskan tentang al-Quran al-Adzim bahawa al-Quran diturunkan pada malam yang penuh berkat, iaitu malam al-Qadr sebagaimana firman Allah di dalam surah al-Qadr: Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Quran) ini pada malam al-Qadr. (al-Qadr: 1).
Hal itu terjadi pada bulan Ramadan sebagaimana firman Allah: (Masa yang diwajibkan kamu berpuasa ialah) bulan Ramadan yang diturunkan al-Quran padanya...(al-Baqarah: 185).
Pengajaran di sini ialah sesiapa yang mengatakan bahawa malam yang dimaksudkan (dalam surah al-Dukhaan itu) adalah malam Nisfu Syaaban seperti yang diriwayatkan daripada 'Ikrimah, bererti dia telah menjauhkan diri dari pengertian asalnya. Ini kerana, nas al-Quran menegaskan bahawa yang dimaksudkan dengan malam yang penuh berkat itu (lailatul qadar) adalah pada bulan Ramadan. (Rujuk Kitab Tafsir al-Quran al-'Adzim karya al-Hafiz Ibn Kathir, jil. 4, ms. 137).
Syeikh Muhammad Abdul Salam r.h berkata: "Keyakinan bahawa malam Nisfu Syaaban adalah malam al-Qadr adalah keyakinan yang salah". Demikian kesepakatan para ulama hadis sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Kathir di dalam tafsirnya. Ketika menjelaskan Sunan al-Tirmizi, Ibn al-Arabi mengatakan bahawa firman Allah di dalam surah al-Dukhan, ayat 3: Sesungguhnya kami menurunkan al-Quran bermaksud diturunkan pada malam Nisfu Syaaban adalah tidak benar kerana Allah tidak pernah menurunkan al-Quran pada bulan Syaaban.
Ayat itu harus difahami secara lengkapnya sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran pada malam al-Qadr di mana lailatul qadar itu hanya wujud pada bulan Ramadan. Hal ini juga ditegaskan oleh Allah di dalam surah al-Baqarah, ayat 185 di atas tadi.
Keyakinan al-Qadr berlaku pada malam Nisfu Syaaban bertentangan dengan Kitabullah dan jauh terpesong dari isi kandungannya.
Perlu kami ingatkan bahawa Allah sendiri menegaskan tentang malam itu di dalam surah al-Dukhan, ayat 3: (Kami menurunkan al-Quran pada malam itu kerana) pada malam yang berkat itu dijelaskan (kepada malaikat) tiap-tiap perkara yang mengandungi hikmat serta ketetapan bermaksud pada malam al-Qadr dijelaskan segala hal kepada malaikat bukannya pada malam Nisfu Syaaban. (Rujuk Kitab al-Sunan wa al-Mubtada'at karya Muhammad Abdul Salam Khadr al-Syaqiry, ms. 156).
Bilakah berlakunya lailatul qadar?
Sabda Rasulullah SAW: Carilah lailatul qadar pada malam-malam yang ganjil daripada 10 malam terakhir di bulan Ramadan. (riwayat al-Bukhari di dalam sahihnya, no: 2017.
Dalam sabdanya yang lain baginda SAW menyebut: Carilah (lailatulqadar) pada 10 malam terakhir. Jika seseorang kamu lemah atau tidak mampu, janganlah Dia kalah (putus asa) mencarinya pada baki tujuh malam terakhir. (riwayat Muslim di dalam Sahihnya, no: 1165).
Kombinasi hadis di atas dapatlah kita simpulkan bahawa kita sepatutnya menggandakan ibadah pada malam yang ganjil bermula 10 malam terakhir pada bulan Ramadan terutamanya pada malam ke 23, 25, 27 dan 29.
Apakah Lailatul Qadar bersifat khusus atau umum?
Apakah Lailatul Qadar bersifat khusus atau umum?
(هل هي ليلة عامة أو خاصة ؛)
Diantara perkara yang dibahaskan ulama' disini adalah : apakah Lailatul Qadar dikhususkan kepada beberapa orang (tertentu sahaja), lalu menzahirkan kepadanya melihat alamat-alamat, atau melihatnya didalam mimpi, atau ada karamah luarbiasa yang terjadi, dan tidak berlaku kepada orang lain? Atau ia merupakan satu malam yang bersifat umum kepada kesemua orang Islam, sehingga hasil pahala dapat dikecapi bersama kepada sesiapa yang melakukan solat / qiam pada masa itu, walaupun tidak dizahirkan apa-apa alamat sekalipun?
Maka kebanyakkan ulama telah memilih pandangan kedua, bersandarkan hadith Abu Hurairah ra.:
من يقم ليلة القدر فيوافقها..
"Barangsiapa yang berqiam pada malam Lailatul Qadar maka dia telah menjumpainya..." [Hadith Riwayat Muslim].
Begitu juga dengan hadith A'isyah ra. :-
رأيت يا رسول الله إن وافقت ليلة القدر ما أقول؟ فقال: قولي: اللهم إنك عفوٌّ تحب العفو فاعفُ عني
"Apa pendapat kamu Ya Rasulullah jika aku berjumpa dengan Lailatul Qadar dan apa yang hendak aku ucapkan? Jawab baginda : Katakanlah : Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan yang memberi kemaafan, Engkau mencinta kemaafan, maka maafkanlah aku" [Hadith Riwayat Ibn Maajah dan Imam al-Timudzi].
Maka mereka mentafsirkan perkataan 'menjumpai' atau al-muwaafaqah (الموافقة) dengan maksud 'mengetahuinya', dan ini lah merupakan syarat untuk mendapatkan pahala, ia itu khusus dengannya (dengan 'al-Muwaafaqah').
Ulama' lain memilih makna menjumpainya : iaitu pada diri sendiri, walaupun tidak mengetahuinya, kerana sesungguhnya bukanlah menjadi syarat akibat dari melihat sesuatu atau mendengarnya, sebagaimana yang diperkatakan oleh Imam al-Thabari.
Ada beberapa kalam ulama' yang meletakkan syarat perlu mengetahui Lailatul Qadar telah menjadi sebab kebanyakan orang awam beritiqad bahawa Lailatul Qadar adalah cahaya yang kuat yang dibuka kepada beberapa orang dengan mendapat kegembiraan, dan sebahagian lain tidak mendapatnya. Maka timbullah orang berkata : Si Fulan telah mendapat Lailatul Qadar. KESEMUA INI TERMASUKLAH PERKARA YANG TIDAK DIDASARKAN DENGAN DALIL YANG JELAS DARI SYARA'.
Maka Lailatul Qadar itu bersifat UMUM kepada seluruh umat Islam yang menunggunya, mencari kebaikkan dan ganjarannya, serta apa yang disisi Allah, iaitu malam ibadat dan ketaatan, dengan melakukan Solat, Tilawah al-Quran, berdo'a, melakukan sedekah, menjalinkan silatul rahim, dan segala perbuatan yang baik.
Paling sedikit seseorang Islam itu boleh lakukan pada malam itu adalah : bersolat Isya' berjemaah, dan solat Subuh berjemaah, kerana kedua-duanya menyerupai Qiamullail. Didalam sebuah hadith sahih Nabi :saw bersabda :
من صلى العشاء في جماعة، فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة، فكأنما صلى الليل كله
"Barangsiapa yang bersolat Isya' berjemaah, maka seolah-olah dia telah bersolat separuh malam, dan barangsiapa bersolat Subuh berjemaah, maka seolah-olah dia telah bersolat sepenuh malam" [Hadith Riwayat Ahmad dan Muslim dengan lafaznya, dari hadith Uthman, Sahih al-Jaami' al-Shaghir #6341].
Maksudnya 'barangsiapa yang telah bersolat Subuh', iaitu setelah menunaikan solat Isya', dan diperjelaskan didalam sebuah hadith riwayat Abu Daud dan Imam al-Tirmudzi :-
من صلى العشاء في جماعة كان كقيام نصف ليلة، ومن صلى العشاء والفجر في جماعة كان كقيام ليلة
"Barangsiapa bersolat Isya' berjemaah, seakan-akan dia bersolat separuh malam, dan barangsiapa yang bersolat Isya' dan Fajar berjemaah, seakan-akan dia telah melakukan Qiamullail" [Rujukan seperti diatas, hadith #6342].
Terjemahan dari buku :
Syeikh Dr Yusuf al-Qaradhawi. Fiqh al-Shiyaam. Beirut : Muaasasah al-Risalah, 2001. ms 133.
(هل هي ليلة عامة أو خاصة ؛)
Diantara perkara yang dibahaskan ulama' disini adalah : apakah Lailatul Qadar dikhususkan kepada beberapa orang (tertentu sahaja), lalu menzahirkan kepadanya melihat alamat-alamat, atau melihatnya didalam mimpi, atau ada karamah luarbiasa yang terjadi, dan tidak berlaku kepada orang lain? Atau ia merupakan satu malam yang bersifat umum kepada kesemua orang Islam, sehingga hasil pahala dapat dikecapi bersama kepada sesiapa yang melakukan solat / qiam pada masa itu, walaupun tidak dizahirkan apa-apa alamat sekalipun?
Maka kebanyakkan ulama telah memilih pandangan kedua, bersandarkan hadith Abu Hurairah ra.:
من يقم ليلة القدر فيوافقها..
"Barangsiapa yang berqiam pada malam Lailatul Qadar maka dia telah menjumpainya..." [Hadith Riwayat Muslim].
Begitu juga dengan hadith A'isyah ra. :-
رأيت يا رسول الله إن وافقت ليلة القدر ما أقول؟ فقال: قولي: اللهم إنك عفوٌّ تحب العفو فاعفُ عني
"Apa pendapat kamu Ya Rasulullah jika aku berjumpa dengan Lailatul Qadar dan apa yang hendak aku ucapkan? Jawab baginda : Katakanlah : Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan yang memberi kemaafan, Engkau mencinta kemaafan, maka maafkanlah aku" [Hadith Riwayat Ibn Maajah dan Imam al-Timudzi].
Maka mereka mentafsirkan perkataan 'menjumpai' atau al-muwaafaqah (الموافقة) dengan maksud 'mengetahuinya', dan ini lah merupakan syarat untuk mendapatkan pahala, ia itu khusus dengannya (dengan 'al-Muwaafaqah').
Ulama' lain memilih makna menjumpainya : iaitu pada diri sendiri, walaupun tidak mengetahuinya, kerana sesungguhnya bukanlah menjadi syarat akibat dari melihat sesuatu atau mendengarnya, sebagaimana yang diperkatakan oleh Imam al-Thabari.
Ada beberapa kalam ulama' yang meletakkan syarat perlu mengetahui Lailatul Qadar telah menjadi sebab kebanyakan orang awam beritiqad bahawa Lailatul Qadar adalah cahaya yang kuat yang dibuka kepada beberapa orang dengan mendapat kegembiraan, dan sebahagian lain tidak mendapatnya. Maka timbullah orang berkata : Si Fulan telah mendapat Lailatul Qadar. KESEMUA INI TERMASUKLAH PERKARA YANG TIDAK DIDASARKAN DENGAN DALIL YANG JELAS DARI SYARA'.
Maka Lailatul Qadar itu bersifat UMUM kepada seluruh umat Islam yang menunggunya, mencari kebaikkan dan ganjarannya, serta apa yang disisi Allah, iaitu malam ibadat dan ketaatan, dengan melakukan Solat, Tilawah al-Quran, berdo'a, melakukan sedekah, menjalinkan silatul rahim, dan segala perbuatan yang baik.
Paling sedikit seseorang Islam itu boleh lakukan pada malam itu adalah : bersolat Isya' berjemaah, dan solat Subuh berjemaah, kerana kedua-duanya menyerupai Qiamullail. Didalam sebuah hadith sahih Nabi :saw bersabda :
من صلى العشاء في جماعة، فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة، فكأنما صلى الليل كله
"Barangsiapa yang bersolat Isya' berjemaah, maka seolah-olah dia telah bersolat separuh malam, dan barangsiapa bersolat Subuh berjemaah, maka seolah-olah dia telah bersolat sepenuh malam" [Hadith Riwayat Ahmad dan Muslim dengan lafaznya, dari hadith Uthman, Sahih al-Jaami' al-Shaghir #6341].
Maksudnya 'barangsiapa yang telah bersolat Subuh', iaitu setelah menunaikan solat Isya', dan diperjelaskan didalam sebuah hadith riwayat Abu Daud dan Imam al-Tirmudzi :-
من صلى العشاء في جماعة كان كقيام نصف ليلة، ومن صلى العشاء والفجر في جماعة كان كقيام ليلة
"Barangsiapa bersolat Isya' berjemaah, seakan-akan dia bersolat separuh malam, dan barangsiapa yang bersolat Isya' dan Fajar berjemaah, seakan-akan dia telah melakukan Qiamullail" [Rujukan seperti diatas, hadith #6342].
Terjemahan dari buku :
Syeikh Dr Yusuf al-Qaradhawi. Fiqh al-Shiyaam. Beirut : Muaasasah al-Risalah, 2001. ms 133.
Lailatul Qadar datang hanya sekali?
Lailatul Qadar datang hanya sekali?
Didalam kesibukan umat Islam menanti kedatangan satu malam yang penuh kemuliaan, iaitu Lailatul Qadar, ada pula dikalangan mereka yang cuba mencucuk jarum pemikiran umat Islam dengan mengatakan penantian Lailatul Qadar itu merupakan suatu penantian yang sia-sia dan sesat belaka! Bagi mereka, Lailatul Qadar hanyalah suatu catatan sejarah yang dipaparkan didalam surah al-Qadar. Mereka berpendapat bahawa Lailatul Qadar hanya berlaku sekali sahaja, iaitu pada malam penurunan al-Quran.
Salah satu keadah yang digunakan adalah dengan cara menimbulkan kekeliruan dikalangan umat Islam berkenaan dengan hadith-hadith didalam Kitab Sahih Bukhari dan juga Kitab Sahih Muslim, iaitu memaparkan beberapa malam yang berbeza-beza dijangkakan berlaku Lailtul Qadar. Misalnya didalam hadith riwayat Imam Bukhari, dari Ibn Umar ra, Nabi :saw menyeru agar umat Islam mencari Lailatul Qadar pada tujuh (7) malam terakhir. Didalam hadith yang lain pula, dari A'isyah ra. Nabi :saw menyeru agar umat Islam mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil pada 10 malam terakhir. Dipaparkan beberapa hadith Imam Muslim yang menjelaskan malam-malam tertentu kedatangan Lailatul Qadar misalnya pada malam 25, 27, dan 29.
Penulis tersebut memberi kesimpulan : "Semua hadis tersebut adalah bercanggah, anih dan tidak boleh dipercayai. Tidak terdapat satu pun hadis yang mengatakan bahawa Nabi atau sahabat pernah terjumpa lailatul Qadar itu."
Tambah penulis tersebut : "Quran itu diturunkan kepada Nabi sekali sahaja dalam waktu hayatnya. Maka peristiwa lailatul Qadar itu tentulah juga sekali sahaja dan tidak akan berulang lagi hingga hari kiamat. Oleh itu, menunggu-nunggu kedatangan lailatul Qadar nyatalah amalan sesat dan sia-sia."
Mentafsir surah al-Qadr
Dalil yang diberikan oleh golongan ini adalah sebagaimana Firman Allah swt didalam surah al-Qadr :-
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
"Sesungguhnya kami telah menurutkan NYA pada malam al-Qadar" [al-Qadr : 1]
Penulis tersebut menjelaskan :"Ayat 97:1 menjelaskan bahawa malam qadr itu berlaku sekali sahaja iaitu satu malam waktu Quran diturunkan. Malam itulah yang dikatakan lebih baik daripada seribu bulan dimana Malaikat dan Roh juga turun.
Quran itu telah diturunkan pada bulan Ramadan, seperti yang dijelaskan di dalam ayat 2:185. "Bulan Ramadan yang padanya al-Qur'an diturunkan untuk menjadi satu petunjuk bagi manusia.."
Persoalannya sekarang adalah, perkataan HU atau NYA didalam Anzalna merujuk kepada apa? Penulis tersebut menjelaskan bahawa HU itu merujuk kepada al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan sepertimana didalam surah al-Baqarah ayat 185. Dengan hanya menggunakan kaedah tafsir al-Quran bi al-Quran, tidak mungkin seseorang itu dapat mengaitkan diantara kedua-dua surah ini; iaitu surah al-Qadar ayat 1 dan al-Baqarah ayat 185.
Keseluruhan surah al-Qadr tidak membayangkan :
a. Apa benda yang Allah swt turunkan pada malam al-Qadr?
b. Lailatul Qadar itu berlaku pada bulan apa?
Sudah tentu penulis tersebut secara diam-diam telah merujuk kepada kitab tafsir atau catatan-catatan mufassirin (ulama' tafsir) yang menjelaskan bahawa HU didalam ayat 1 surah al-Qadr merujuk kepada al-Quran, dan al-Quran diturunkan pada malam Ramadhan sebagaimana yang disebut didalam surah al-Baqarah ayat 185. Para ulama' tafsir ini juga menggunakan hadith-hadith Nabi :saw dan pandangan-pandangan sahabat didalam mentafsirkan dan mengaitkan ayat-ayat ini! Penafsiran ini juga menunjukkan mereka juga bergantung kepada hadith Nabi :saw didalam beberapa keadaan dan menafikannya didalam keadaan yang lain. Bagaikan talam dua muka.
Lailatul Qadar berlaku hanya pada malam penurunan al-Quran?
Menurut Ibn Abbas ra. (didalam Tafsir ibn Kathir), al-Quran diturunkan sekali gus (Jumlatun Wahidah) dari al-Luh al-Mahfuz ke Baitul al-Izzah (dari Langit Dunia), kemudian barulah diturunkan sedikit demi sedikit kepada Nabi :saw selama 23 tahun melalui Jibril as. Berdasarkan kenyataan bahawa pada masa itu sahajalah berlaku Lailatul Qadar, maka persoalannya sekarang : pada masa itu, Nabi :saw masih belum lagi menerima wahyu pertamanya!?. Mana mungkin baginda menyuruh umatnya mencari Lailatul Qadar sedangkan al-Quran belum lagi diturunkan kepada baginda (dari langit dunia)??
Firman Allah swt seterusnya didalam surah al-Qadr [ayat 3 hingga 5] :
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ.
"Malam Lailatul-Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Pada Malam itu, turun malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun yang berikut); Sejahteralah Malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar! "
Bagaimana pula seruan ayat diatas ini dapat dinikmati oleh umat Nabi :saw, iaitu ganjarannya beribadat selama 1,000 bulan jika peristiwa Lailatul Qadar tidak berulang lagi. Kalau benar ia hanya berlaku pada malam penurunan al-Quran, tidak perlulah Jibril as dan malaikat yang lain turun membawa rahmat, kerana pada masa itu al-Quran hanya sampai di Langit Dunia, dan baginda Rasul :saw belum lagi menerima surah al-Qadr.
Hadith Lailatul Qadar saling bercanggah?
Apakah hadith-hadith ini bercanggah diantara satu sama lain? Sudah tentu tidak. Ia merupakan tips yang di berikan oleh Nabi :saw kepada umatnya untuk mempertingkat amalan pada sepuluh malam terakhir. Mereka yang mengatakan bahawa hadith-hadith ini bercanggah adalah mereka yang tidak mengetahui uslub dan keadah hadith.
Lihat beberapa contoh hadith yang menceritakan berkenaan dengan amalan mana yang terbaik yang harus dilakukan. Dengan soalan yang sama, kita akan dapati bahawa Nabi :saw akan memberi beberapa variasi jawaban. Kesemuanya di kategorikan sebagai amalan soleh yang afdal untuk dilakukan.
(a) Dari Abu Zar al-Ghaffari, mereka telah bertanya Nabi :saw :-
أي العمل أفضل ؟ قال : إيمان بالله ، وجهاد في سبيله
"Amalan manakah yang paling utama? Nabi :saw menjawab : Beriman dengan Allah, dan berjihad dijalannya" [Riwayat Bukhari, al-Jaami al-Sahih #2518]
(b) Dari Abdullah bin Mas'ud, mereka telah bertanya Nabi :saw :-
. أي العمل أفضل ؟ قال : الصلاة على ميقاتها قلت : ثم أي ؟ قال : ثم بر الوالدين . قلت : ثم أي ؟ قال : الجهاد في سبيل الله
"Amalan manakah yang paling utama? Nabi :saw menjawab : Bersolatlah pada waktynya. Aku berkata : kemudian apa? Nabi bersabda : berbuat baiklah kepada kedua ibu-bapa. Aku berkata : kemudian apa lagi?. Nabi bersabda : berjihad dijalan Allah" [Riwayat Bukhari, al-Jaami al-Sahih #2782]
(c) Dari Abu Hurairah ra. : mereka telah bertanya Nabi :saw :-
أي العمل أفضل ؟ فقال : إيمان بالله ورسوله . قيل : ثم ماذا ؟ قال : الجهاد في سبيل الله . قيل : ثم ماذا ؟ قال : حج مبرور .
"Amalan manakah yang paling utama? Nabi :saw menjawab : beriman dengan Allah dan Rasulnya. Mereka berkata : kemudian apa lagi? Nabi bersabda : Berjihad pada Jalan Allah. Mereka berkata : kemudian apa lagi? Nabi bersabda : Haji yang mabrur" [Riwayat Bukhari, al-Jaami al-Sahih #26]
Berdasarkan 3 contoh hadith diatas ini, apakah jawaban Nabi :saw bercanggah? Sudah tentu tidak, Nabi :saw memberi beberapa alternatif untuk umatnya agar melakukan amalan soleh yang baginda rekomen. Begitu jugalah hadith berkenaan dengan tarikh Lailatul Qadar, dimana Nabi :saw memberi beberapa petunjuk mengenai hari tersebut. Kedatangan Lailatul Qadar sentiasa menjadi tarikh misteri agar umat Islam melipat gandakan amalan mereka didalam bulan Ramadhan, lebih-lebih pada 10 malam terakhir. Dengan kata lain, jika tidak mampu setiap buat setiap malam, lakukan pada malam-malam ganjil, atau beramallah pada malam 25, 27 dan 29 Ramadhan.
Carilah Lailatul Qadar
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Syeikh Dr Yusuf al-Qardhawi, Lailatul Qadar adalah milik semua umat Islam yang menanti kedatangannya. al-Qaradhawi menegaskan bahawa hanya orang yang BIJAK sahaja yang benar-benar menantikan Lailatul Qadar. Mana mungkin seseorang itu melepaskan ganjaran keuntungan 3,000,000% (ثلاثة ملايين في المائة؟) ??? Iaitu ganjaran melakukan amalan 1,000 bulan yang menyerupai 83 tahun 4 bulan yang hanya dapat dikecapi pada satu malam.
Umat Islam di galakkan mencari Lailatul Qadar pada setiap bulan Ramadhan. Banyak hadith-hadith sahih yang menceritakan kelebihan beribadat pada malam Lailatul Qadar. Contohnya, hadith dari Abu Hurairah ra :-
من قام ليلة القدر إيمانًا واحتسابًا غُفر له ما تقدم من ذنبه
Barangsiapa yang berqiam pada malam al-Qadar dengan beriman dan penuh pengharapan, Allah akan mengampunkan dosanya yang lalu" [Hadith Riwayat Bukhari].
Hadith dibawah jelas menunjukkan bahawa Nabi :saw menggalakkan umatnya mencari Lailatul Qadar pada 7 malam terakhir. Sabda Nabi :saw :-
أرى رؤياكم قد تواطأت (أي توافقت) في السبع الأواخر، فمن كان متحريها، فليتحرها في السبع الأواخر
"Aku melihat mimpi kamu telah bertemu (Lailatul Qadar) pada 7 malam terakhir, maka barangsiapa hendak mencarinya, maka carilah pada tujuh malam terakhir" [Mutafaq 'alaih dari Ibn Umar ra].
Begitu juga dengan hadith berikut menggalakkan umat Islam mencari Lailatul Qadar pada 10 malam terakhir Ramadhan. Sabda baginda :saw :-
التمسوها في العشر الأواخر، فإن ضعف أحدكم أو عجز، فلا يُغلبن على السبع البواقي
"Carilah ia pada 10 malam terakhir, jika salah seorang dari kamu dhaef (lemah) atau uzur, maka janganlah dikalah pada 7 malam yang berbaki" [Hadith riwayatkanoleh Ahmad, Muslim, dari Ibn Umar ra].
Hadith-hadith ini jelas menunjukkan bahawa umat Islam digalakkan mencari Lailatul Qadar pada setiap kali kedatangan bulan Ramadhan. Cuma terdapat segelintir mereka yang menggelarkan diri mereka sebagai kumpulan "al-Quran alone" atau dikenali sebagai GAH (Golongan Anti Hadith) mengatakan bahawa Lailatul Qadar hanya berlaku sekali sahaja, iaitu pada masa penurunan al-Quran.
Pandangan ini jelas bercanggah dengan hadith-hadith sahih. Mana mungkin baginda menyuruh umatnya mencari Lailatul Qadar sedangkan al-Quran belum lagi diturunkan kepada baginda (kerana masih berada di langit dunia)?? Malah sejarah membuktikan bahawa Nabi :saw sendiri pada 10 malam terakhir Ramadhan akan beriktikaf di masjid dan membangunkan ahli keluarganya. Disini kita lihat bahawa mereka ini melakukan tafsiran menurut akal mereka dan membelakangkan hadith-hadith yang sahih. Namun demikian, mereka tidak dapat lari dari hakikat menggunakan pandangan ulama' bagi mentafsir maksud al-Quran itu sendiri, yang sudah tentunya ulama tafsir menjadikan hadith Nabi :saw sebagai dasar.
Sekian, wassalam
Posted by kamin at 2:03 PM 0 comments
Didalam kesibukan umat Islam menanti kedatangan satu malam yang penuh kemuliaan, iaitu Lailatul Qadar, ada pula dikalangan mereka yang cuba mencucuk jarum pemikiran umat Islam dengan mengatakan penantian Lailatul Qadar itu merupakan suatu penantian yang sia-sia dan sesat belaka! Bagi mereka, Lailatul Qadar hanyalah suatu catatan sejarah yang dipaparkan didalam surah al-Qadar. Mereka berpendapat bahawa Lailatul Qadar hanya berlaku sekali sahaja, iaitu pada malam penurunan al-Quran.
Salah satu keadah yang digunakan adalah dengan cara menimbulkan kekeliruan dikalangan umat Islam berkenaan dengan hadith-hadith didalam Kitab Sahih Bukhari dan juga Kitab Sahih Muslim, iaitu memaparkan beberapa malam yang berbeza-beza dijangkakan berlaku Lailtul Qadar. Misalnya didalam hadith riwayat Imam Bukhari, dari Ibn Umar ra, Nabi :saw menyeru agar umat Islam mencari Lailatul Qadar pada tujuh (7) malam terakhir. Didalam hadith yang lain pula, dari A'isyah ra. Nabi :saw menyeru agar umat Islam mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil pada 10 malam terakhir. Dipaparkan beberapa hadith Imam Muslim yang menjelaskan malam-malam tertentu kedatangan Lailatul Qadar misalnya pada malam 25, 27, dan 29.
Penulis tersebut memberi kesimpulan : "Semua hadis tersebut adalah bercanggah, anih dan tidak boleh dipercayai. Tidak terdapat satu pun hadis yang mengatakan bahawa Nabi atau sahabat pernah terjumpa lailatul Qadar itu."
Tambah penulis tersebut : "Quran itu diturunkan kepada Nabi sekali sahaja dalam waktu hayatnya. Maka peristiwa lailatul Qadar itu tentulah juga sekali sahaja dan tidak akan berulang lagi hingga hari kiamat. Oleh itu, menunggu-nunggu kedatangan lailatul Qadar nyatalah amalan sesat dan sia-sia."
Mentafsir surah al-Qadr
Dalil yang diberikan oleh golongan ini adalah sebagaimana Firman Allah swt didalam surah al-Qadr :-
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
"Sesungguhnya kami telah menurutkan NYA pada malam al-Qadar" [al-Qadr : 1]
Penulis tersebut menjelaskan :"Ayat 97:1 menjelaskan bahawa malam qadr itu berlaku sekali sahaja iaitu satu malam waktu Quran diturunkan. Malam itulah yang dikatakan lebih baik daripada seribu bulan dimana Malaikat dan Roh juga turun.
Quran itu telah diturunkan pada bulan Ramadan, seperti yang dijelaskan di dalam ayat 2:185. "Bulan Ramadan yang padanya al-Qur'an diturunkan untuk menjadi satu petunjuk bagi manusia.."
Persoalannya sekarang adalah, perkataan HU atau NYA didalam Anzalna merujuk kepada apa? Penulis tersebut menjelaskan bahawa HU itu merujuk kepada al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan sepertimana didalam surah al-Baqarah ayat 185. Dengan hanya menggunakan kaedah tafsir al-Quran bi al-Quran, tidak mungkin seseorang itu dapat mengaitkan diantara kedua-dua surah ini; iaitu surah al-Qadar ayat 1 dan al-Baqarah ayat 185.
Keseluruhan surah al-Qadr tidak membayangkan :
a. Apa benda yang Allah swt turunkan pada malam al-Qadr?
b. Lailatul Qadar itu berlaku pada bulan apa?
Sudah tentu penulis tersebut secara diam-diam telah merujuk kepada kitab tafsir atau catatan-catatan mufassirin (ulama' tafsir) yang menjelaskan bahawa HU didalam ayat 1 surah al-Qadr merujuk kepada al-Quran, dan al-Quran diturunkan pada malam Ramadhan sebagaimana yang disebut didalam surah al-Baqarah ayat 185. Para ulama' tafsir ini juga menggunakan hadith-hadith Nabi :saw dan pandangan-pandangan sahabat didalam mentafsirkan dan mengaitkan ayat-ayat ini! Penafsiran ini juga menunjukkan mereka juga bergantung kepada hadith Nabi :saw didalam beberapa keadaan dan menafikannya didalam keadaan yang lain. Bagaikan talam dua muka.
Lailatul Qadar berlaku hanya pada malam penurunan al-Quran?
Menurut Ibn Abbas ra. (didalam Tafsir ibn Kathir), al-Quran diturunkan sekali gus (Jumlatun Wahidah) dari al-Luh al-Mahfuz ke Baitul al-Izzah (dari Langit Dunia), kemudian barulah diturunkan sedikit demi sedikit kepada Nabi :saw selama 23 tahun melalui Jibril as. Berdasarkan kenyataan bahawa pada masa itu sahajalah berlaku Lailatul Qadar, maka persoalannya sekarang : pada masa itu, Nabi :saw masih belum lagi menerima wahyu pertamanya!?. Mana mungkin baginda menyuruh umatnya mencari Lailatul Qadar sedangkan al-Quran belum lagi diturunkan kepada baginda (dari langit dunia)??
Firman Allah swt seterusnya didalam surah al-Qadr [ayat 3 hingga 5] :
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ.
"Malam Lailatul-Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Pada Malam itu, turun malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun yang berikut); Sejahteralah Malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar! "
Bagaimana pula seruan ayat diatas ini dapat dinikmati oleh umat Nabi :saw, iaitu ganjarannya beribadat selama 1,000 bulan jika peristiwa Lailatul Qadar tidak berulang lagi. Kalau benar ia hanya berlaku pada malam penurunan al-Quran, tidak perlulah Jibril as dan malaikat yang lain turun membawa rahmat, kerana pada masa itu al-Quran hanya sampai di Langit Dunia, dan baginda Rasul :saw belum lagi menerima surah al-Qadr.
Hadith Lailatul Qadar saling bercanggah?
Apakah hadith-hadith ini bercanggah diantara satu sama lain? Sudah tentu tidak. Ia merupakan tips yang di berikan oleh Nabi :saw kepada umatnya untuk mempertingkat amalan pada sepuluh malam terakhir. Mereka yang mengatakan bahawa hadith-hadith ini bercanggah adalah mereka yang tidak mengetahui uslub dan keadah hadith.
Lihat beberapa contoh hadith yang menceritakan berkenaan dengan amalan mana yang terbaik yang harus dilakukan. Dengan soalan yang sama, kita akan dapati bahawa Nabi :saw akan memberi beberapa variasi jawaban. Kesemuanya di kategorikan sebagai amalan soleh yang afdal untuk dilakukan.
(a) Dari Abu Zar al-Ghaffari, mereka telah bertanya Nabi :saw :-
أي العمل أفضل ؟ قال : إيمان بالله ، وجهاد في سبيله
"Amalan manakah yang paling utama? Nabi :saw menjawab : Beriman dengan Allah, dan berjihad dijalannya" [Riwayat Bukhari, al-Jaami al-Sahih #2518]
(b) Dari Abdullah bin Mas'ud, mereka telah bertanya Nabi :saw :-
. أي العمل أفضل ؟ قال : الصلاة على ميقاتها قلت : ثم أي ؟ قال : ثم بر الوالدين . قلت : ثم أي ؟ قال : الجهاد في سبيل الله
"Amalan manakah yang paling utama? Nabi :saw menjawab : Bersolatlah pada waktynya. Aku berkata : kemudian apa? Nabi bersabda : berbuat baiklah kepada kedua ibu-bapa. Aku berkata : kemudian apa lagi?. Nabi bersabda : berjihad dijalan Allah" [Riwayat Bukhari, al-Jaami al-Sahih #2782]
(c) Dari Abu Hurairah ra. : mereka telah bertanya Nabi :saw :-
أي العمل أفضل ؟ فقال : إيمان بالله ورسوله . قيل : ثم ماذا ؟ قال : الجهاد في سبيل الله . قيل : ثم ماذا ؟ قال : حج مبرور .
"Amalan manakah yang paling utama? Nabi :saw menjawab : beriman dengan Allah dan Rasulnya. Mereka berkata : kemudian apa lagi? Nabi bersabda : Berjihad pada Jalan Allah. Mereka berkata : kemudian apa lagi? Nabi bersabda : Haji yang mabrur" [Riwayat Bukhari, al-Jaami al-Sahih #26]
Berdasarkan 3 contoh hadith diatas ini, apakah jawaban Nabi :saw bercanggah? Sudah tentu tidak, Nabi :saw memberi beberapa alternatif untuk umatnya agar melakukan amalan soleh yang baginda rekomen. Begitu jugalah hadith berkenaan dengan tarikh Lailatul Qadar, dimana Nabi :saw memberi beberapa petunjuk mengenai hari tersebut. Kedatangan Lailatul Qadar sentiasa menjadi tarikh misteri agar umat Islam melipat gandakan amalan mereka didalam bulan Ramadhan, lebih-lebih pada 10 malam terakhir. Dengan kata lain, jika tidak mampu setiap buat setiap malam, lakukan pada malam-malam ganjil, atau beramallah pada malam 25, 27 dan 29 Ramadhan.
Carilah Lailatul Qadar
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Syeikh Dr Yusuf al-Qardhawi, Lailatul Qadar adalah milik semua umat Islam yang menanti kedatangannya. al-Qaradhawi menegaskan bahawa hanya orang yang BIJAK sahaja yang benar-benar menantikan Lailatul Qadar. Mana mungkin seseorang itu melepaskan ganjaran keuntungan 3,000,000% (ثلاثة ملايين في المائة؟) ??? Iaitu ganjaran melakukan amalan 1,000 bulan yang menyerupai 83 tahun 4 bulan yang hanya dapat dikecapi pada satu malam.
Umat Islam di galakkan mencari Lailatul Qadar pada setiap bulan Ramadhan. Banyak hadith-hadith sahih yang menceritakan kelebihan beribadat pada malam Lailatul Qadar. Contohnya, hadith dari Abu Hurairah ra :-
من قام ليلة القدر إيمانًا واحتسابًا غُفر له ما تقدم من ذنبه
Barangsiapa yang berqiam pada malam al-Qadar dengan beriman dan penuh pengharapan, Allah akan mengampunkan dosanya yang lalu" [Hadith Riwayat Bukhari].
Hadith dibawah jelas menunjukkan bahawa Nabi :saw menggalakkan umatnya mencari Lailatul Qadar pada 7 malam terakhir. Sabda Nabi :saw :-
أرى رؤياكم قد تواطأت (أي توافقت) في السبع الأواخر، فمن كان متحريها، فليتحرها في السبع الأواخر
"Aku melihat mimpi kamu telah bertemu (Lailatul Qadar) pada 7 malam terakhir, maka barangsiapa hendak mencarinya, maka carilah pada tujuh malam terakhir" [Mutafaq 'alaih dari Ibn Umar ra].
Begitu juga dengan hadith berikut menggalakkan umat Islam mencari Lailatul Qadar pada 10 malam terakhir Ramadhan. Sabda baginda :saw :-
التمسوها في العشر الأواخر، فإن ضعف أحدكم أو عجز، فلا يُغلبن على السبع البواقي
"Carilah ia pada 10 malam terakhir, jika salah seorang dari kamu dhaef (lemah) atau uzur, maka janganlah dikalah pada 7 malam yang berbaki" [Hadith riwayatkanoleh Ahmad, Muslim, dari Ibn Umar ra].
Hadith-hadith ini jelas menunjukkan bahawa umat Islam digalakkan mencari Lailatul Qadar pada setiap kali kedatangan bulan Ramadhan. Cuma terdapat segelintir mereka yang menggelarkan diri mereka sebagai kumpulan "al-Quran alone" atau dikenali sebagai GAH (Golongan Anti Hadith) mengatakan bahawa Lailatul Qadar hanya berlaku sekali sahaja, iaitu pada masa penurunan al-Quran.
Pandangan ini jelas bercanggah dengan hadith-hadith sahih. Mana mungkin baginda menyuruh umatnya mencari Lailatul Qadar sedangkan al-Quran belum lagi diturunkan kepada baginda (kerana masih berada di langit dunia)?? Malah sejarah membuktikan bahawa Nabi :saw sendiri pada 10 malam terakhir Ramadhan akan beriktikaf di masjid dan membangunkan ahli keluarganya. Disini kita lihat bahawa mereka ini melakukan tafsiran menurut akal mereka dan membelakangkan hadith-hadith yang sahih. Namun demikian, mereka tidak dapat lari dari hakikat menggunakan pandangan ulama' bagi mentafsir maksud al-Quran itu sendiri, yang sudah tentunya ulama tafsir menjadikan hadith Nabi :saw sebagai dasar.
Sekian, wassalam
Posted by kamin at 2:03 PM 0 comments
Malam al-Qadar (Lailatul Qadar) Di Bulan Ramadhan
Malam al-Qadar (Lailatul Qadar) Di Bulan Ramadhan
http://fiqh-sunnah.blogspot.com
Keutamaan Lailatul Qadar sangat besar kerana malam tersebut menyaksikan turunnya al-Qur’an al-Karim, iaitu kitabullah yang menjadi petunjuk bagi mereka yang berpegang dengannya kepada jalan kemuliaan dan mengangkat ke darjat yang mulia dan abadi. Umat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak perlu mengguna pakai tanda-tanda tertentu dan tidak pula memasang lampu-lampu pelita untuk memperingati malam ini, akan tetapi mereka wajar untuk berlumba-lumba bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.
Berikut ini adalah di antara keutamaan malam Lailatul Qadar berdasarkan dalil-dalil yang sahih.
1. Keutamaan Lailatul Qadar (Malam al-Qadar)
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahawasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan dan merupakan malam yang diberkahi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami menurunkan al-Qur’an pada malam al-Qadar, tahukah engkau apakah malam al-Qadar itu? Malam al-Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka (untuk mengatur) segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sehingga terbit fajar.” (al-Qadar, 97: 1-5)
Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yagn penuh hikmah:
“Sesungguhnya Kami menurunkan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (iaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (ad-Dukhan, 44: 3-6)
2. Waktunya
Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bahawa malam tersebut terjadi pada tanggal malam ke 21, 23, 25, 27, 29 dan malam-malam terakhir dari bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang terdapat dalam masalah ini berbeza-beza, Imam al-Iraqi telah mengarang suatu risalah khusus yang diberi judul Syarhush Shadr bi Dzikri Lailatil Qadar yang membawakan perkataan para ulama berkaitan permasalahan ini)
Imam asy-Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab bertepatan dengan yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, “Adakah kami mencarinya di malam ini?” Beliau menjawab, “Carilah di malam tersebut”.”
Pendapat yang paling kuat, terjadinya Lailatul Qadar itu pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahawa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/225) dan Muslim (1169))
Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sehingga terluput dari tujuh hari terakhir, kerana riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka janganlah sampai terluput tujuh hari yang selebihnya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/221) dan Muslim (1165))
“Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, barangsiapa yang mencarinya carilah pada tujuh hari terakhir.”
Telah diketahui di dalam as-sunnah, pemberitahuan ini wujud adalah kerana pada masa itu berlaku perselisihan di antara para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar pada malam al-Qadar, ada dua orang sahabat berdabat, beliau bersabda:
“Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kamu berkenaan Lailatul Qadar, tetapi ada dua orang sedang berselisih sehingga pengetahuan berkenaannya tidak diberikan. Mudah-mudahan ini lebih baik bagi kamu, carilah di malam 29, 27, 25 (dan dalam riwayat lain, pada malam ke tujuh, sembilan dan lima).” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/232))
Telah banyak hadis yang mengisyaratkan bahawa Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadis yang pertama sifatnya umum, manakala hadis kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum. Dan ada beberapa hadis yang lain turut menjelaskan bahawa Lailatul Qadar itu berlaku pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan dan yang ini terikat kepada yang mengalami ketidakmampuan dan kelemahan, sehingga tidak ada masalah. Makanya, di sini hadis-hadis yang berkaitan adalah saling bersesuaian dan tidak bertentangan.
Kesimpulannya, jika seorang muslim ingin mencari Lailatul Qadar, maka carilah ia pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, 21, 23, 25, 27 dan 29. Sekiranya tidak berupaya mencarinya pada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam-malam ganjil tujuh hari terakhir iaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.
3. Bagaimana Mencari Lailatul Qadar
Sesungguhnya malam yang diberkahi ini barangsiapa yang terhalang dari mendapatkannya, maka bererti dia telah terhalang dari seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah terhalang dari kebaikan itu melainkan (bagi) orang yang rugi. Oleh kerana itu dianjurkan bagi kaum muslimin (agar) bersemangat dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan terhadap pahala-Nya yang besar, jika telah berbuat demikian niscaya akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa berdiri (solat) pada malam al-Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/217) dan Muslim (759))
Disunnahkan untuk memperbanyakkan do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahawa dia bertanya, “Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mendapat Lailatul Qadar (mengetahui terjadinya), apa yang mesti aku ucapkan?” Beliau menjawab,
“Ucapkanlah, Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan Mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Sanadnya sahih)
Semoga Allah memberkati dan memberi taufiq kepada kita dalam usaha mentaati-Nya. Berdasarkan beberapa penjelasan tadi, maka kita telah mengetahui serba sedikit bagaimana keadaan Lailatul Qadar dan keutamaannya untuk berusaha mendapatkannya. Maka wajarlah kita berusaha untuk bangun (menegakkan ibadah, solat, dan berdoa) pada sepuluh malam-malam yang terakhir. Bersungguh-sungguhlah dalam menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi hubungan suami isteri. Juga perintahkanlah kepada keluarga kita untuk tujuan yang sama iaitu memperbanyakkan perbuatan ketaatan.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam apabila memasuki sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau memperkuatkan ikatan kainnya sambil menghidupkan malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/233) dan Muslim (1174))
Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
“Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh (dalam beribadah) apabila telah masuk sepuluh malam terakhir yang tidak beliau lakukan pada malam-malam pada bulan selainnya.” (Hadis Riwayat Muslim (1174))
4. Tanda-Tandanya
Mudah-mudahan Allah membantu kita dengan pertolongan-Nya dalam memahami datangnya malam al-Qadar. Dalam hal ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menggambarkan (menyifatkan) paginya Lailatul Qadar agar seseorang muslim dapat mengetahuinya.
Dari ‘Ubai radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Pagi hari (setelah) Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan (tanpa sinar), seakan-akan ia bejana sehinggalah ia meninggi.” (Hadis riwayat Muslim (762))
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau bersabda:
“Siapa di antara kalian yang masih ingat ketika terbit bulan yang ianya seperti syiqi jafnah (separuh mangkuk).” (Hadis Riwayat Muslim (1170). Kalimat syiqi jafnah, syiq membawa erti setengah, jafnah pula ertinya bejana. Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Dalam hadis ini menunjukkan isyarat bahawa Lailatul Qadar hanya di akhir bulan, kerana bulan tidak akan berbentuk (berupa) sedemikian rupa ketika terbit melainkan ketika di akhir-akhir bulan”)
Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Malam al-Qadar adalah malam yang indah penuh kelembutan, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin. Manakala pada keesokan harinya sinar mataharinya kelihatan melemah kemerah-merahan.” (Hadis Riwayat ath-Thayalisi (394), Ibnu Khuzaimah (3/231), al-Bazzar (1/486) dan sanadnya hasan)
http://fiqh-sunnah.blogspot.com
Keutamaan Lailatul Qadar sangat besar kerana malam tersebut menyaksikan turunnya al-Qur’an al-Karim, iaitu kitabullah yang menjadi petunjuk bagi mereka yang berpegang dengannya kepada jalan kemuliaan dan mengangkat ke darjat yang mulia dan abadi. Umat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak perlu mengguna pakai tanda-tanda tertentu dan tidak pula memasang lampu-lampu pelita untuk memperingati malam ini, akan tetapi mereka wajar untuk berlumba-lumba bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.
Berikut ini adalah di antara keutamaan malam Lailatul Qadar berdasarkan dalil-dalil yang sahih.
1. Keutamaan Lailatul Qadar (Malam al-Qadar)
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahawasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan dan merupakan malam yang diberkahi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami menurunkan al-Qur’an pada malam al-Qadar, tahukah engkau apakah malam al-Qadar itu? Malam al-Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka (untuk mengatur) segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sehingga terbit fajar.” (al-Qadar, 97: 1-5)
Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yagn penuh hikmah:
“Sesungguhnya Kami menurunkan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (iaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (ad-Dukhan, 44: 3-6)
2. Waktunya
Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bahawa malam tersebut terjadi pada tanggal malam ke 21, 23, 25, 27, 29 dan malam-malam terakhir dari bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang terdapat dalam masalah ini berbeza-beza, Imam al-Iraqi telah mengarang suatu risalah khusus yang diberi judul Syarhush Shadr bi Dzikri Lailatil Qadar yang membawakan perkataan para ulama berkaitan permasalahan ini)
Imam asy-Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab bertepatan dengan yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, “Adakah kami mencarinya di malam ini?” Beliau menjawab, “Carilah di malam tersebut”.”
Pendapat yang paling kuat, terjadinya Lailatul Qadar itu pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahawa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/225) dan Muslim (1169))
Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sehingga terluput dari tujuh hari terakhir, kerana riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka janganlah sampai terluput tujuh hari yang selebihnya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/221) dan Muslim (1165))
“Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, barangsiapa yang mencarinya carilah pada tujuh hari terakhir.”
Telah diketahui di dalam as-sunnah, pemberitahuan ini wujud adalah kerana pada masa itu berlaku perselisihan di antara para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar pada malam al-Qadar, ada dua orang sahabat berdabat, beliau bersabda:
“Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kamu berkenaan Lailatul Qadar, tetapi ada dua orang sedang berselisih sehingga pengetahuan berkenaannya tidak diberikan. Mudah-mudahan ini lebih baik bagi kamu, carilah di malam 29, 27, 25 (dan dalam riwayat lain, pada malam ke tujuh, sembilan dan lima).” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/232))
Telah banyak hadis yang mengisyaratkan bahawa Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadis yang pertama sifatnya umum, manakala hadis kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum. Dan ada beberapa hadis yang lain turut menjelaskan bahawa Lailatul Qadar itu berlaku pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan dan yang ini terikat kepada yang mengalami ketidakmampuan dan kelemahan, sehingga tidak ada masalah. Makanya, di sini hadis-hadis yang berkaitan adalah saling bersesuaian dan tidak bertentangan.
Kesimpulannya, jika seorang muslim ingin mencari Lailatul Qadar, maka carilah ia pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, 21, 23, 25, 27 dan 29. Sekiranya tidak berupaya mencarinya pada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam-malam ganjil tujuh hari terakhir iaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.
3. Bagaimana Mencari Lailatul Qadar
Sesungguhnya malam yang diberkahi ini barangsiapa yang terhalang dari mendapatkannya, maka bererti dia telah terhalang dari seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah terhalang dari kebaikan itu melainkan (bagi) orang yang rugi. Oleh kerana itu dianjurkan bagi kaum muslimin (agar) bersemangat dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan terhadap pahala-Nya yang besar, jika telah berbuat demikian niscaya akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa berdiri (solat) pada malam al-Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/217) dan Muslim (759))
Disunnahkan untuk memperbanyakkan do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahawa dia bertanya, “Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mendapat Lailatul Qadar (mengetahui terjadinya), apa yang mesti aku ucapkan?” Beliau menjawab,
“Ucapkanlah, Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan Mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Sanadnya sahih)
Semoga Allah memberkati dan memberi taufiq kepada kita dalam usaha mentaati-Nya. Berdasarkan beberapa penjelasan tadi, maka kita telah mengetahui serba sedikit bagaimana keadaan Lailatul Qadar dan keutamaannya untuk berusaha mendapatkannya. Maka wajarlah kita berusaha untuk bangun (menegakkan ibadah, solat, dan berdoa) pada sepuluh malam-malam yang terakhir. Bersungguh-sungguhlah dalam menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi hubungan suami isteri. Juga perintahkanlah kepada keluarga kita untuk tujuan yang sama iaitu memperbanyakkan perbuatan ketaatan.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam apabila memasuki sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau memperkuatkan ikatan kainnya sambil menghidupkan malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/233) dan Muslim (1174))
Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
“Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh (dalam beribadah) apabila telah masuk sepuluh malam terakhir yang tidak beliau lakukan pada malam-malam pada bulan selainnya.” (Hadis Riwayat Muslim (1174))
4. Tanda-Tandanya
Mudah-mudahan Allah membantu kita dengan pertolongan-Nya dalam memahami datangnya malam al-Qadar. Dalam hal ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menggambarkan (menyifatkan) paginya Lailatul Qadar agar seseorang muslim dapat mengetahuinya.
Dari ‘Ubai radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Pagi hari (setelah) Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan (tanpa sinar), seakan-akan ia bejana sehinggalah ia meninggi.” (Hadis riwayat Muslim (762))
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau bersabda:
“Siapa di antara kalian yang masih ingat ketika terbit bulan yang ianya seperti syiqi jafnah (separuh mangkuk).” (Hadis Riwayat Muslim (1170). Kalimat syiqi jafnah, syiq membawa erti setengah, jafnah pula ertinya bejana. Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Dalam hadis ini menunjukkan isyarat bahawa Lailatul Qadar hanya di akhir bulan, kerana bulan tidak akan berbentuk (berupa) sedemikian rupa ketika terbit melainkan ketika di akhir-akhir bulan”)
Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Malam al-Qadar adalah malam yang indah penuh kelembutan, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin. Manakala pada keesokan harinya sinar mataharinya kelihatan melemah kemerah-merahan.” (Hadis Riwayat ath-Thayalisi (394), Ibnu Khuzaimah (3/231), al-Bazzar (1/486) dan sanadnya hasan)
Subscribe to:
Posts (Atom)